Blogger news

Pages

Minggu, 24 Februari 2013



Dan hal apakah yang kusuka dari kota tuaku Purworejo?

Adalah bersepeda, entah di pagi, siang, sore bahkan di malam hari mengitari pusat kota hingga pedesaan kecilnya. Setiap orang pasti menganggap bahwa kota mereka adalah kota terbaik dan mereka bangga dilahirkan di kota itu. Pun begitu juga aku. Aku bangga dilahirkan sebagai anak muda Purworejo yang kerap diidentikkan sebagai kota tua bekas basis kependudukan Belanda. Aku sebut demikian sebab merujuk pada catatan sejarah bahwa lokasi di sekitar tempat tinggalku penuh dengan bangunan bekas Belanda, mulai dari stasiun, rumah-rumah kosong, bekas pabrik roti, batalyon infanteri sampai sekolah SMP dan SMA-ku pun berdesain gaya Belanda yang tinggi dan berjendela seukuran pintu itu.

Tiba-tiba aku tertarik untuk mempromosikan kotaku. Seolah aku adalah duta wisata Purworejo, namun aku tak akan menggambarkan kotaku secara muluk-muluk. Sebab apa yang digambarkan terlalu indah dan tinggi pemakaian gaya bahasanya, terkadang kontras dengan apa yang ada pada kenyataannya. Hal itu beresiko tinggi pada tingkat kekecewaan orang yang telah termakan deskripsi yang terlalu tinggi itu. Sedang aku tak ingin melakukan hal tersebut. Aku hanya mengisahkan bagaimana perjalanan bersepeda mengitari kotaku menjadi pengalaman yang mengingatkanku pada masa SMA dulu.

Andaikata ada temanku yang berkunjung ke rumahku, aku punya tempat destinasi pertama yang akan didatangi. Yaitu sungai Bogowonto. Ya, sungai biasa sih, seperti sungai-sungai pada umumnya. Hanya saja kalau kita menemukan pagi yang indah, maka kita bisa berfoto ria dengan latar belakang Jembatan Buhliwung yang indah siluetnya itu. Kalau kamu membaca postingan sebelumnya, kamu pasti akan langsung paham bahwa sungai inilah yang pernah kuceritakan mempunyai kisah mistis berupa suara karawitan di tengah malam. Meski legenda itu sudah tak berlaku lagi sekarang, setidaknya kamu bisa langsung terjun ke lapangan dan menganalisa sendiri mengapa fenomena ini bisa terjadi di sungai yang sudah digunakan sebagai sarana transportasi sejak kependudukan Kerajaan Mataram ini.

Bagi kamu yang hobi makan mie ayam, dengan senang hati aku akan mengajakmu ke Warung Mie Ayam Putri Solo. Namun jangan menanyakan kepadaku mengapa warung mie ayam itu dinamai demikian. Apakah pemiliknya orang Solo asli, istrinya orang Solo, perangai di pemilik sehalus karakter orang Solo atau spekulasi lainnya yang berputar-putar tentang wong Solo, aku tak begitu cermat bertanya-tanya hingga sejauh itu. Hanya saja, cita rasa mie ayam di sana belum ada yang menandinginya. Dengan mengeluarkan uang Rp 5.500,00, kita bisa menikmati mie ayam pangsit full portion dengan kelebihan daging ayam yang besar-besar serta kuah yang maha dahsyat nikmatnya. Setelah menikmati mie ayam, pastinya kamu akan kehausan. Maka sebaiknya kita berkunjung ke depot es jus Lor Pusaka. Demikianlah aku menyebutnya. Depot es jus ini sudah ada sejak aku masih kecil. Penjualnya masih itu-itu saja, ibu-ibu beragama Nasrani yang sangat halus tutur katanya. Aku tak tahu namanya. Pun aku juga tak tahu tempat itu bernama apa. Sehingga, secara sembarangan aku menyebut tempat itu sebagai depot es jus lor pusaka. Maksudnya tempat itu terletak di sebelah utara gedung bioskop Pusaka. Padahal, asal kamu tahu, gedung bioskop itu telah lama ditutup paksa lantaran terlalu sering memutar film amoral. Dan siapakah dalang di balik penutupan gedung bioskop yang pernah mengalami masa keemasan ketika aku masih kelas 1 SD itu? Adalah pondok pesantren asuhan Mbah Kyai Toifur yang terkenal tegas perangainya tersebut.

Tak lupa kita masih punya destinasi kuliner utama sambil menikmati durian di Kecamatan Sumongari, Kaligesing. Di tempat ini, durian yang dijual dekat sekali dengan pohonnya. Dengan harga yang bisa ditawar tentu saja, kita bisa menikmati durian yang enaknya sudah terkenal di seluruh Indonesia ini. Bagaimana tidak, TVOne pernah mengangkat tema durian Sumongari di salah satu acaranya. Selain Sumongari, kita masih punya sentra produksi buah berduri tajam ini yaitu Kecamatan Bruno, dan Kecamatan Bagelen. Selain itu, di Kecamatan Butuh, kecamatan paling barat dari Kabupaten Purworejo sekaligus berbatasan langsung dengan Kabupaten Kebumen, kita punya makanan khas berupa dawet ireng. Makanan ini asli berasal dari kecamatan itu dan mudah dijumpai di sepanjang jalan protokol Purworejo-Kebumen. Tentu saja cita rasanya berbeda dengan dawet kebanyakan. Penasaran? Why don’t you just come by to my town? Melengkapi daftar kunjungan, kita bisa mencoba memilih dan membeli buah-buah kesukaan kita ke Perempatan Pasar Kembang. Di sinilah pusat buah-buahan segar di Purworejo. Berbagai macam jenis buah tersedia di sini dengan tatanan semacam di supermarket. Kita bisa memilih buah yang akan kita beli termasuk bisa menawar bila harganya kurang ramah dengan kantong kita.

Tak seru juga kalau kita hanya memikirkan urusan perut. Kita bisa berkunjung ke Masjid Besar Darrul Muttaqin. Masjid agung ini terletak di sebelah barat alun-alun Purworejo. Jangan heran, masjid ini adalah salah satu masjid tertua di kabupaten ini. Dibangun sekitar tahun 1800-an dan mempunyai ikon berupa Bedug Pendawa. Bedug ini dibuat dari satu buah gelondongan kayu jati Pendawa utuh yang dibawa langsung dari Kecamatan Bagelen dan jangan heran, bedug kebanggaan kabupatenku ini menyabet gelar bedug terbesar di dunia. Tak hanya itu, kabupatenku juga bisa disebut surganya pesantren. Ada pesantren An-Nawawi yang diasuh oleh Kyai Chalwani Nawawi. Kyai besar yang pernah ngaji bareng Syeh Dimyati ini mempunyai pesantren sekaligus madrasah lengkap dengan universitas. Masih banyak pesantren yang ada di sekitarnya. Bukannya apa-apa, sekedar informasi saja, rumahku saja dikelilingi oleh 3 pesantren sekaligus. Sehingga tak heran jika setiap hari lingkunganku pasti dilalui oleh santri yang sibuk dengan urusan mengaji mereka.

Dan untuk kamu yang ingin berpetualang dengan jalan kaki, no motorcycle allowed sebab medan yang akan kita kunjungi berupa pegunungan. Kita bisa berziarah ke makam Mbah Kyai Imam Puro. Beliau adalah ulama besar yang ikut andil dalam babat alas Purworejo. Sedangkan makam beliau terletak di daerah pegunungan sebelah utara kota dan hampir masuk ke Kecamatan Bruno. Jika bersedia, setelah kita ziarah, kita bisa meneruskan naik pendakian untuk sampai di summit alias puncak. Di sana ada gazebo besar untuk gardu pantau kota Purworejo. Jangan kaget, dari sini kita bisa melihat Kabupaten Purworejo dari atas.

Tak usah khawatir soal jaringan nirkabel kalau sudah masuk ke dalam area Purworejo. Di pusat kotaku, sekaligus yang paling dekat dengan rumahku, kuketahui ada 2 tempat hotspot yang sangat nyaman untuk dikunjungi. Pertama adalah hotspot Pemda. Tempat ini terletak di sebelah utara alun-alun Purworejo. Desain bangunannya yaitu tiga buah gazebo terbuka dengan dua gazebo tertutup. Hanya saja, kita perlu mendaftarkan diri kita terlebih dahulu melalui email sebelum bisa menikmati akses gratis unlimited. Kalaupun tidak, kita masih bisa memanfaatkannya meski hanya dibatasi sampai satu jam. Jika kamu keberatan dengan regulasi yang semacam itu, kita masih punya tempat online favoritku yaitu kantor Telkom Purworejo. Lokasinya sebelah timur alun-alun Purworejo, berdampingan langsung dengan Kantor Pos Purworejo. Kelebihan tempat ini adalah ruang online yang semi tertutup sehingga melindungi kita dari hujan dan panas. Akses yang lumayan cepat dan dekat dengan warung-warung kalau tiba-tiba kita kelaparan atau kehausan. Untungnya lagi, aku sudah kenal baik dengan salah satu satpam di sini. Sehingga dengan ijinnya, aku masih bisa online di tempat ini tengah malam. Sayangnya, kita tak bisa online di sini 24 jam. Tempat ini hanya terbuka dari pukul 8 pagi hingga 9 malam. Tapi setidaknya, kotaku tidak begitu mengenaskan bukan kalau sudah berkaitan tentang koneksi internet maupun koneksi mobile? Jangan takut soal sinyal jaringan 3, sebab depan rumahku sudah berdiri tower 3 yang menyebabkan bar sinyal selalu penuh setiap saat.

Point terakhir, yang hobi belanja, kita bisa datang ke Pasar Baledono. Pasar besar yang sudah ada sejak jaman Belanda ini menyediakan berbagai macam jenis cemilan khas kotaku dan berbagai macam jenis pakaian biasa dan muslim yang bisa dibeli dengan harga yang terjangkau. Kalau pun kamu menjumpai penjual yang nuthuk harga, thuthuk genten saja dengan menawarnya dengan harga paling murah sekalipun. Tenang saja, orang-orang Purworejo itu terkenal ramahnya dan tak gampak naik darah hehehe. Sebagai informasi tambahan, pasar ini menjadi pusat bahan baku jamu-jamuan yang diproduksi di pabrik jamu di kotaku. Sehingga bagi kamu-kamu yang senang menghirup aroma jamu tradisional, kurasa tempat ini pas untuk dijadikan tempat nongkrong sehari-hari :D Tak lupa pada musim-musim tertentu, ada beberapa peranakan kambing Ettawa yang dijual di tempat ini.

Inilah sebagaian kecil gambaran tentang kota tuaku, Purworejo. Sebuah kota kecil dengan budaya yang ikut dengan tradisi Yogyakarta. Dan jangan lupa, bagi kamu yang berbahasa ngapak, kusarankan jangan sering-sering ngomong di kotaku, sebab kamu hanya akan dijadikan bahan candaan oleh teman-temanku yang asli kelahiran sini. But most of all, amat kusarankan berkunjung ke kotaku. And find the differences

Kamis, 21 Februari 2013

Elegi Tempat Kediaman 2

Maaf kalau kali ini aku banyak cakap.

Kumohon kamu juga tak banyak protes jika aku sedang begini. Terserah lah kamu akan menganggap aku apa. Galau, risau, pisau, atau wow sekalipun, aku tak akan peduli. Aku hanya sedang ingin banyak cakap pagi ini.

