Jika aku duduk di bangku pesantren yang terletak di sebelah timur lantai 2, malam hari, aku seringkali melihat seorang nenek jalan sendirian dari arah utara ke arah selatan. Beberapa menit kemudian, dia berbalik arah dengan membawa sesuatu. Aku tak begitu paham apa yang dibawanya itu. Dilihat sekilas, dia seperti orang yang linglung. Memakai pakaian seadanya, rambut acak-acakan dan raut muka datar, terkesan dingin dan tak peduli dengan dunia. Siapa sebenarnya dia?
Aku tak tahu menahu tentang wanita tua yang kerap jalan kaki sendirian menembus malam itu. Padahal, menurut legenda kampung setempat, jalan yang biasa dia lalui itu termasuk jalan yang wingit. Pada tahun 90-an, banyak cerita yang dapat membuat bulu kuduk berdiri. Antara lain kisah orang frustasi yang akhirnya gantung diri di pohon besar sebelah timur jalan tersebut, kisah glundung pringis (hantu yang berwujud hanya kepalanya saja) di belakang rumah pak Suratman yang kala itu masih berupa hutan disertai banyak pohon kelapa. Kisah hantu yang mendiami belik (kolam kecil) di tengah-tengah rumpun bambu, yang di kemudian hari rumpun bambu ini menjadi cikal bakal bangunan pesantren yang aku tempati kini. Namun, dari sekian banyak kisah makhluk halus yang beredar dari mulut ke mulut penduduk Pabuaran, rupanya tak mempengaruhi nenek itu untuk ‘berkelana’ di malam yang gelap. Mungkin benar juga prasangkaku tadi kalau dia itu orang yang linglung, setengah akalnya hilang. Kasihan sekali.
Langkahnya pelan dan tubuhnya renta. Semuanya nampak begitu jelas dan tak bisa ditutup-tutupi lagi. Ah, alangkah keluarganya masih ada dan merawat nenek itu dengan sepenuh hati. Di manakah gerangan keluarganya? Bukankah keluarganya punya kewajiban untuk merawat nenek itu? Tidakkah mereka ingat ketika mereka masih kecil dan dirawat oleh nenek itu dengan penuh kasih sayang? Setelah mereka dewasa dan bisa mencari rejeki sendiri, lalu mereka lupa begitu saja dengan jasa baik orang tua mereka, nenek itu? Orang macam apa mereka itu? Meninggalkan wanita tua, sendirian, di tengah kegelapan malam, tanpa tujuan, tanpa arah yang jelas, penuh kebingungan, astaghfirullah, semoga Tuhan memberikan perlindungan bagi wanita tua itu.
Melihatnya, aku jadi teringat dengan sosok nenekku yang telah tiada tahun lalu. Aku teringat bagaimana nenek memiliki etos kerja yang tak boleh diremehkan. Beliau bekerja secara langganan di sebuah toko pakan ternak yang disebut toko Mekar Abadi. Toko tersebut terletak di daerah bernama Pantok, kira-kira 700 meter ke arah utara dari rumahku. Tiap malam Minggu, nenek bekerja di sana sebagai tukang pijat. Seringkali nenek pulang malam di atas jam 9. Sehingga, mau tak mau beliau akan berjalan sendiri menyusuri jalan protokol yang sudah lengang dari lalu lalang kendaraan bermotor. Sebelum sampai di rumah, beliau tak lupa akan membelikan aku jajan di warung pinggir jalan. Jajan apapun itu. Tentu saja jajan tersebut untukku. Nenek adalah pribadi yang tak pernah ‘berani’ pulang rumah dengan tangan hampa. Dari mana pun, pasti ada jajan yang beliau bawa untukku. Pernah suatu ketika saat beliau masih ada di Palembang, beliau seringkali menangis saban hari sambil meminta Mbak Nur supaya membelikan jajan untukku. Kasihan aku, katanya. Tiap hari pula, beliau minta pulang. Berjalan santai keluar rumah dan mendapati lingkungan sekitar rumah begitu asing, ini bukan Purworejo, Ini adalah tanah Musi. Jauh seberang pulau melewati ratusan bahkan ribuan kota dan ribuan kilometer dari kampung halaman. Beliau pun menangis lagi, ingin segera pulang dan membelikanku jajan.
Kalau demikian, siapapun pasti akan setuju kalau nenekku adalah salah satu nenek terbaik di dunia ini. Bukan soal jajan yang beliau berikan kepadaku setiap hari. Bukan pula tentang hidangan tiap pagi disertai segelas teh hangat. Namun soal kasih sayang yang tak mungkin ada duanya, yang dengan tulus diberikan beliau kepadaku. Itu yang kuperolah dari seorang nenek. Aku bangga punya nenek seperti beliau. Dengan kesederhanaannya, dengan keluguannya, dan segala canda tawa khas beliau. Cerita-cerita lawas beliau ketika beliau masih muda dan menjumpai orang tinggi besar bermata biru (tentara Belanda), keterampilan membatik beliau, ngaji beliau dengan seorang ustadz desa. Semua cerita klasik itu telah pergi selama-lamanya bersama meninggalnya nenekku. Kisah unik yang mustahil ditemukan di toko buku manapun. Kisah yang membuatku kangen untuk sekedar tidur-tiduran di samping nenek seraya mendengarkan nenek bercerita tentang masa lalunya. Ah, betapa indahnya masa-masa itu.
Kamis, 05 Juli 2012
Rabu, 04 Juli 2012
Malam Nisfu Sya’ban

Beruntung tahun ini aku ‘merayakan’ malam Nisfu Sya’ban di pesantren. Bandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, ketika aku masih berada di rumah Purworejo. Waktu itu, aku hanya melihat status teman-temanku di Facebook, maupun kiriman pesan singkat dari rekanku yang isinya supaya kita jangan sampai melewatkan malam agung ini. Namun apa daya, amalan malam Nisfu Sa’ban pun aku tak tahu apa saja macamnya. Alhasil, malam mulia ini di tahun-tahun sebelumnya aku lewatkan begitu saja tanpa melakukan anjuran nabi. Sayang sekali memang.
Selepas Maghrib di masjid pesantren, mas Umam, ustadz senior kita, memberikan ceramah singkat mengenai macam-macam amalan sunah muakkad dikerjakan dalam malam Nisfu Sya’ban. Antara lain, kita menunaikan ibadah sholat Awwabin alias sholat tobat sebanyak dua rakaat. Kemudian dilanjutkan dengan sholat tasbih sebanyak 4 rakaat dengan dua kali salam. Terakhir, ditutup dengan membaca surat Yasin sebanyak 3 kali. Bacaan pertama, diniatkan supaya mendapatkan umur yang panjang dan barokah. Bacaan kedua diniatkan supaya kita memperoleh rejeki yang halal dan berkah. Sedangkan bacaan ketiga diniatkan supaya kita meninggal esok dalam keadaan khusnul khotimah. Ketiga amalan khas Nisfu Sya’ban ini kemudian ditutup dengan ibadah sholat Isya’ berjamaah.
Beruntung sekali bagi mereka yang mengagungkan malam Nisfu Sya’ban, dan merugilah mereka yang menyia-nyiakannya.
Ramadhan Tanpa Nenek

Ramadhan kali ini beda dengan ramadhan-ramadhan sebelumnya. Tak ada sosok nenek yang begitu menyayangiku itu. Bukannya apa-apa, aku hanya merindukannya saja. Andaikan aku diberi kesempatan sekali saja untuk menikmati Ramadhan bersama beliau untuk terakhir kalinya.
Aku masih teringat ketika Ramadhan dua tahun yang lalu, masih kujalani dengan nenek. Seperti biasanya, nenek pasti berteriak-teriak dari kamarnya untuk membangunkanku setelah jam menunjukkan pukul 3 pagi. Kemudian, aku memasak mie instan untuk menu sahur kita. Kalau nenek sudah membeli lauk semalam, maka tugasku hanya menyiapkan minuman hangat dan peralatan makan lengkap dengan menu yang sudah dihangatkan. Terkadang bapak juga datang ke rumah kita untuk mengantarkan menu sahur. Pernah suatu ketika aku memasak mie instan ditambah dengan telur. Caranya, telur dimasak langsung bersama mie rebus sampai matang. Setelah aku mempersilakan nenek untuk memakannya, ternyata nenek tak suka dengan mie buatanku itu. Orang Jawa bilang, mbedhedhek tur marai neg. Itu ‘kan kata nenek, kata aku sih oke oke saja.
Ramadhan setahun yang lalu, kuhabiskan di Palembang. Aku dan ibu ke sana karena akan membawa nenek pulang ke Jawa setelah dua bulan lebih berada di sana. Seraya melewatkan bulan suci di tanah Musi, aku benar-benar tak menyangka kalau itu adalah Ramadhan terakhir yang kuhabiskan bersama nenek.