Aku sedang pulang ke rumah sekarang. Itu artinya, aku kini kembali ke alam. Back to nature istilah menterengnya. Bangun pagiku disambut dengan kicauan burung gereja yang sejak nenek moyang mereka sudah menjadikan lingkungan sekitar rumahku sebagai istana. Jika aku sedang beruntung, aku pasti menjumpai mereka mematuk-matuk tanah mencari makan. Ternyata, tak semua bulu burung gereja itu buruk rupa. Kadang aku menjumpai bulu mereka hitam legam seperti ayam cemani. Ada pula yang perpaduan antara hitam dan putih seperti TV pertama yang dibeli ayahku kala aku masih TK dulu. Namun itu tak begitu penting bagiku, suara merekalah yang menentramkan aku. Biarpun spesies burung gereja ragam jumlahnya dan bisa ditemui di mana-mana, suara mereka pun serupa, aku tetap menganggap bahwa suara burung gereja di rumahkulah juaranya. Semacam paduan suara yang membangunkan sang tuan rumah yang seolah tak tahu norma agama, selalu bangun pagi setelah jarum pendek jam dindingku beranjak dari angka lima. Kupikir, burung gereja di rumahku sudah mengantongi pavling surga karena tugas mulia mereka itu.

Lihatlah juga di belakang rumahku. Rimbunan pohon bambu, hutan albasia (untuk daerah tertentu seringkali disebut kayu kalba), dan sebuah sungai tua bernama sungai Bogowonto. Tentu saja ada cerita unik tentang sungai ini. Aku belum pernah menceritakannya ‘kan? Aku tak akan menceritakan sejak kapan sungai ini mengalir, sebab aku bukan sejarawan. Aku pun tak akan menceritakan sungai ini dipenuhi oleh batu-batuan besar, pasir besi, kayu-kayu bernilai ekonomis tinggi, sebab aku bukan ahli ekonomi turunan Carl Marx, tapi aku sedang ingin menjadi Harry Panca. Si botak yang kerap menjadi pemandu acara mistik dunia lain. Untungnya aku tidak botak, untung pula tak ada acara uji nyali, mediumisasi atau istilah sebangsa setanah airnya. Aku hanya ingin bercerita kepada kalian kalau sungai Bogowonto itu mempunyai kisah mistik yang sampai kini pun belum ada yang bisa menjawabnya. Jika pada malam-malam tertentu, akan terdengar suara karawitan di sungai ini. Yang jelas tak hanya aku dan keluargaku saja yang bisa mendengarnya. Tapi juga para pemancing mania yang hobi blusukan di tempat wingit ini di tengah malam. Tak ada yang bisa melihat siapa pemain karawitan yang misterius itu. Hanya suara gending khas Jawa, mengitari kompleks sungai tua dan itu terjadi sekitar lewat tengah malam hingga sepertiga malam terakhir. Sayangnya, kisah ini berhenti saat aku masih duduk di bangku SMA. Kini aku tak pernah mendengarkan suara gendingan itu lagi. Entahlah, mungkin penabuhnya sudah ganti profesi karena tuntutan modernisasi atau kelompok kesenian yang mereka bangun sedang mengalami disbanding. Ya semacam grup mereka bubar karena kesibukan mereka masing-masing. Sungguh sayang. Meskipun aku tahu pengalaman ini berkaitan dengan dunia mistis, aku tetap merindukan pengalaman tengah malam yang kerap membuatku terbangun dan sembunyi di balik selimut karena ketakutan. Aku masih merindukan suara gending Jawa itu.

Ngomong-ngomong soal rindu (duh… kamu jangan bilang “Yah mulai nih galaunya”), sebenarnya tidak ada yang patut dibanggakan karena ini. Bukankah pada pengakuanku sebelumnya pernah kutuliskan kalau rinduku itu kadang terlalu didramatisir? Aku kerap mengibaratkan ini dengan itu sehingga persepsi pembaca ulang alik menerjemahkan apa dan siapa yang kumaksud. Dengan hebohnya aku menganggap orang yang kurindui itu berkepribadian megah dan datang dari negeri antah berantah sehingga membuatku terperangah atas kedatangannya yang tak disangka-sangka itu. Padahal aslinya, dia ya biasa saja. Dia tetap makan dan minum seperti aku. Tetap tidur dan kupikir serupawan apapun seseorang, label itu akan runtuh dengan sendirinya kalau dia sedang tidur. Siapapun itu, tak terkecuali. Bahkan si cantik Jennifer Lawrence akan sama nggilaninya dengan Mpok Atiek kalau sedang tidur. Tapi sudahlah, pada dasarnya aku tetap menganggapnya sebagai teman biasa. Meski pada kenyataannya hatiku kerap memprotes kalau dia bukanlah seperti yang kukatakan tadi. Pak Ustadz bilang ini tanda-tanda orang munafik. Kata temanku pula, munafik itu masih saudara dekat dengan Munaroh. Terserahlah mau berpendapat bagaimana.

Jujur aku terkesan dengan status Facebook temanku semalam. Seorang teman SMA yang bertalenta di bidang musik. Dia menuliskan di statusnya, bahwa hidup mapan memang penting. Kerja seporetnya (hanya orang Banyumas yang paham istilah ini) dan hura-hura seporetnya pula sudah menjadi hal yang biasa di kehidupan ini. Namun dia punya sesuatu yang dibanggakan, yaitu cinta dan musik. Dua hal yang tak bisa ditemukan oleh orang yang terlalu fokus pada tujuan hingga lupa menikmati perjalanan. Kemudian salah satu temannya bertanya tentang makna kedua point itu bagi kehidupan pribadinya, apakah cinta dan musik itu sudah menjadikan hidupnya lebih hidup? Dengan lugasnya dia menjawab. Semboyan dari mana itu? Tidak ada istilah bikin hidup lebih hidup, hidup yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa ini sudah cukup luar biasa. Tinggal bagaimana saja kita menikmatinya.

Dan jika ada yang berpendapat bahwa tulisanku ini adalah tulisan galau. Ya terserah mereka mau berpendapat. Bukankah negara ini negara demokrasi? (Ah, mendadak aku seperti kerasukan roh dosen Kewarganegaraan). Tapi kalau menurut pengakuanku ini, aku sedang menikmati perjalanan saja sebagai hidup. Kupikir semua orang pernah merasakan hal ini, ada beberapa orang di antaranya tak bisa mengungkapkannya namun ada pula yang mengungkapkannya dengan cara mereka masing-masing. Kusebutlah golongan pertama, mereka yang hanya memendam dan membiarkannya hingga perasaan itu hilang sedikit demi sedikit. Sebagian lain dari mereka yang merasakan kebimbangan tentang perasaan ini. Kemudian mereka bermain musik, menulis lagu, mengaransemennya dan dipadu dengan dentingan gitar, menulis puisi, menulis, menulis apapun itu dan ia mengabadikan jenis-jenis musik atau karya mereka tersebut dengan baik. Supaya suatu saat mereka bisa membacanya kembali, mndengarkannya kembali, menikmatinya kembali dan mengenang masa-masa di mana perjalanan sebagai anak manusia itu terasa lebih berwarna atas nama kehadiran seseorang. Dan Tuhan pun berkehendak menjadikan aku di golongan kedua itu.

Dan pagi ini, tak banyak kisah yang kutulis. Masih tentang kicauan burung gereja di antara tanaman albasia. Aku sedang tak ingin bermain metafora. Lagi, aku sedang ingin meniru gaya tulisan temanku yang sangat sederhana namun mengena. Kurang lebih tulisannya begini. Aku tak ingin menyamakan kamu dengan secangkir kopi, yang efeknya mantap hingga menampar-nampar wajah dan perasaanku sehingga aku tak tidur semalaman. Pun tak akan mengibaratkan kamu sebagai secangkir teh, yang sepat rasanya terbawa ke mana-mana sehingga aku bisa menceritakan kepada teman-temanku bahwa aku baru saja meminum teh (maksudnya dia sedang jatuh cinta dan cintanya itu berasa ‘sepat’ seperti minuman teh. Sehingga dia selalu ingin menceritakannya kepada orang lain tentang cintanya itu). Namun aku hanya ingin menceritakan kamu seperti segelas air putih. Yang tak banyak tingkah, yang aman dan menentramkan.

Juga tak ingin mengibaratkan kamu seperti matahari tenggelam. Sebab matahari tenggelam itu selalu berdekatan makna dengan akan datangnya malam. Padahal aku takut dengan malam. Aku selalu dihinggapi perasaan was-was tentang malam. Sedangkan kamu, tak pantas jika diasosiasikan dengan sesuatu yang tak kusukai. Kamu terlalu baik jika kubandingkan dengan benda mati yang ada di muka bumi ini. Kamu ya kamu. Tak ada istilah yang pantas kubuat untuk membandingkan kamu. Hanya satu harapkanku di kala kesendirianku. Kuingin kamu tahu kerinduanku.

Ah sudahlah, aku terlalu banyak mengacau. Minumanku sudah mendingin ternyata.

Elegi Tempat Kediaman


Kembali ke tempat kediaman barangkali menjadi salah satu hal yang kuidamkan.
Setidaknya aku merasakannya, atau mungkin juga dengan apa yang orang lain rasakan.
Kembali ke rumah bermakna pula aku bisa mendengarkan apa yang aku sebut dengan nyanyian.
Alam-lah yang melakukannya, mendendangkan syair, tanpa rima, tanpa kata, tanpa bait, tanpa dentingan namun menolak segala kesenyapan.
Tentang beriak air sungai yang memecah keheningan.
Tentang hewan malam yang menyalak di tengah hutan.
Memadupadankan suara jangkrik dan kunang-kunang beterbangan.
Inilah yang selalu kusukai ketika aku kembali ke tanah kelahiran.
Tempat di mana aku bisa menikmati apa yang tak bisa kurasakan kala di tanah perantauan.
Berarti pula berkuasa di kamar sendiri tanpa riuh kebisingan.
Bebas memutar musik tanpa ada yang protes mengapa lagu yang diputar selalu kebarat-baratan.
Bebas menjelajah kota, mengenang jaman SMA dan sesekali bertandang ke rumah teman.
Dan inilah yang kusuka dari suasana tempat kediaman.
Kumendengar Murottalan dari pesantren seberang bengawan.
Yaitu aura sepertiga malam yang jarang kudengar jika sedang ada di perantauan.
Namun, aku tak pernah mengatakan bahwa Al Amin patut dipersalahkan.
Kukatakan, “Murottalannya Al Amin bukanlah kaset, namun dilakukan oleh qori’-qori’ andalan”.
Yang suara mereka merdu tiada yang bisa mengalahkan.
Tapi, jarang kudengar ada suara surga menembus melalui bilik-bilik kamar yang dihuni puluhan.
Yang ada, ya musikan, ndopokan, nonton TV, Facebookan, gitaran dan pastinya cengengesan.
Sehingga, kadang aku nyaman dengan kamarku ini, yang sederhana ditaburi Murottalan di kala hujan.
Bahkan sampai-sampai aku malas kembali ke perantauan.

Dan mendadak semuanya tenggelam dalam sebuah keraguan.
Berawal dari sebuah meja yang di atasnya tersedia makanan.
Biasanya kami memakannya bersama-sama , diiringi gelak tawa, candaan, bertanya makanan ini datang dari siapa dan ujung-ujungnya main comblang-comblangan.
Lalu kali ini, semuanya mendadak runtuh dalam kesenyapan: aku harus memakannya seorang diri tanpa teman.

Aku tak mengatakan itu sudah menjadi kenangan.
Pastilah aku suatu saat kembali dengan beberapa jajan kesukaan kalian.
Tentu saja bilamana Tuhan mengijinkan.
Hanya saja, aku ingin mengungkapkan sebuah kejujuran.
Mungkin hanya aku, yang ketika jauh dari Al Amin tiba-tiba merindukan ramainya kebersamaan dengan kawan-kawan.
Sholat bersama, makan bersama, dolan bersama, ndopokan bersama, jogging bersama, gundah gulana masih bersama, dan semuanya hiruk pikuk di dalam ingatan.
Mungkin hanya aku saja, yang berpikir bahwa Al Amin selalu ada di dalam ingatan.

#Terima kasih sudah menemani meski kamu tak ada di sini.

3 - IM3


Tentang salah satu contoh kesetiaan yang sedang kubangun sampai sekarang adalah bagaimana loyalitasku pada pemakaian nomor ponsel. Hal sepele memang. Akan tetapi, meskipun hal tersebut bukanlah perkara krusial dan melanggarnya pun tidak akan ditindak pidana, kumerasa tetap perlu melakukannya. Dimulai dari melaksanakan hal-hal yang sepele dan membiasakannya, sehingga aku tak perlu kerepotan untuk menjaga kesetiaanku untuk perkara yang lebih besar nanti. Pernikahan contohnya. Tapi sudahlah, aku sedang tidak akan membahas soal pernikahan, terlalu jauh dan terlalu spekulatif jika memaksakan untuk menjabarkannya di forum ini. Kembali pada pokok bahasan awal bahwa aku hanya sedang mencoba setia memakai satu nomor ponsel saja.

Aku adalah penggemar setia 3 sejak bertahun-tahun lalu. Tepatnya aku lupa kapan. Pastinya sudah lebih 3 tahun aku menjadikan operator asli Inggris ini sebagai sahabat telekomunikasiku. Banyak kelebihan yang ditawarkan sehingga membuatku tetap setia. Ibarat alasan setia mengapa suami betah di rumah, salah tiganya karena istrinya cantik, ahli memasak dan penyayang. Maka beberapa salah (alasan, bukan hanya salah satu) kenapa aku begitu sticky dengan operator 3 karena paket sms dan internet yang diobral sembarang kuota. Ingatkah bahwa sampai saat ini 3 menawarkan promosi kirim sms ke sesama operator tanpa batas alias unlimited? Sebenarnya bukan unlimited sih, sekitar berapa puluh ribu sms gitu, namun siapa orang yang bisa menghabiskan kuota sms segitu banyaknya dalam sehari hanya setelah mengirim satu sms seharga lima ratus perak? (Mau keloloden hp apa?). Belum lagi paket internet yang masya Allah murahnya. Saat ini bahkan aku sudah mendaftarkan nomorku untuk berlanggangan AlwaysOn selama setahun. Itu artinya aku mendapatkan kuota internet sekian MB selama setahun ke depan. Belum lagi harga paket tambahan sebanyak 100 MB hanya dihargai Rp 5.000,00. Mana ada operator yang rela banting harga sedemikian kerasnya?
Satu lagi, karena ponselku bisa dibuat modem, itu artinya aku semakin bebas mengakses jejaring sosial sekaligus ngurusin blog-ku tanpa harus kelimpungan menjadi tempat online gratis yang mulai banyak tersebar di sepanjang kotaku. Tetap stay cool di dalam kamar, sambil ngemil seraya menikmati segelas susu kacang ijo, rasanya tak berlebihan kalau aku menganggap surga dunia dipindahkan sebentar ke kamarku. Peduli setan dengan modem yang belum kuisi, ponselku ternyata multiguna meskipun fiturnya tak semegah harapanku.

Sampai suatu ketika kesetiaanku diuji ketika aku bertandang ke rumahnya Hasan di pedalaman Batang. Aku mengatakan pedalaman karena nyatanya rumahnya teramat jauh dari jangkauan. Melewati areal persawahan beberapa kali dan setiap sawah luasnya barangkali hanya bisa ditandingi dengan tiga kali ukuran lapangan sepak bola. Pun demikian, kita masih harus melewati pemukiman penduduk, melewati muara, menyeberang jembatan dan gang-gang kecil dengan puluhan anak kecil yang mewek minta dibeliin jajan sama emaknya. Duh, melihat pemandangan yang sedemikian getirnya, hanya satu hal yang amat kukhawatirkan, jangan-jangan tidak ada sinyal 3 di sini.
Tuhan pun mengabulkan kekhawatiranku. Aku dikerjain habis-habisan oleh Kecamatan Depok, Kabupaten Batang. Tidak ada sinyal 3 barang satu bar pun. Kalau pun ada, aku harus keluar rumah, nongkrong di belakang rumah, beratapkan langit dan dikelilingi oleh hutan gelap yang acapkali membuat pikiranku ketir-ketir kalau ada makhluk bukan dari bangsa manusia datang menghampiriku ingin ikut aku online dengan hape jadulku. Haduh, memang kuakui tinggal 3 hari di rumah Hasan adalah pengalaman yang menyenangkan. Kita bisa bermain ke laut, ke ladang melati, ke pusat perbelanjaan batik, ke mana-mana namun sayangnya semuanya dibarengi dengan minimalnya sinyal jaringan operatorku.
Dan apalagi yang menarik setelah mengunjungi rumah Hasan? Seperti sejarah bilang, cucu nabi Muhammad yang terkenal seantero jagad yakni Hasan dan Husein. Nah, satu cerita lagi tentang perjalananku ke rumah Husein di Kecamatan Jingkang, Purbalingga. Niat awalnya karena aku dan teman-temanku ingin menengok ibunya Husein yang sedang ditimpa musibah. Sekaligus berpetualang melewati hutan pinus yang selalu bertabur kabut di kala pagi dan sore menjelang. Sebuah pemandangan indah khas pegunungan, dengan berbagai macam tanaman buah ada di sekeliling rumahnya, tak kurang buah jambu, alpukat, papaya, tanaman cengkih, kopi, teh, glagah, dan beberapa tanaman palawija lainnya, menyebabkan aku sebenarnya tak keberatan tinggal di situ berlama-lama (kecuali jika aku tak punya muka dengan enaknya numpang makan gratis di sana). Hanya satu saja kendala, tidak ada sinyal 3 sedikit pun di sana. Sehingga tak heran, ketika aku sudah turun gunung, banyak sms-pun berdatangan dan isinya hampir seragam, memprotes mengapa aku tak pernah membalas sms mereka.

Berangkat dari pengalaman inilah, terpikirkan aku ingin menambah koleksi nomor operatorku. Pilihanku jatuh pada IM3. Tak banyak pertimbangan yang ditawarkan memang. Kebanyakan temanku memakai IM3, ketersediaan sinyal sedikit lumayan dibanding 3, dan paket internet kali ini lumayan kedengarannya (entah bagaimana dengan tariff yang akan ditetapkan ke depannya). Sehingga karena alasan inilah aku membeli perdana IM3 sewaktu aku pulang ke Purworejo kemarin Senin.

Untunglah aku mendapatkan nomor yang tak begitu buruk rupa. Apa pendapat kalian dengan nomor ini? 085602029602. Lalu tebaklah berapa harganya? Empat ribu rupiah, tak lebih dari itu.

Selasa, 29 Januari 2013

Berhenti Berharap



Mumpung kamu sedang tidur. Mumpung kamu tidak online malam ini dan mumpung kamu tidak tahu aku menuliskan ini tentang kamu.

Barangkali karena kemauan dan harapanku saja yang terlalu lancang melampaui batas supaya kamu selalu ada sesuai harapanku. Barangkali pula aku yang terlalu berharap supaya kamu selalu ada di setiap hariku. Layaknya kamu terbit di permulaan hari seperti mentari. Kemudian kamu menemani sepanjang hariku sebagaimana atmosfer yag tak pernah tega meninggalkan bumi. Kamu juga tetap berada di sisiku di sore hari seperti camar laut dengan latar belakang matahari tenggelam, nampak akrab dan semua orang menyukainya. Dan barangkali saja aku terlalu berharap kamu ada di sini untuk membunuh rasa sepiku seperti eratnya hubungan antara angin malam yang membawa para nelayan melaut di tempat ini.

Barangkali pula aku yang terlalu tinggi berharap. Sehingga Tuhan menghukumku atas espektasiku ini: kamu tidak ada di sini. Kamu pasti masih ingat, ketika aku menyumpahi hawa dingin yang membekukan pembuluh darahku di puncak Dieng sana. Waktu itu aku juga menaruh harapku setinggi pengunungan, sehingga keadaan membantingku sampai jurangnya dan aku pun kesakitan menjumpai keadaan bahwa kamu tidak ada di sisiku

Dan dunia kini mungkin menertawaiku untuk kedua kalinya. Bodohnya aku juga masih mengharapkanmu ketika aku bersama sahabat-sahabat di tempat ini. Layaknya aku sedang berlayar naik kapal pesiar dan harapanku itu kembali menenggelamkanku ke palung samudera terdalam. Padahal aku tak bisa berenang sama sekali. Kamu tahu? Sakit sekali.

Iya terlalu mengharapkanmu mungkin memang membuatmu tak berada di sini. Bukankah aku sudah dua kali membuktikannya sendiri?

Dan malam ini kuberanikan berspekulasi, sekarang aku harus mencoba untuk tidak terlalu mengharapkanmu. Aku harus berhenti berharap. Siapa tahu dengan itu, suatu saat, tanpa kuduga dan entah di mana itu, kamu bisa ada di sisiku sesuai seperti keinginanku.

Pangandaran, 27 Januari 2013.

00.40

Tak Peduli


Aku ingin terlihat tegar di depan orang yang kucintai.

Tak peduli betapa kerasnya angin menghempaskanku hingga terpental bermil-mil jauhnya.
Maupun derasnya hujan disertai badai yang dengan kejam memaksaku mengalah kepada alam sejenak, supaya aku tetap bertahan. Aku hanya ingin tetap terlihat tegar.
Aku akan menunjukkan kepadanya, bahwa masih ada setitik keindahan dalam hidup meski semua itu terangkum oleh labirin antara hidup dan mati.
Kata penulis Rusia, aku tak akan menunjukkan kepadamu bahwa bulan itu bersinar. Sebab memang begitu adanya. Tapi aku akan memberitahumu bahwa masih ada pantulan cahaya yang menakjubkan pada pecahan gelas. Cahaya itu tetaplah indah dan kuyakin kamu akan terkesima karenanya, percayalah padaku.

Dan tinggallah sejenak denganku satu atau dua jam saja.
Aku akan mengajakmu membuat papan luncur udara dari daun ilalang. Atau bermain kapas terbang dari bunganya.
Selagi aku bisa, aku akan membuatmu gembira dengan apa yang ada di sekelilingku.
Dan suatu ketika aku akan mengajakmu di tepian danau selepas malam datang sehabis hujan.
Kita akan mencoba mengetes pendengaran kita tentang nama suara-suara hewan malam yang bersahut riang. Kamu pasti kesulitan mengenali suara mereka, namun aku janji untuk mengajarimu tentang itu.
Dan saat kamu pergi nanti, aku juga janji untuk berusaha tegar di depanmu.
Tak peduli seberapa lama kamu pergi.
Tak peduli apakah kamu akan jatuh cinta kepada seseorang yang kau temui nanti.
Tak peduli akankah kamu kembali atau itu hanya mimpi.
Tak peduli apakah kamu bersuka cita atau bersedih hati karena ini.
Aku tetap berusaha tegar untuk orang yang kucintai.

Selasa, 22 Januari 2013

That Scandinavian Girl



Terkadang, yang ga disengaja dan yang ga disangka-sangka itu lebih menyenangkan.