Tentang peristiwa di stasiun kereta Manggarai. Aku, ibu dan nenek sedang makan siang di kursi tunggu penumpang. Benar kata orang-orang, harga apapun di Jakarta pasti mahal, tak seperti di kota-kota kecil, tak terkecuali harga nasi rames sekalipun. Menu makan siang kami biasa-biasa saja. Nasi rames dengan tempe goreng satu buah, itu pun dihargai Rp 5000,00. Waktu itu aku tak menghabiskan makan siangnya, dan aku tanya apakah ada karet gelang untuk mengikat kembali bungkus ramesku. Nenek yang saat itu salah dengar, dikiranya aku ingin minta tambahan lauk. Tanpa pikir panjang lagi, nenek memberiku tempe gorengnya yang tinggal separuh. Aku lalu bilang kalau aku bukan minta lauk, tapi minta karet gelang. Nenek pun kemudian melanjutkan makan siangnya. Aku hanya melihatnya makan. Kasih sayangnya begitu besar kepada cucunya. Bahkan sampai urusan makan pun, beliau tak keberatan untuk berbagi.
Dan nenek pun menangis ketika aku memeluknya untuk terakhir kalinya. Aku lalu pamit pulang ke Purwokerto, seraya meyakinkan beliau kalau suatu saat nanti aku pasti menjenguknya lagi. Saat aku memeluk nenek, sebenarnya aku sudah merasa kalau itu adalah pelukan terakhirku untuk beliau, namun aku tak berani mengungkapkannya. Cukup hanya aku saja yang tahu. Cukup aku saja yang menyimpan prasangka yang jadi kenyataan itu.
Kata-kata terakhir nenek yang kudengar adalah ketika ibu meneleponku dari Tangerang. Ibu memintaku untuk berkunjung ke sana kalau liburan. Saat itu aku mendengar kata nenek yang sedang ngomong di belakang, “Kamu ga kangen sama mbah apa, Gus?”. Aku langsung menjawab, “Iya, mbah, aku pasti ke sana kalau ada liburan”. Itu saja, percakapan terakhirku dengan nenek melalui telepon.
Namun aku yakin, setiap kali aku membacakan doa untuk nenek, nenek pasti mendengarkan aku bicara. Nenek pasti tahu kalau aku juga kangen beliau. Ramadhan kali ini nenek pasti berada di suatu tempat yang lebih indah dibanding belahan dunia mana pun. Beliau pasti sedang gembira dengan tempat barunya itu sehingga tak sepatutnya aku bersedih jika nenek bahagia.
Semoga nenek tenang di alam sana.
Radio

Di jaman yang serba canggih seperti saat ini, bisa dikatakan radio adalah media yang sudah ketinggalan jaman. Bagi masyarakat desa atau mereka yang tinggal di daerah pedalaman, radio masih difungsikan ibarat pengganti televisi, pengantar kabar ibu kota sampai ke telinga mereka, pengganti surat kabar (mereka tak sempat duduk-duduk di suatu pagi/ sore sekedar membaca surat kabar harian sambil menyeruput secangkir teh hangat), maupun sebagai media penghibur satu-satunya bagi mereka. Namun bagi masyarakat kota, radio ibarat makanan kadaluwarsa. Tanggal layak konsumsinya sudah lama lewat. Kehadirannya sudah digantikan dengan perangkat yang jauh lebih canggih, televisi, internet, komputer, PC, laptop, notebook, netbook, tablet, ponsel, dan lain sebagainya. Benarkah demikian?
Setidaknya bagiku, hal tersebut tidak benar sepenuhnya. Sesungguhnya aku bingung, aku ini layak disebut orang desa atau kota. Untuk lebih amannya, barangkali lebih etis disebut sebagai anak daerah transisi. Bahasa gampangnya, anak desa enggak, anak kota pun enggak. Ngarit atau macul bisa, naik lift atau elevator pun bisa. Makan sambal bawang oke-oke saja, makan ayam bakar sekelas KFC juga tidak nolak. Ndengerin radio iya, memakai smartphone juga sudah menjadi kewajiban sehari-hari.
Radio, meski aku sudah tidak memiliki benda ini secara fisik, namun tetap saja aku tetap menaruh hati kepadanya. Tengoklah sejarah, saat aku masih SMP, aku memiliki radio merk Polytron. Melalui benda yang konon tahan banting itu, aku mulai mengenal lagu-lagu barat melalui saluran yang aku hafal frekuensinya. Biasanya di pagi atau di sore hari, aku nongkrong di pohon bambu yang tumbang di belakang rumah. Menikmati siaran radio tanpa seorang pun yang mengganggu. Inilah saat-saat favoritku masa itu.