Bayangkan saja, semuanya berawal dari kebosananku mendengarkan lagu bergenre country. Sebutlah lagu-lagu yang menceritakan tentang pengkhianatan, ditinggalkan oleh orang yang kita dicintai, dibohongi, dilahirkan di dunia ini dengan membawa karakter lemah dan mudah dilukai serta sederet sisi-sisi kelam yang dinyanyikan dengan irama banjo serta gitar akustik. Memang tak semuanya lagu country seperti itu. Mungkin hanya karena faktor kebetulan saja lagu-lagu country di playlistku mengangkat tema-tema tragis seperti di atas tadi. Jika aku berani, mudah saja aku mengkambinghitamkan Taylor Swift yang terlalu sering menyanyikan lagu berirama galau. Sehingga ketika aku mendengarkannya, maka kegalauanku malah makin menjadi-jadi. Akhirnya, segala hal yang memalukan pun terjadi. Entah karena aku paham arti liriknya, terlalu hanyut di dalam jalan cerita lagu tersebut, atau kebetulan lagu itu sesuai dengan keadaan/ kondisi hatiku waktu mendengarkannya, akhirnya pun mewek. Meski tak sampai berlinang air mata, namun rasanya cukup untuk membuatku malas mengaji bahkan malas mandi sekalipun. Inilah akibat salah memilih genre musik. Bukannya malah bersemangat, tapi malah terlarut dalam ilusi-ilusi kesedihan yang sebenarnya tak perlu terjadi. Alhasil, aku berniat menswitch genre agar aku tak berlama-lama dalam kondisi kelabu seperti ini.

Secara universal, sederhana saja keinginanku. Ingin tampil sebagai orang yang kuat, tak gampang cengeng karena lagu-lagu mellow, berkarakter keras, tegas dan kurasa semua itu bisa berawal dari mengganti lagu yang saban hari akan menemaniku ke mana pun aku berada. Ingatanku langsung melayang kepada seorang penyanyi Skandinavia bernama Marion Raven. Penyanyi 29 tahun asal Norwegia ini sebelumnya pernah ngetop saat dia bersama sahabat karibnya yang bernama Marit Larsen membentuk duo M2M pada tahun 2000-an. Meski hanya menelurkan dua buah album pop yang berjudul Shades Of Purple serta The Big Room, terbukti pamor keduanya cukup berpengaruh di blantika musik internasional terutama di Amerika Utara dan Asia Tenggara.

Memasuki tahun 2003, keduanya memutuskan untuk membubarkan diri dan bersolo karir. Larsen memilih setia di jalur pop dan berhasil merilis beberapa album pop. Aku kurang paham berapa album solonya yang keluar, yang jelas lebih banyak dibanding album Raven. Namun, aku lebih memilih Marion Raven, sebab dia berani keluar dari zona nyaman. Dia nekat menceburkan diri ke dalam genre rock. Dengan suaranya yang powerful dan wajahnya yang sedikit tirus misterius, sudah cukup untuk mendukung keberhasilan solo karirnya. Benar juga, album pertamanya Here I Am laku keras di pasaran. Didukung dengan album sophomorenya, Set Me Free, berhasil menduduki tangga lagu Asia Tenggara. Akan tetapi, rumor tentang kehadiran album ketiganya yang sudah berhembus jauh-jauh hari namun belum menunjukkan gelagat akan keluar, membuatku penasaran untuk iseng-iseng bertanya dengan cewek berambut cokelat ini melalui Twitter.

Sejujurnya, aku belum memfollow dia semalam. Dengan nawaitu iseng, aku memention dia, menanyakan bagaimana kabar album Nevermore-nya yang kerap diperbincangkan akan dirilis tahun 2011 tapi sampai sekarang masih belum kedengaran gaungnya. Tak kusangka, mentionku dibalasnya. Dia menyatakan kalau albumnya akan dirilis pada musim semi 2013 dengan judul yang baru alias bukan bertitel Nevermore lagi. Sedangkan untuk jadwal perilisan untuk seluruh negara di dunia belum dapat dia pastikan. Duh, penyanyi cewek pertama sekaligus cinta pertamaku pada musik rock membalas mentionku. Bolehlah kamu nyebut ini kedengaran katrok atau apalah itu, tapi bagiku ini adalah sesuatu yang lebih menyenangkan dibanding memenangkan togel dengan nominal berapapun.

Gara-gara insiden pembalasan mentionku inilah, mulai hari ini aku sedikit demi sedikit akan mengubah jalur musikku. Tak lagi keseringan ndengerin lagu country atau lagu pop yang berpotensi mendatangkan air mata dan kesedihan. Yang ada di otakku hanyalah dentuman drum dan gitar elektik serta teknik menyanyi yang melengking. Setidaknya, ini akan sedikit memperbaiki moodku yang kadang timbul tenggelam. Aku ingin membuang image country dari diriku.

Saatnya beralih pada musik rock. Sebagai catatan saja, ini bukanlah awal aku menyukai genre ini. Dulu aku adalah penggemar gothic lengkap dengan musik gedumbrangan. Namun sekarang, aku tak perlu berdandan gothic sampai mewarnai kedua mataku dengan eye liner hingga seperti Avril Lavigne. Cukuplah musik dan suasana hatiku saja yang diperbaiki, agar tak sering mendapatkan sebutan galaow.

Apa kesan yang kudapat dari kejadian ini?

Bukankah nabi Muhammad SAW pernah menorehkan tinta sejarah kepada kita sebagai umatnya untuk berhijrah dari kota Mekkah dan Madinah demi misi penyebaran Islam? Hijrah itu sendiri kumaknai secara luas. Bukan hanya sekedar pindah tempat, pindah suasana atau pindah posisi yang lebih menguntungkan dan meninggalkan posisi yang merugikan. Tidak sedangkal itu. Hijrah bisa bermakna penggantian karakter dari sifat buruk ke sifat yang lebih baik. Hijrah dari karakter diri yang merugikan ke karakter pribadi yang menguntungkan dan mendatangkan manfaat bagi sesama. Khusus untuk konteks ini, aku berniat hijrah dari suasana hati yang tak mengenakkan dan berpotensi mendatangkan ghibah menuju suasana hati yang lebih cerah dan mendatangkan aura kebahagiaan bagi siapapun di sekitarku.

Kata siapa musik rock tak bisa mendatangkan kebahagiaan? Kamu yang belum pernah mendengarkannya, niscaya kamu tak akan pernah mempercayainya.

Sabtu, 17 November 2012

Aneh!


Rasanya aneh saja ketika orang sepertiku ada yang menyukainya. Behahahaha... tapi aku serius. Makanya aku nulis ini di blogku, mbok setiap kali aku mengabadikan suatu momen dalam sebuah tulisan, pasti di belakangnya ada suatu memori atau insiden yang benar-benar terjadi. Meskipun itu ga semuanya, meski itu ga bisa dipukul rata, ibarat sinetron lah. Ada yang emang based on true story, ada pula yang abal-abal alias akal-akalan si pengarang cerita biar semua orang terpukau. Nah, perkara ceritaku ini memukau atau ga, dipikir amat sih ga juga. Soalnya aku selalu mengidentikkan nulis beginian sebagai nyampah, sampah dari pikiranku yang bisa ngeracuni pikiran kalau ga cepat-cepat dibuang. Kalau kamu nemuin istilah yang setidaknya lebih bagus dikit daripada nyampah, bisa deh kamu menyumbangkan kata itu ke aku hehehe.

Aku mau cerita yang normal-normal saja. Soalnya udah terlalu banyak cerita yang ga normal menghampiri hidupku. Disukai laki-laki inilah itulah, sampai di inbox orang yang ga kukenal supaya aku manggil dia om. Jijay markijay, demit pun ogah ndulit.

Disukai cewek, ngahahaha ga etis banget diceritain di sini. Tapi, suka-suka aku lah. Ini juga blog-blogku sendiri. Beberapa hari yang lalu aku dapat sms (yang boleh aku bilang pesan singkat) nyasar. Setelah kujabanin beberapa kali kirim sms, dia ngaku namanya Dwi Novita, anak Al Amin juga, asli Rawalo. Ngakunya juga dia sms aku biar dia bisa kenal lebih dekat ma aku. Idih, apa lagi maksud tu cewek?

Tapi, bukan Agus namanya kalau ga penuh perhitungan. Tahukah kamu nomor apa yang dia gunakan ketika kirim sms ke aku? Dia memakai nomor 3, begitu pula aku. Itu artinya, ngirim sms ke sesama 3 itu gratis sampai batas pengiriman pesan tak terhingga. Berarti pula, kemungkinan “orang itu ngerjain aku” makin besar pula. Toh, tukang usil di dunia ini punya karakter yang mudah ditebak: suka pake gratisan yang ga mlorotin pulsa mereka. Yah, selama dia ga neko-neko apalagi minta kawin aja, hayuiuh sms-an, aku malah jadi semangat pengin ngerjain balik tu orang *devilsmile*

Satu lagi, disukai cewek, apalagi dia satu ma’had sama aku (ma’had = satu pesantren, satu tempat, satu lingkungan) sejujurnya ga membuatku nyaman. Tahulah sendirilah kamu bagaimana karakterku. Aku paling ga suka sama yang namanya aturan ini itu, aturan tak tertulis yang mengekang, harus ini harus itu, ga boleh ini apalagi itu, pokoknya semua yang ga ngijinin aku bebas, aku pasti mengutuk habis peraturan itu. Nah, disukai sama cewek pun otomatis ada sebuah aturan nontertulis yang menjadikan aku harus jaim. Kenapa harus jaim? Duh, aku juga bingung gimana ngejelasinnya. Aku harus tampil baik dan enak dipandang di depan umum. Ga boleh tampil serampangan lagi, ga boleh kucel apalagi ga mandi sampe berhari-hari, liat kostum yang dipake dan berusaha mix and match biar serasi, jalannya kudu ati-ati, jaga mulut jangan sampai asal ngejeplak kaya Omas, harus korban perasaan, korban pikiran dan tentunya korban pulsa juga. Dipikir-pikir yang rempong kok malah aku ya?

Hahaha cepet bilang kalau aku aneh! Tapi itu FITNAH! Aku tuh ga aneh! Aku itu aneh banget.

Kamis, 15 November 2012

... dan Itu Pasti....


Barangkali, aku memang perlu mundur beberapa langkah, maap.
Ketika kamu menyapaku terlebih dahulu waktu itu (dunia rasanya memang udah kebolak-balik hahahahah), ah rasanya biasa saja. Aku juga ga perlu bilang wow waktu itu. Setelahnya, kita lalu berteman, bercerita seperti orang yang tak pernah lelah membagi pengalaman hidup kita yang udah terlewat. Kita kemudian sahabatan, makan bareng, ketawa bareng, sedih bareng, galau bareng sampai ngamuk ngamuk pun bareng. Kalau ada anak alay tanya: sohiban? Cyuuus miapah? Bakalan kujawab neh: “mipaleluw”.
Demi kepala kebo yang kompal kampul di tengah laut di malam 1 Suro, aku bener-bener dah ngerasa klop nemuin temen kaya kamu. Biarpun watak kita beda jauh, macam aku Giant, kamu Shisuka, aku gampang ngamuk –alhamdulillah ga sampe makan beling segala- sedangkan kamu kalemnya masya Allah, aku suka warna merah –biarin orang bilang aku caper, tapi kamu ga perlu caper pun kamu malah udah jadi puper. Pokoknya kita emang beda, bedaaaa jauh. Aku di Norwegia, kamu di Ethiopia sana ahqhqhqhqhq
Terlepas dari itu semua, kita udah janjian yah, kita tetep temenan. Kaga perlu silang jari kelingking lah, dunia dah cukup cerdas buat memahaminya. Aku terus mencoba buat jadi teman yg baik buat kamu, begitu pun kamu. Aku nyampah semua masalahku ke kamu, dan celakanya sampahmu lebih parah kapasitasnya ke aku (ngahahahaha, kaga masalah kok). Kita janji buat tetap sohiban biarpun kita akan berpisah suatu saat nanti, dan itu pasti. Kita janjian buat tetap berteman meskipun kita ga bisa nyampah kaya dulu lagi suatu saat nanti, dan itu pasti. Kita janji buat tetap berkawan biarpun kita ga bisa nimpuk kepala masing-masing, ngukur jalan bareng, makan cilok bareng, ngerasani orang bareng, nongkrong bareng, nggelandang bareng, dan ga bisa duduk bareng di pinggir kota dan itu akan terjadi suatu saat nanti dan itu pasti. Dan kita udah janji ttp sohiban meskipun aku berada di sebelah selatan pulau Jawa, sedangkan kamu terpisah di belahan pulau Jawa sisih endi mbuh ora ngerti, itu akan terjadi dan itu pasti. Kita tetap sohiban kan?
kupikir,di antara kita ada yang ga sengaja ngelanggar perjanjian itu, entah aku atau kamu. Akan tetapi, kalo misalnya aku menemukan sebuah situasi di mana ketika sedang nyampah, ketawa ketiwi kaya nyi kunti, dan itu bareng ma kamu, tapi tiba-tiba cerita itu hilang sekejap setelah aku bangun tidur, sepertinya yang ngelanggar aku yah? Hehehe peace!
Ampun lah, aku ora maning-maning wesss. Kita lebih bagus sohiban aja. Kalau kita ngerasa kok makin jauh, kita bisa berusaha mendekat. Namun ada kalanya kita terasa terlalu dekat, itulah saat lebih baiknya kita (saling) mundur sejenak. Kurasa kali ini aku yg memang perlu mundur beberapa langkah. Ho’oh gitu aja, dengan begitu aku yakin di antara kita kaga bakalan ada yang tersakiti sampe hati.

02.09
1 Muharram 1434 H

Sabtu, 10 November 2012

Insiden Jepretan Karet



Jam 10 pagi hari ini, aku benar-benar kelaparan di kelas 1. Apa yang bisa kulakukan hanyalah meneruskan menulis novelku di tengah-tengah deru protes penghuni perutku yang geliatnya makin tak bersahabat. Di luar, masih ada abah dan beberapa orang temanku yang ikut kerja bakti. Sedangkan aku memang tidak ikut kerja bakti lantaran sedang menyelesaikan proek novel kedua dari trilogi novelku ini. Bagi santri yang ga ikut kerja bakti, secara sadar mereka memang mengakui kalau perbuatan mereka itu salah sehingga menimbulkan kerikuhan sendiri, baik kepada abah kyai maupun kepada teman-teman mereka sendiri. Sehingga, kalau nyata-nyata tidak kerja bakti, ya mending ngumpet saja. Ga usah nampang sok yes - sok sibuk - mondar mandir di sekitar pondok seolah-olah orang penting yang sedang banyak acara dan kepentingan. Di sisi lain, sudah sejak satu setengah jam yang lalu sms dari temanku aku abaikan. Sms itu berisi kalau makan bersama di lantai 3 sudah dimulai. Tapi, lagi-lagi dengan berat hati aku harus melewatkan momen indah nan mengenyangkan itu lantaran aku terjebak di situasi yang serba sulit.

Setelah situasi memungkinkan untuk keluar dari kelas 1, akhirnya aku berlari ke lantai 3 untuk breaklunch. Kamu pasti baru mendengar istilah breaklunch. Istilah ini kerap terjadi pada anak-anak kos yang kerap telat sarapan pagi, sehingga mereka memepetkan jadwal sarapan dengan makan siang. Akulah korbannya kali ini. Makan sendiri di lantai 3 karena teman-temanku di sana sudah makan dan mereka menyisakan nasi serta sayur, seperti yang aku request tadi. Setelah aku selesai makan, aku kembali ke lantai 2 untuk mengambil sesuatu. Belum juga badanku benar-benar masuk ke dalam kamar, aku merasa punggungku dilempar sesuatu oleh seseorang. Aku tahu pelakunya. (Kemudian aku salah sangka, aku bukannya dilempar sesuatu, tapi sebenarnya aku dijepret karet dari kejauhan). Dan saat inilah aku ingin melancarkan serangan balasan. Kita tunggu saja.

Aku masuk ke dalam kamar Utsman. Di sana sedang ada Suryadi yang tiduran hanya menggunakan boxernya. Tak jauh darinya, ada Hasan yang sedang sibuk mengerjakan tugas. Sengaja, aku memasang muka garang untuk menakut-nakuti mereka. Aku susun kekuatan semaksimal mungkin agar rencanaku berjalan mulus.

“Mau sing mbalang aku sopo?”

Suryadi dan Hasan mulai kebingungan dengan perubahan ekspresi wajahku yang drastis. Kumulai mengatur suasana agar terkesan menegangkan dan menyeramkan. Mereka kebingungan, kalau aku boleh menerjemahkan kebingungan mereka, kurang lebih mereka bergumam di dalam hati, “Duh payah nih, mas Agus marah-marah”. Lagipula, siapa juga orang di pondok ini yang berani menghadapi aku ketika aku sedang marah?
Hasan kemudian mengacungkan telunjuknya. Wajahnya berangsur-angsur beralih dari kebingungan menjadi memelas. Tapi aku tak ingin mengakhiri drama ini di sini.

“Koe yo? Karepmu ki piye mbalang-mbalang aku mbarang? Hah?” aku sudah menstel volume suaraku di level tertinggi. Aku sudah lupa lagi caranya tersenyum, yang ada di pikiranku, aktingku sudah hampir saja berhasil. Kamu tahu apa yang terjadi?
Hasan pun menangkupkan kedua telapak tangannya dan meminta ampun di depanku. Wajahnya sangat ketakutan. Kalau aku berkata satu kalimat dengan nada menghentak lagi, aku bisa bertaruh ia pasti akan menangis. Sebelas dua belas dengan takutnya wong cilik yang dipalak oleh preman yang badannya penuh dengan tato. Kulihat dengan mata kepalaku sendiri, dia sungguh cemas dan khawatir kalau aku sampai ringan tangan kepadanya. Ah yang benar saja. Tak tahan melihat raut muka teman dekatku itu, akhirnya aku tertawa. Tertawa lepas sambil mengeluarkan biskuit kacang yang sudah aku bawa dari tadi.

“Biasa wae lah” aku menggoda Hasan yang tengah kebingungan dengan perubahan sikapku lagi. Rasanya ia masih setengah percaya kalau apa yang terjadi barusan hanyalah gurauan belaka. Aku letakkan satu bungkus penuh biskuit itu di depannya namun dia berkata kalau nafsu makannya mendadak hilang. Ternyata ia masih trauma dengan sikapku tadi. Rasanya ingin kutertawa sekeras-kerasnya. Bakat aktingku nyatanya masih menawan.

Akhirnya aku letakkan biskuit itu di tengah-tengah. Di sana ada Suryadi, Rifan dan Iskandar, yang masih sama syoknya dengan bentakanku tadi. Kupersilakan mereka menikmati biskuit yang kubeli kemarin itu. Ketika lurah pondok datang, Latif, aku juga menawarinya jajanan favoritku itu. Tak lupa aku menyisakan tiga buah biskuit untuk Hasan yang tengah menjadi aktor utama dalam drama jepretan karet itu. Tak henti-hentinya aku minta maaf kepadanya.

Aku sempatkan waktu sebentar untuk mengobrol dengan mereka. Hasan, ternyata dia dibesarkan oleh keluarga yang santun, halus perangainya, tinggi budi pekertinya, sehingga tak heran jika ia menjadi orang yang pemalu dan tak banyak tingkah. Rasanya aku jadi bersalah telah mengerjainya sampai sehoror itu. Tapi, rasanya belum afdhol kalau aku belum pernah berseteru dengan seseorang. Sebab, setelah aku berseteru dengan orang itu, bisa jadi persahabatan kita lebih erat ke depannya.
Maafin kejahilanku, sobat...

Senin, 05 November 2012

Pendiam Itu Mudah Ditaklukkan


Untuk beberapa orang yang memiliki karakter pendiam, seringkali mereka memiliki rahasia yang kalau terbuka sedikit saja, kita pantas berteriak WOW. Bukan maksudku menghiperboliskan sesuatu, hanya saja dari pengalamanku berhadapan dengan orang pendiam, aku menemukan sesuatu yang hampir saja aku sulit mempercayainya kalau mereka yang mengatakannya atau mereka sendiri yang mengalaminya. Seperti yang kukatakan tadi. Mereka memiliki dunia yang jarang dijamah oleh orang lain. Mereka ibarat fenomena gunung es yang tampak kecil di permukaan, namun membentuk tebing raksasa di bawah permukaan laut. Dari luar nampak tenang seperti tenangnya permukaan sungai, namun di bawahnya terdapat palung dengan kecepatan arus air yang bisa melenyapkan nyawa manusia sekalipun.

Secara tak sengaja, aku telah menemukan teori baru berkenaan tentang orang pendiam ini. Teori ini tak kutemukan melalui metode penelitian tertentu, melalui riset, survey atau konsensus apalah itu namanya. Aku menemukannya secara sepintas, kata Einstein, Eureka! Asal ngobrol-ngobrol dengan mereka dan tak sampai setengah jam, aku sudah tahu bagaimana kepribadian orang pendiam yang ada di hadapanku itu. Nah, teori yang sudah ada yaitu berbicara dengan orang pendiam itu jauh lebih sulit daripada memulai konversasi dengan orang yang cerewet/ banyak bicaranya. Aku setuju dengan itu. Namun semuanya itu tak jadi sesulit yang dibayangkan asalkan kita tahu teorinya. Seperti halnya Matematika dan Fisika. Asal kita hafal teori dan sering menerapkannya pada soal-soal latihan, dua pelajaran tersebut akan mudah saja dikerjakan. (Tapi aku pribadi, rasanya kok ga pernah bisa berdamai dengan dua pelajaran eksakta itu, bedebah sekali).

Lalu, teori macam apa yang berhasil kutemukan? Rasanya seperti profesor saja yang berhasil mencetuskan teori mahacanggih :D Dengarkan baik-baik: Orang, sependiam apapun, kalau mereka sudah diajak ngobrol soal hobi mereka, mereka dijamin tak akan kehabisan bahan pembicaraan. Cobalah bayangkan, ada orang yang pendiam. Kamu kesulitan untuk memulai percakapan dengannya. Padahal kamu sering duduk berdampingan dengannya. Nah, suatu ketika cobalah kamu bertanya tentang apa yang ia sukai. Sebagai contoh, “Dengar-dengar, kamu suka nonton film ya?”, “Kamu tahu dari mana?”. “Ya, dengar-dengar aja sih. Dengar dari kabar burung. Burungnya burung emprit”. “Kamu bisa aja deh. Kalau iya kenapa?”. “Genre apa yang kamu sukai?”. “Drama kali ya? Kalau kamu?”. “Horor”. “Ih kok horor sih, kan serem”... (lanjutin sendiri lah ya).

Dari contoh sederhana di atas, setidaknya kamu punya sedikit gambaran bahwa orang pendiam itu tak selamanya sulit ditaklukan. Akan tetapi, kamu juga harus tahu kondisi emosional si pelaku. Misalkan dia pendiam dan nampak sedang bersedih, jangan coba-coba kamu menanyakan apa hobinya. Terkadang, ketika ada orang yang sedang murung itu, kita sebaiknya tak menanyai dia dengan serentetan pertanyaan konyol yang membuat mereka makin ilfil dengan keberadaan kita. Apa yang perlu mereka dengar terkadang hanyalah kalimat singkat dari kita, “Sudahlah, kamu jangan bersedih, aku ada di sini untuk kamu”. Siapa tahu dari gombalan busukmu itu, si pendiam itu tiba-tiba mau menceritakan apa yang telah membuatnya bersedih.
Ilmu komunikasi, sebenarnya gampang saja. Semuanya hanya perkara bagaimana kamu bisa memulai bicara dengan orang lain yang ada di sekitarmu. Sebab, berbicara dengan orang-orang jauh lebih menyenangkan daripada ‘berbicara’ dengan benda mati. Trust me, it works!

Minggu, 04 November 2012

Love is so short, forgetting is so long...