Ketika aku masih kecil, belum mencapai umur 8 tahun, aku ingat bapak sering menyetel acara wayang kulit di stasiun radio swasta Amatron. Biasanya acara tersebut mulai lewat tengah malam. Kalau aku terbangun, aku sering mendengar sinden menyanyi diiringi karawitan khas Jawa. Biarpun aku penggemar lagu barat, aku tetap menaruh perhatian kepada budayaku sendiri. Aku tetap cinta pada suara gending, suara sinden, suara gong dan suara dalang yang menguasai jalan cerita pewayangan.
Setiap malam pula, ada temanku yang nyetel karawitan melalui ponselnya. Biarpun tidak melalui media radio, namun sense-nya tetap membawaku pada budaya mendengarkan radio yang telah punah sejak beberapa tahun yang lalu. Budaya itu kurang lebih seperti mengganti suasana modern di tengah perkotaan ke suasana tradisional pedesaan yang sedang menyaksikan pertunjukan wayang kulit di lapangan. Misbar, kalau gerimis bubar. Bedanya, kalau kamarku, kalau gerimis ya langsung tidur.
Indahnya budaya Jawa, sayangnya hanya beberapa gelintir generasi muda yang mengakui dan menyukainya.
Nicki Minaj Fever!

Masih segar di ingatanku bagaimana hebohnya lagu Girlfriend milik Avril Lavigne menggema sembarang waktu di Ramadhan tahun 2007. Aku-lah penyebabnya. Setiap anak di pesantrenku bahkan tanpa tedeng aling-aling berteriak-teriak macam rang kesurupan, “Hey hey you, i wanna be your girlfriend!”. Setahun kemudian, demam Madonna menjangkiti Ramadhanku di pesantren dengan hits 4 Minutes. Setiap anak yang kutemui selalu bergumam ‘tik tok tik tok’. Sayangnya, tahun berikutnya, 2009,2010,2011, tak ada single andalan yang berhasil menggaet selera musik teman-teman pesantrenku.
Lalu bagaimana dengan tahun 2012? Ha ha ha... munafik kalau tak mau mengakui kalau demam Nicki Minaj bahkan sudah mewabah jauh-jauh sebelum datangnya Ramadhan. Berawal dari Chayun, teman sekamarku yang terkesima dengan lagu-lagu rap yang dipadukan dengan genre electrodance milik penyanyi bernama asli Onika Tanya Maraj ini, akhirnya teman-teman pondokku mulai mendendangkan bahkan ada yang hafal lagu Starship. Beberapa di antaranya langsung nyambung dengan hook lagu Va Va Voom dan Masquerade. Rasanya Ramadhan tahun ini tak hanya diisi dengan ibadah untuk meningkatkan amal kebaikan kita, namun pesantren pasti akan ramai dengan lagu-lagu rap penyanyi asal Trinidad and Tobago ini.
Keep the music play on, dude!
Asus, I’m Into You

Hal yang sangat kuingat ketika awal aku kuliah di Purwokerto adalah susahnya menyelesaikan tugas kampus yang mayoritas harus diketik. Pokoknya, setiap kali ada mata kuliah yang dosennya memberikan tugas (yang harus diketik), aku pasti langsung mengeluh. Pertama, tugas itu pasti menghabiskan uang jajanku. Kedua, aku harus mengerjakan tugas itu di rental komputer, rempong sekali, siang kuliah, sore ngaji, malamnya mengerjakan tugas itu. Ketiga, tak punya banyak waktu untuk main-main atau sekedar istirahat sejenak. Keempat, harus mau berepot-repot dulu berjibaku dengan buku-buku kuliah sebagai penunjang materi tugas, dan beberapa di antaranya berbahasa Inggris. Singkat kata, tugas kuliah waktu itu seperti tiket menuju neraka Jahannam. Tak seorang pun menyukainya, tak seorang pun mengharapkannya. Kalau pun mahasiswa diperbolehkan berdemo agar tugas kuliah ditiadakan selama proses pembelajaran di perguruan tinggi, barangkali aku akan berada di barisan paling depan untuk mendukung aksi tersebut dengan sepenuh hati.
Tapi, rasanya mimpi buruk tugas itu usai sudah. Tanggal 1 Juli 2012 kemarin, aku sudah punya netbook baru. Tak tanggung-tanggung, merk Asus berhasil aku bawa pulang. Mengapa harus Asus? Sebagai bahan perbandingan saja, aku tak tertarik untuk membeli merk lain karena beberapa pertimbangan. Acer adalah merk pasaran namun daya tahan baterai yang agak meragukan. Axioo, merk lokal yang dijual murah meriah di pameran laptop. Usut punya usut, merk tersebut dijual murah karena sedang ada cuci gudang. Bayangkan saja, bagaimana kualitas produk cuci gudang? Toshiba, Lenovo, merk bagus dan terkenal namun tampilannya minimalis sekali alias terlalu sederhana. HP, produk yang bahkan tak terdapat di 5 besar merk laptop favorit di Indonesia. Samsung, merk laptop yang service centre-nya belum ada di Purwokerto dan kota-kota sekitarnya. Sehingga, pilihanku jatuh pada Asus. Ada dua orang temanku yang sudah memiliki laptop merk tersebut, dan sejauh ini mereka tak mengeluhkan kinerja gadgetnya. Hal yang paling mendasari aku memilih merk Asus karena setiap produk Asus dilengkapi teknologi CoolingPad, yang membuat netbook tak cepat panas meski dipakai lama. Ditambah daya tahan baterai yang mumpuni. Sehari hanya dicharge sekali dan dapat dipakai full komputasi seharian. Kemampuannya benar-benar membuat aku geleng-geleng kepala. Heuheuheu...
Tanggal 29 Juni- 8 Juli 2012, ada Banyumas Expo di Auditorium Unsoed. Acara tahunan ini biasanya dimanfaatkan toko-toko laptop, funrniture dan ponsel-ponsel untuk mempromosikan produk mereka. Hari pertama expo dibuka, aku dan teman-temanku berencana untuk melihat-lihat produk apa saja yang ada di pameran tersebut, termasuk laptop. Tak lupa, kita juga menggondol pamflet, buku promosi, selebaran promosi produk-produk laptop secara cuma-cuma. Hari kedua, kita masih sama, tanya-tanya harga sekaligus membandingkan harga laptop di stand satu ke stand lainnya. Akhirnya pilihan kita jatuh ke stand El’s Computer. Alasannya, harga di stand yang tokonya berbasis di sebelah utara Sri Ratu Supermarket ini lebih murah dan sudah begitu masih diberi potongan harga. Namun kami belum membawa pulang barang di hari kedua. Semuanya terjadi di hari ketiga expo. Aku dan Ahal (seharusnya kita bersama Faiq, namun anak yang satu ini galau terlalu lama untuk menentukan apakah dia jadi membeli notebook atau tidak. Alhasil kita jalan dulu, bukankah lebih cepat lebih baik?) berangkat ke expo setelah ashar dengan membawa tas punggung yang mirip ransel agar tak seorangpun tahu kalau kita baru saja membeli gadget baru. Tanpa perlu tanya-tanya harga berlama-lama, kita langsung menuju ke TKP, stand El’s Computer. Aku meminta netbook Asus dengan warna merah, sedangkan Ahal memilih notebook warna putih (hanya sebagai informasi, laptop memiliki luas layar 14 inci atau lebih, notebook seluas layar 12 inci, sedangkan netbook hanya 10 inchi). Sambil meneliti produk, kita sempat ngisengin penjualnya yang kira-kira memang seumuran dengan kita. Tanpa malu-malu, kita bisa-bisanya menawar harga yang sudah dipotong berkali-kali itu. Bayangkan kurs dollar saat itu masih Rp 9600,00, namun khusus untuk pameran, dollar dihargai Rp 9200,00. Itupun masih dapat potongan Rp 50.000,00 sebagai potongan promosi. Kalau ada orang yang ‘tega’ menawar harga, rasanya orang tersebut memang keterlaluan
Senang telah memiliki gadget baru, sepulangnya dari expo, kita langsung meminta Najib, temanku yang mahir dalam urusan laptop dan komputer, untuk menginstalkan Windows. Untungnya dia bersedia mengabulkan permintaan kita. Awalnya aku minta netbookku diinstal Windows 8, namun ternyata resolusi layar netbookku tak mendukung, sehingga berakibat Live Tile di halaman utama tak berfungsi sebagaimana seharusnya. Akhirnya, cukup terima instal dengan Windows 7 yang user interfacenya sudah sangat familiar bagi kita. Meski demikian, aku sudah sangat bersyukur dengan adanya netbook baru ini. Semoga benda ini membawa kemanfaatan bagiku dan orang-orang di sekelilingku.