Aku selalu bersemangat ketika aku harus mengatakan ini. Tak hanya mengatakan, namun juga menceritakannya bahkan ketika aku tak diminta sekalipun. Aku akan melakukan itu dengan senang hati. Terlalu bersemangat aku disebutnya, “Siapa yang minta kamu ngomong gitu?” sebuah kalimat yang kerap kujumpai, dan satu lagi: “Pasti sedang ada yang tidak beres”. Asumsi-asumsi aneh pun mengalir deras padaku. Gokilnya, aku menikmati semua ini. Rasanya aku benar-benar dalam keadaan merah. Ah, aku mulai kehabisan kata-kata mengapa aku harus mengatakan warna ini. Merah. Tapi tenang saja, aku tidak akan mendefinisikan merah itu apa dan penggemar warna ini akan seperti ini dan seperti itu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku memang sedang berkubang di dalam warna darah ini. Aku benar-benar menikmatinya.
Mengutip dari prolog dalam album terbaru Taylor Swift:
There’s an old poem by Neruda that I’ve always been captivated by, and one of the lines in it has stuck with me ever since the first time i read it. It says, “Love is so short, forgetting is so long”. It’s a line i’ve related to in my saddest moments, when i needed to know someone else had felt that exact same way. And when we’re trying to move on, the moments we always go back to aren’t the mundane ones. They are the moments you saw sparks that weren’t really there, felt stars aligning without having any proof, saw your future before it happened, and then saw it slip away without any warning. These are moments of newfound hope, extreme joy, intense passion, wishful thingking, and in some cases, the unthinkable letdown. And in my mind, everyone of these moments looks the same to me. I see all of these moments in bright, burning, red.
My experiences in love have taught me difficult lessons, especially my experiences with crazy love. The red relationships. The ones that went from zero to a hundred miles per hour and then hit a wall and exploded. And it was awful. And ridiculous. And desperate. And thrilling. And when the dust setted, it was something i’d never take back. Because there is something to be said for being young and needing someone so badly, you jump in head first without looking. And there’s something to be learned from waiting all day for a train that’s never coming. And there’s something to be proud of about moving on and realizing that real love shines golden like starlight, and doesn’t fade or spontaneously combust. Maybe i’ll write a whole album about that kind of love if i ever find it. But this album is about the other kinds of love that i’ve recently fallen in and out of. Love that treacherous, sad, beautiful, and tragic. But most of all, this record ia about love that was red.
“Love is a ruthless game unless you play it good and right”
Seperti yang tertulis di atas, ketika cinta dengan berbagai macam perasaan di dalamnya, semua terangkum dalam sebuah warna, yakni merah. Cinta itu curang, dengan curang securang-curangnya, menyakitkan dengan luka yang membekas hingga seumur hidup, memberi kabar gembira dan kabar sedih dalam satu waktu, senang dengan halo namun juga cemas dengan kemungkinan adanya selamat tinggal pada suatu hari nanti, cinta yang dimaknai sesuatu yang berbahaya tingkat awas, merubah segala sesuatunya secepat kilat, melebihi kecepatan cahaya, melampaui kecepatan suara, semuanya seolah menempatkan kita di permukaan bumi dan diberi kesempatan untuk mendongakkan kepala ke langit, menikmati kembang api yang berpendar menakjubkan. Di sinilah betapa merahnya cinta.
Namun, pada suatu ketika cinta menenggelamkan kita ke dalam dasar lautan. Membelesakkan kita hingga menyentuh dasar terdalam dari Palung Mariana. Menekan kita dengan kekuatan arus bawah air yang dapat meledakkan isi kepala kita. Hingga menyempitkan hati, menghambat pernapasan, membiarkan air mata mengalir deras dan bercampur dengan air lautan. Di saat tergenting ini, bahkan cinta pun masih membara. Sebab kamu tahu bahwa orang yang membuatmu menangis, adalah orang yang dulu juga pernah membuatmu tersenyum.
Dan semuanya masih terasa membakar, membakar dengan warna merah.

Autis Itu..


Kemajuan teknologi memang memudahkan kehidupan manusia, dalam segi apapun. Namun, aku sendiri punya pemikiran sendiri dalam menyikapinya. Kadang-kadang, aku ingin semuanya kembali ke jaman aku masih SD, atau setidaknya SMP. Saat di mana semua orang belum punya ponsel, belum mengenal apa itu laptop, belum ada jejaring sosial, tidak ada sepeda motor sebanyak sekarang dan belum ada gedung-gedung mewah yang menggeser lahan persawahan atau ladang.

Lalu mengapa aku punya pemikiran demikian? Sederhana saja. Aku sudah kehilangan feeling sama orang yang terlalu addicted dengan teknologi. Teknologi yang ia gunakan tidak membuatnya canggih dan berwawasan luas, namun lebih kepada pembentukan pribadi autis bagi orang tersebut. Aku paling tidak suka dengan orang yang ketika aku ajak ngomong, tapi dia malah asyik dengan ponselnya. Rasanya, pengin kurebut ponsel itu dan kubanting tepat di depannya. Tak hanya sampai itu, akan kuinjak-injak benda bangsat itu. Agar dia tahu bahwa persahabatan itu jauh lebih berharga dibanding benda mati yang mati tanpa dicharge itu.

Saat kerja bakti pondokpun, seluruh santri sebenarnya diwajibkan untuk mengikutinya. Namun, lagi –lagi gara-gara teknologi yang disalahgunakan para autis di sini, mereka jadi asyik dengan dunia mereka sendiri. Mereka menggadaikan pahala yang dijanjikan jika mereka bergabung dalam tugas itu dengan perkara yang sepele, perkara yang seharusnya dijadikan untuk hiburan semata, bukan pelarian dari tugas, perkara yang membuat mereka nampak sepert orang autis dibanding orang-orang kebanyakan. Kalau saja aku masih menjabat sebagai Departemen Keamanan di pesantren ini, ingin kutendang saja laptop mereka yang sedang digunakan untuk bermain game, atau kuanjlokkan listrik kamar-kamar dan mendamprat orang-orang bego yang salah menggunakan teknologi. Akan kuterangkan secara blak-blakan kalau mereka adalah orang tolol yang tak tahu pentingnya mendulang pahala atas perintah abah kyai, dibanding dengan kesenangan semata yang tiada guna itu. Sama tak bergunanya mereka di pesantren ini!

Parahnya, orang yang punya fasilitas lengkap itu adalah orang yang tak maju-maju pengetahuannya. Mereka tetap saja tak punya bahan omongan bermutu ketika diajak berdiskusi, pokok bahasan mereka tak jauh berkutat dari masalah perempuan dan segala kelakuan nakalnya. Jika sudah berhadapan dengan tugas kuliah, gelagapanlah mereka, tanya sana tanya sini seolah tak tahu apa yang sedang mereka hadapi, seperti anak SD yang diberi tugas membuat makalah kampus, padahal mereka sudah punya modem, laptop siap pakai, listrik yang selalu on. Lalu mengapa mereka bisa setolol itu? Gampang saja masalahnya. Mereka gemar facebookan, gemar mengoleksi foto-foto tak senonoh daripada browsing sesuatu yang bermanfaat. Ditanya memuakkan tidak. Bagiku tidak, biasa saja. Karena aku tak pernah punya minat untuk bergaul dengan mereka.

Terakhir, aku tak pernah menyalahkan teknologi. Kalau sampai demikian, berarti aku yang goblok. Teknologi tak pernah bersalah selama dia dimanfaatkan oleh orang yang bijak. Celakanya, orang bijak di tempat ini bisa dihitung dengan jari.

Flashing mid-finger to those who act like autist!

Sabtu, 03 November 2012

Only Hope


There's a song that's inside of my soul
It's the one that I've tried to write over and over again
I'm awake in the infinite cold
But You sing to me over and over and over again

So I lay my head back down
And I lift my hands
and pray to be only Yours
I pray to be only Yours
I know now you're my only hope

Sing to me the song of the stars
Of Your galaxy dancing and laughing
and laughing again
When it feels like my dreams are so far
Sing to me of the plans that You have for me over again

So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
To be only yours
I pray to be only yours
I know now you're my only hope

I give You my destiny
I'm giving You all of me
I want Your symphony
Singing in all that I am
At the top of my lungs I'm giving it back

So I lay my head back down
And I lift my hands and pray
To be only yours
I pray to be only yours
I pray to be only yours
I know now you're my only hope


Jumat, 02 November 2012

Tukang Parkir



Tentu kamu tahu siapakah tukang parkir itu? Tukang parkir ya tukang parkir. Pekerjaannya njagain sepeda motor kita saat kita masuk ke dalam suatu toko. Motor kita ntar ditutupin kardus atau alat penutup jok sederhana supaya jok itu tidak kepanasan saat ditumpangi kita nanti (ini kalau tukang parkir yang cerdas, kebanyakan ya ga peduli sama sekali sampai hal sesederhana ini. Tukang parkir maunya ya makan gaji buta, asal terima duit tanpa memberikan kita manfaat sama sekali. Jangankan dipasangin kardus di jok sepeda motor kita, njagain motor aja setengah hati). Nah, setelah kita bahas profesi tukang parkir itu bagaimana, sekarang aku akan bahas tentang filosofi tukang parkir. Biarpun baju dan penampilan mereka terkadang dekil, kecuali tukang parkir yang modis (sempat-sempatnya make seragam parkir yang berwarna orange itu), mereka punya filosofi hidup yang mulia, bahkan saking mulianya kita perlu menirunya.
Aku berani bertaruh, tukang parkir tak akan marah-marah saat motor/ mobil yang mereka jaga diambil sama pemiliknya. Mengapa? Sebab kendaraan-kendaraan itu bukan milik mereka. Mereka hanya dititipin. Orang yang marah-marah saat barang titipin orang lain diambil sama yang punya, dia pasti orang gila, gendeng, gemblung dan semua itu masih kakak beradik dengan istilah nggak waras.
Inget kan kalau kita lahir di dunia ini dalam keadaan telanjang bulat? Tidak bawa harta apapun, kemudian atas kemurahan hati Tuhan, Dia meminjamimu dua orang yang sangat mencintai kamu, yaitu kedua orang tuamu. Dia memberimu sahabat-sahabat karena Dia tidak ingin kamu kesepian di dunia ini. Pada suatu ketika, Dia mempertemukanmu dengan orang yang kamu kira adalah bagian dari hatinya. (Jadi inget pepatah, Tuhan memberimu dua mata untuk melihat, dua telinga untuk mendengar, namun Dia hanya memberimu satu hati. Sebab Dia telah menitipkan sebagian yang lain supaya kamu mencari dan menemukannya). Kamu kira dialah hidupmu, cerita cintamu yang tiada akhir, tulang rusukmu yang hilang dan blah blah blah. Namun skenario Tuhan berkata lain. Dia mengambil orang-orang yang kamu cintai dan sayangi.
Lalu, jika kamu masih marah-marah kepada Tuhan sebab Dia (yang kau anggap kejam) telah merusak kebahagiaanmu, telah merenggut kesenanganmu, Dia tak ingin melihat kamu bahagia dan menuduh Tuhan tidak adil terhadap hidupmu.
Kalau sudah demikian, coba kembali ke atas. Kita semua adalah tukang parkir dari harta-harta milik Tuhan. Nah, kalau kita marah-marah ketika harta titipan Tuhan diminta sama yang ‘punya’, kira-kira kita pantas ga kalau masih dibilang orang waras?


Still Hurt


Barangkali tidak ada yang bisa mengalahkan indahnya berlarian seperti orang gila di antara pematang-pematang sawah, sambil menghirup udara pagi dan membiarkan sinar mentari menerpa wajahmu yang segar. Mentari bahkan tak menyangka bahwa kedua matamu menangis semalaman. Akan tetapi kamu bisa melupakan masa sulit di malam hari dan ingin mencoba menjadi kupu-kupu yang selalu terbang bebas tanpa ada apapun yang menghalanginya.

Atau mengikuti suara musik alam, gemericik air sungai yang mengalir menerpa bebatuan hitam nan legam, namun air sungai tersebut tetaplah jernih dan dapat memberikan kesegaran bagi makhluk hidup lain. Sementara duduk di tepian, itu sudah lebih dari cukup untuk menenangkan pikiran dan menjernihkan perasaan yang semula berat, menyakitkan dada.

Bermain gitar di pinggir rel kereta api seorang diri, orang-orang Indonesia dengan sinisnya menyebutnya pengamen jalanan, namun aku tidak akan menyebut diriku demikian. Aku hanya ingin melepaskan beban hidup melalui suara dentingan senar gitar yang kudendangkan sembarang pola. Bernyanyi sesuka hati, tanpa ada aturan ini itu dan yang kuinginkan hanyalah mencoba memaknai dunia melalui musik. Biarpun aku tak mengenal betul apa itu musik, namun bukankah musik terdalam itu adalah musik yang muncul dari dalam hati? Untuk kali ini, aku sedang mencoba untuk bernyanyi country.

Kubiarkan orang-orang hanya lewat di depanku, kubiarkan kereta api melaju cepat melampauiku, kubiarkan burung-burung terbang bebas di atasku. Namun tetap, aku akan menyanyikan lagu country untuk diriku.

Atau sekedar berbaring di tepian pantai. Seorang diri menatap langit yang biru, dengan gumpalan awan yang membentuk arsiran pasir pantai. Aku tak punya alasan untuk tetap bersedih, langit masih biru, matahari masih bersinar, tepian laut masih berdebur, angin masih menyapa dan aku durhaka kepada Tuhanku kalau aku tak mensyukuri nikmat ini.

Kalau aku masih kesulitan untuk melakukan itu semua, biarkan aku berjalan di tengah-tengah hutan tanpa siapapun yang menemaniku. Melewati pepohonan tak bertuan, lumut-lumut yang siapapun enggan menyentuhnya, tumbuhan paku yang dibiarkan hidup liar, suara burung-burung menceritakan kebahagiaan mereka karena nikmat Tuhan masih menyertai mereka selama ini. Aku hanya ingin duduk di sebuah batu besar di antara mereka. Agar alam menyembuhkanku dengan kekuatannya. Agar mereka menjadi psikiaterku di tengah-tengah kekacauan jiwaku. Dan aku tahu, mereka pasti berhasil, tiada cela dan tiada gagal sebab alam telah berpengalaman jutaan tahun dalam menyembuhkan perasaan yang terluka, pada manusia.

jika ada kolam ikan dengan beberapa bunga teratai mekar di atasnya, bolehkan aku duduk di tepiannya. Aku akan dengan senang hati berbagi secangkir teh denganmu, dan menceritakan betapa senangnya menjadi ikan emas yang habitatnya dipenuhi oleh bunga-bunga surga yang tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikannya. Meski air tempat mereka tumbuh kotor dan keruh, teratai tetap menampilkan pesona yang membuat siapapun terkagum kepadanya. Mengapa kita tak belajar hidup dari teratai?

Jika aku tidak bisa melakukan itu semua.

Jika aku keberatan untuk menjejakkan kaki ke tempat yang baru.

Jika aku masih ingin menetap di dalam kamar meskipun aku tahu itu hanya semakin menambah beban perasaan.

Jika aku masih ingin menjadi manusia terbodoh di dunia ini yang menganggap awan hitam lebih menarik dibanding gumpalan awan berarsiran pasir pantai.

Jika aku tak punya lagu country untuk kunyanyikan dengan caraku sendiri, di tempat pilihanku sendiri, dan dengan nada yang kuciptakan sendiri.

Jika aku masih ingin terpekur di suatu tempat di mana kamu pinjam hatiku dalam keadaan utuh dan mengembalikannya dengan keadaan terpecah menjadi beberapa bagian.

Jika aku masih memilih warna biru melambangkan sendu daripada warna merah sebagai warna kebanggaanku.

Jika aku masih merasakan sakit, itu berarti aku masih peduli.

Sabtu, 27 Oktober 2012

Aku Tak Meminta Banyak, Tuhan...


Tuhan, selamat pagi, atau selamat siang dan selamat malam :)
aku tak tau di surga sedang musim apa? penghujan atau kemaraukah??
ataukah mungkin sedang turun salju?
pasti sangat indah…
kalau boleh berbincang sedikit, aku belum pernah melihat salju...
aku ingin sekali bisa menyaksikan salju dengan mata kepalaku sendiri, mungkin nanti ya kalo aku bisa mengumpulkan tabungan yang cukup…

Aku tahu, Kamu tak pernah sibuk. aku tahu Kamu selalu mendengar isi hatiku meskipun kamu tak segera memberi 'pukpuk' dibahuku. aku tak perlu curiga pada-Mu soal bisa mendengar doaku tau tidak. aku percaya telinga-Mu selalu tersedia untuk siapapun yang percaya pada-Mu. aku yakin pelukan-Mu selalu terbuka pada mereka yang terlalu lelah pada dunia yang membuatnya menggigil.

Masih tentang hal yang sama,Tuhan. kalaupun aku boleh memilih aku akan tetap memilih topik ini untuk aku perbincangkan dengan-Mu. tentang dia, seseorang yang selalu aku perbincangkan sangat lamaaa dengan-Mu,
seseorang yang selalu aku sebut dalam setiap frasa kata ketika aku bercakap panjang dengan-Mu.

aku sudah tahu, beberapa kali mereka berkata bahwa aku dengannya adalah kesalahan. Tapi itu bukan ucapan-Mu kan? apa ada yang berhak mengatur perasaan manusia selain-Mu? sekali lagi aku tak perlu tau apa Kamu mendukungku ataupun ikut menyalahkanku, dalam persepsiku Kamu itu Maha pengasih, Maha Penyayang seperti semua yang tertuang dalam Asmaul Husna,, Kamu ikut tersenyum bahagia melihat kisahku dengannya. bukankah begitu Tuhan??
Keadaanku sekarang memang tidak lebih baik, tapi sekali lagi hanya diri-Mu yang menentukan pantas atau tidaknya aku dengannya. Sungguh aku tak mau merasakan dia sakit, aku tak pernah tega melihat kecintaanku terluka, aku hanya ingin kebahagiannya terjamin olehMu, dengan atau tanpaku.

Tolong kali ini jangan tertawa,Tuhan. aku tentu saja menangis, dadaku terasa sesak.
aku percaya aku dengannya sekarang ini mungkin sedang ada di titik jatuh cinta setengah mati
permintaan yang sama seperti kemarin, Tuhan jagalah dia untukku, bahagiakan dia…
aku ingin lakukan apapun untuknya tanpa sedikitpun aku melupakan-Mu, aku memang tak menyentuhnya
aku tak bertatapan dengannya. Tapi… dalam jarak sejauh ini,aku tetap memeluknya dalam doa-doaku.

Aku tak perlu meratap, jika memang dia bukan takdirku…
aku pun yakin dia akan menemukan dunianya yang baru tanpaku yang sangat indah & menyenangkan
kembali pada bagian awal, Tuhan.. aku hanya ingin melihat dia tersenyum.

Akhir pecakapan, aku tidak meminta dia harus tetap disampingku dengan segala kebuntuan ini..
aku hanya minta, di manapun dan kapanpun itu.. aku ingin punya kesempatan bersamanya..
walaupun sedetik… aku ingin tetap melihatnya tersenyum bahagia.

kembali ke awal,, dengan atau tanpaku.

Laki-Laki Bersastra, Apa Kata Dunia?



Aku yakin Tuhan tak pernah salah dalam memberikan talenta untuk seseorang.

Aku juga yakin rencana Tuhan tak pernah keliru. Meleset sedikit pun, itu adalah kemustahilan yang teramat besar.

Semuanya berawal ketika aku masih kelas 3 SMA. Saat itu, aku pernah jatuh cinta kepada seorang perempuan yang tak lain adalah tetanggaku sendiri. Dia anaknya tak banyak bicara, lebih cenderung kuper dan tertutup. Entah apa yang membuatku begitu tertarik padanya. Mungkin karena kemisteriusan itu, atau alasan klasik mengapa sebuah kisah cinta itu dimulai, paras cantiknya selalu menghantui pikiranku di mana pun dan kapan pun.

Kebetulan orang tuaku bukanlah tipikal orang tua yang terbuka soal urusan cinta anaknya. Aku takut ketika aku menceritakan kisah cintaku yang baru dimulai ini kepada mereka, maka tanggapan mereka cukup singkat saja, “Kamu sekolah dulu saja yang bener”. Kalau sudah demikian, tamat sudah harapanku untuk berbagi cerita dengan mereka, bukan?

Lalu, bagaimana jika aku menceritakan kisah yang belum seumur jagung ini kepada teman-temanku? Akankah mereka akan menjadi pendengar yang setia? Penyimpan rahasia ulung? Atau setidaknya pemberi solusi di kala aku menjumpai masalah dalam hubunganku dengan perempuan itu? Melihat pengalaman teman sebangkuku yang mengumbar cerita cintanya dengan geng-gengnya sendiri, aku jadi yakin kalau kisah cintaku ini bisa saja kehilangan ‘ruh’nya jika aku menceritakannya dengan orang lain. Lantaran semua orang tahu, semua orang bisa menilai bagaimana caraku memulai mengenal cinta dan bersentuhan dengannya. Aku tak ingin semua ini terjadi. Aku tak ingin benih cinta yang baru kusemai ini diacak-acak oleh orang-orang yang sebenarnya tak perlu tahu dengan siapa aku menanamnya dan di lahan mana aku mulai menyemainya.

Sebagai bentuk pelarianku, akhirnya aku memutuskan untuk membeli buku tulis bercover batik. Tebalnya buku itu mungkin menjadikannya lebih mirip seperti buku catatan utang keluarga daripada buku catatan harian. Tapi aku tak pernah mempedulikan apa kata orang soal buku dan apa saja yang kutulis di sana. Dalam hitungan jam sejak aku membeli buku itu, aku langsung menuliskan apa yang ada di benakku secara terang-terangan. Tanpa nama inisial, tanpa majas dan tanpa perumpamaan yang puitis. Semua kubiarkan mengalir begitu saja. Tentang bagaimana awal kita bertemu, atau lebih tepatnya berpapasan sewaktu pulang sekolah pada suatu sore, kami berdua melakukan kontak mata selama kurang dari tiga detik namun kenangan tiga detik itu masih bisa kurasakan selama tiga hari setelahnya, bayangan perempuan itu tersenyum ketika bermain dengan keponakannya hingga aku terpana melihat dia berjalan sendirian ketika akan berangkat sekolah. Semuanya aku tulis di buku kesayanganku itu.

Setiap hari, aku membawa buku itu ke mana pun aku pergi. Ke sekolah, ke kamar tidur, ke perpustakaan, ke lapangan basket bahkan ke ruang guru pun aku masih sempat membawanya. Di mana bayangan dia muncul, maka di situlah aku mulai menuliskannya. Hingga aku tak sadar kalau buku tersebut telah habis separuh, aku sendiri hampir tak percaya kalau aku bisa menulis sebanyak itu. Di sinilah aku mulai bersentuhan dengan dunia tulis menulis.

Suatu ketika, guru Bahasa Indonesiaku memergokiku ketika aku sedang menulis surat teruntuk perempuan itu. Sebuah surat yang sejatinya tak akan pernah kukirim, sebab isi surat itu adalah perwakilan dari isi hatiku selama ini kepadanya. Beliau bertanya, apa yang sedang aku tulis. Aku menjawab, hanya iseng saja. Daripada kuhabiskan waktu untuk galau tiada arah, maka lebih baik aku menulis. Guruku itu tersenyum saja mendengar jawabanku. Tanpa dinyana, beliau menawariku untuk mengisi majalah dinding sekolah dan mengirimkan artikel atau karya apapun ke majalah sekolah. Mendapati tantangan ini, aku tergelitik untuk mencobanya. Pertama, aku mengirimkan cerpen berjudul “Pilihlah Aku Jadi Pacarmu”. Cerpen yang terinspirasi dari judul lagu milik Krisdayanti ini bercerita tentang kisah cinta dua manusia dua alam dengan sudut pandang orang pertama dalam penyajiannya. Tanpa basa-basi, seminggu setelah aku mengirimkan cerpenku itu ke majalah sekolah, karyaku tersebut dimuat dan guru Bahasa Indonesiaku itu menjanjikan akan menyediakan sejumlah honorarium untuk menghargai karyaku. Rupanya, mendapatkan uang dari suatu pekerjaan yang kita sukai adalah hal yang menyenangkan.

Honorarium pertama dari hasil tulisanku nyatanya membuatku tergerak untuk menulis lebih banyak lagi. Berbagai macam format tulisan fiksi aku coba, mulai dari puisi, artikel, maupun cerpen. Percaya atau tidak, semuanya hampir bernafaskan kisah cintaku pribadi kepada perempuan itu. Beruntungnya, hampir semua kirimanku itu dimuat di majalah sekolahku. Itu berarti, makin tinggi saja pundi-pundi uangku yang kudapat.

Memasuki dunia universitas, rasanya aku makin tak rela meninggalkan kegemaranku di dalam tulis menulis ini. Biarpun aku tak bergabung dalam organisasi sastra di kampus, aku tetap menulis di notebookku, bukan lagi di buku yang tebalnya mirip buku catatan utang itu. Aku coba melebarkan sayap untuk tidak melulu menuliskan soal cinta, namun juga tentang kesenjangan sosial, kehidupan baru di kampus, dunia pesantren sebab aku memang mondok di sebuah pondok pesantren modern, dan tak lupa aku juga menuliskan cerita betapa menderitanya aku jauh dari kedua orang tua untuk pertama kalinya.

Di sisi lain, dengan hobiku ini, aku makin merasa kalau aku ini agak berbeda dengan teman-temanku. Apalagi menulis di kalangan pesantren masih terdengar begitu awam, terlebih jika itu dilakukan oleh seorang laki-laki. Dalam pesantrenku, laki-laki itu identik dengan sepak bola. Laki-laki tanpa bola ibarat memakai baju tapi lupa tanpa memakai celana. Namun bagiku, laki-laki tanpa bola tetaplah laki-laki. Biarlah dia tidak memakai celana, bukankah masih ada sarung sebagai busana penggantinya?

Dalam kehidupanku, sarung itulah yang kusebut sebagai hobiku di dunia tulis menulis. Tak ada yang salah jika seorang laki-laki mempunyai hobi ini. Sah-sah saja. Toh, bagi diriku pribadi, berdasarkan pengalamanku waktu SMA dulu, menulis kujadikan sebagai terapi jiwa. Terapi untuk membuat perasaan dan pikiranku lega setelah aku mengungkapkan semuanya melalui tulisan. Dan lebih menyenangkan lagi jika melalui hobi, aku bisa memperoleh uang jajan sendiri.

Ketika ada yang berkata, “Laki-laki kok bersastra, apa kata dunia?” Aku yakin dunia pasti dengan tegas menimpalinya, “Masalah buat loe? Itu bakat yang bagus, boi”


Rabu, 24 Oktober 2012

Letters



Sometimes the feelings you really mean are found in the letters which you write and never send.
Bagaimana rasanya ketika kamu mempunyai semangat membara disebabkan seseorang yang bahkan tak mengerti sama sekali kalau dia begitu mempunyai makna yang dalam bagimu?
Bagaimana rasanya ketika diamnya dia saja sudah bisa mewarnai langit di atasmu, jauh lebih berwarna daripada pelangi ataupun krayon yang dulu pernah dibelikan ibumu sewaktu masih kecil?
Bagaimana rasanya ketika dia menyempatkan waktu luangnya sebentar saja, hanya untuk mendengarkan kamu bercerita tentang kisahmu? Kamu membuat perumpamaan bahwa kamu sedang mencintai orang lain, namun sejatinya orang yang kamu cintai dan yang sedang kamu bahas itu adalah orang yang sedang kamu ajak cerita sekarang?
Bagaimana rasanya ketika dia mengeluhkan sesuatu tentang masalah hidupnya dan dia memilih kamu sebagai teman terdekatnya untuk membantunya menyelesaikan perkara pelik tersebut?
Bagaimana rasanya ketika kamu punya waktu berjalan sejenak bersamanya, namun jarak kalian terasa begitu jauh lantaran hanya kamu yang mencintainya, namun dia belum tentu mencintaimu?
Bagaimana rasanya ketika dia berpaling darimu, memilih orang lain untuk sekedar berbagi cerita dengannya?
Bagaimana rasanya ketika kamu mencoba melupakannya, melupakan segala perih hati namun kenyataan berbicara lain, perasaan itu justru makin menjadi-jadi dan kamu tak tahu harus berbuat apa?
Bagaimana rasanya ketika kamu berusaha melakukan apapun demi dia, namun dia memperhatikanmu hanya sedikit saja, jauh dari harapanmu?
Bagaimana rasanya ketika kamu memiliki teman dekat, sahabat, adik, belahan hati, belahan jiwa, musuh terbesar, gebetan, calon pendamping hidupmu, sahabat paling geje, teman paling menyebalkan, rekan paling dono, dan semuanya itu ada pada orang yang sama?
Sometimes the feelings you really mean are found in the letters which you write and never send.



Same Bright Sky



Ditinggal teman mudik itu memang sesuatu.
Sesuatu yang amat ‘kering’, biasanya kamar ramai, guyonan ga kenal arah dan waktu, asal ngomong tanpa perlu ada rambu-rambu yang mengaturnya, asal nyeplos tanpa perlu berpikir apakah yang akan kita bahas nanti memang perlu dibicarakan atau tidak, asal riuh dan cenderung ke arah geje alias ga jelas, benar-benar kutemukan ramai dan indahnya hidup di pesantren. Jujur, aku agak merasa kurang fit dengan teman-teman sekamarku. Namun itu bukan berarti aku tak menyukai mereka. Mereka adalah anak-anak yang baik, yang doyan bercanda juga. Hanya saja, porsi bercanda mereka kok terkesan kaya dibuat-buat, sengaja rame biar ga garing, eh ujung-ujungnya garing beneran. Terlebih, beberapa dari mereka sepertinya memang ga niat belajar hidup bermasyarakat. Belajar bagaimana berinteraksi antarmanusia dalam satu atap, berkomunikasi sewajarnya tanpa terasa imitasi, guyon seguyon-guyonnya tanpa merasa canggung dan semuanya itu kok belum kutemukan feel-nya di kamarku sendiri. Sehingga, tak heran jika di kamarku banyak orang namun terasa sepi seperti kuburan. Yang satu sibuk main ponsel, yang satu sibuk baca buku, yang satu sibuk main laptop, yang satu sibuk berkirim pesan singkat dengan orang yang jauh di sana, yang satu sibuk memperhatikan mereka semua dan sampailah pada kesimpulan awal kalau teman-teman sekamarku seolah kenal tapi tak kenal. Apalah itu namanya...
Sehingga, untuk mencari pelarian menuju ladang kehebohan, akhirnya aku sering transmigran ke kamar sebelah. Kamar Utsman, kamar yang 99% terdiri dari anak baru. Awalnya canggung abis memasuki kamar paling luas dibanding kamar-kamar lainnya itu. Namun, apa kata dunia kalau aku tak bisa mulai komunikasi dengan orang-orang baru lengkap dengan karakter mereka yang baru pula? Perlahan-lahan, aku mulai mengenal mereka satu per satu. Anak yang berinisial S, namanya yang singkat terdiri dari satu suku kata menyebabkannya jadi bahan ledekan. Biasanya teman-teman yang lain menambahkan nama cewek di belakangnya. Hasilnya, si empunya nama tak terima dan gejol-gejol seperti anak kecil yang lolipop-nya direbut sama teman-temannya yang nakal. Dia anaknya lucu, pintar ngebanyol dan ahli dalam urusan perempuan. Aku hampir tak mengira kalau anak berwajah pas-pasan itu nyatanya telah melanglang buana dalam hal mencari perempuan. Sudah tak terhitung lagi korban keganasan makhluk berwajah boros ini. Tak habis pikir aku dibuatnya.
Selain dia, aku juga punya sahabat dekat berinisial H, anak berlogat bandek ini memang tak begitu menonjol dibanding tersangka utama yang kubahas barusan. Namun kita langsung mempunyai kedekatan hubungan (hadeh bahasanya) sebab persamaan karakter bahasa di antara kita. Bersama dia dan teman-teman lain, kita seringkali mencetuskan olahraga pagi setidaknya seminggu sekali. Pertama, lari-lari pagi hingga GOR Satria, GOR terbesar di Purwokerto, jogging hingga Baturraden, hingga rencana untuk berenang ke KR Langen Tirta, meski aku menolak keras ajakan terakhir ini lantaran aku tak bisa berenang. Anak penggemar futsal ini juga banyak fans-nya. Jujur aku iri dibuatnya, bagaimana anak sekalem itu memiliki fans yang bejibun. Ketika kutanyai apa rahasianya, dia njawab, aku juga tak ngerti bagaimana bisa seperti itu. Benar kata orang kalau inner beauty ini tidak bisa diciptakan, namun muncul dengan sendirinya sehingga menyebabkan orang lain terpesona dengan kebaikan yang tak tampak itu. Di sinilah hebatnya dia.
Ada pula teman baruku berinisial I dan U, mereka berdua fasih dalam mengaji. Sebab keduanya pernah mondok sebelumnya, setidaknya pernah mengenyam pendidikan agama di sekolah, di pesantren atau di rumah mereka masing-masing. R, anak penggila jejaring sosial yang menyebabkan dia nyerempet jadi anak yang anti-sosial, L kecil-keci cabe rawit, IK yang selera humornya selalu ditabrakkan dengan kartun-kartun seperti Rindamen, bahkan aku sendiri tak tahu kartun macam apa itu, IB yang lelucon garingnya hanya bisa disamai dengan kerupuk yang dijual di warung depan dekat jalan raya, UC anak paling subur di antara teman-teman yang lain dan itu berarti dia paling gasik ngoroknya setiap malam dan E, anak berwajah arab namun berbahasa ngapak, ngapak kental sekental-kentalnya. Ada juga T anak pendiam abis, mungkin dia ditakdirkan sebagai kaum Adam sejati, yang tak banyak bicara dan tak banyak cngcong, hanya menjawab jika ditanya dan hanya tersenyum jika diusilin. Maha besar Allah yang telah menciptakan anak sependiam itu. Dan masih banyak lagi anak-anak yang belum kusebutkan lengkap dengan karakter khas mereka.
Menjelang Hari Raya Idul Adha, mereka pulang satu per satu. Ah, rasanya belum terbiasa menyaksikan kamar yang saban harinya penuh sesak seperti tenda pengungsian bencana alam, kini menjadi kamar yang sepi, melompong tak berpenghuni. Tak ada lagi keramaian di dalamnya yang menjadi penyebab utama kami sering kena tegur pengurus lantaran suara candaan kami yang kelewat keras hingga mendekati larut malam. Semoga saja ini tak berlangsung lama.
When you know your friends are miles away,
Remember that you still see the same bright sun, the clear night sky, the same moon, the same sparkling stars with them.