Kamis, 28 Juni 2012
Next Novel
Ada proyek baru! Proyek ini memang bukan proyek besar sekelas Lomba Novel Republika yang dihelat tahun lalu. Hadiah utamanya pun mentok di angka 5 juta rupiah. Munafik rasanya kalau aku bilang tak tertarik dengan hadiahnya. Namun, seorang penulis yang hanya menyandarkan karyanya dengan imbalan uang alias money oriented adalah golongan penulis yang ecek-ecek. Sama halnya dengan penyanyi atau entertainer yang hanya mencari uang dengan mengorbankan aspek estetika, moral, sopan santun maupun nilai-nilai penting lainnya. Tentu saja tak serendah itu niatku, hanya mencari uang. Meski tak dinafikan kalau uang itu adalah penyemangat. Toh, apa ada yang salah dengan kata penyemangat? Apa ada yang salah jika ada yang berkata, “Aku semangat sekolah karena keluargakulah semangatku”. Tujuan utamanya tetap sekolah, keluarga hanya mendorong. Tujuan utamaku tetap menulis, uang hanya mendorongku. Hanya orang yang ber-IQ cerdas yang hanya bisa memahami maksudku
Apakah novel soal cinta? Ah, cinta memang ada di mana-mana. Namun aku tak ingin hanya berkiblat pada satu ide cerita yang itu-itu saja. Tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, cinta yang tak diungkapkan, cinta yang dikhianati maupun tema cinta yang mudah saja ditebak alur ceritanya. Aku ingin membuat cerita yang belum pernah terpikirkan sebelumnya oleh siapapun. Dipadu dengan permainan alur yang maju mundur namun dijamin tidak membingungkan. Mengkawinkan antara dua orang yang memiliki persamaan ide dan hobi namun berbeda cara pandang serta sikap mereka saat dihadapkan dengan seorang gadis desa yang tak sembarangan: dia paham bagaimana cara memberi pelajaran kepada seorang casanova. Dan inti dari kisah ini justru terletak pada budaya. Aku rasa aman menyebut kalau novel ketigaku ini adalah novel budaya. Ya, karena aku memang memasukkan unsur budaya Yogyakarta yang sebenarnya hanya kuketahui sedikit. Itu pun aku dapatkan dari browsing di internet selama beberapa hari. (Bandingkan dengan Andrea Hirata yang memerlukan riset selama bertahun-tahun sehingga bisa menuliskan tetraloginya yang fenomenal itu). Sekali lagi, tak hanya mengangkat ide budaya yang aku suguhkan, aku kembali melakukan percampuran dengan lambang-lambang yang mendunia. Apalagi kalau bukan lambang grup sepak bola dunia. Biarpun aku bukan penggemar fanatik sepak bola, setidaknya aku tahu kalau Manchester United itu lambangnya berwarna merah dan Intermilan itu berasal dari Italia.
Dengan berbagai macam ide yang aku masukkan ke dalam novel ketigaku ini, aku berharap pembaca tak sekedar menjudge-ku sebagai penulis yang asal nulis. Aku ingin pembaca bisa mengambil ide yang aku sampaikan. Syukur-syukur ide itu bisa berguna untuk mereka nanti.
Mengenai judul, aku tak mau sesumbar di sini. Aku belum menemukan judul yang pas. Namun satu kata kunci akan aku bocorkan di tulisan blogku ini. Buketan. Ini adalah satu kata yang pasti muncul karena ini adalah keyword dari novelku. Semoga saja nanti bisa menemukan judul yang bisa membuat para juri melirik novelku. Amin.
Apakah novel soal cinta? Ah, cinta memang ada di mana-mana. Namun aku tak ingin hanya berkiblat pada satu ide cerita yang itu-itu saja. Tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, cinta yang tak diungkapkan, cinta yang dikhianati maupun tema cinta yang mudah saja ditebak alur ceritanya. Aku ingin membuat cerita yang belum pernah terpikirkan sebelumnya oleh siapapun. Dipadu dengan permainan alur yang maju mundur namun dijamin tidak membingungkan. Mengkawinkan antara dua orang yang memiliki persamaan ide dan hobi namun berbeda cara pandang serta sikap mereka saat dihadapkan dengan seorang gadis desa yang tak sembarangan: dia paham bagaimana cara memberi pelajaran kepada seorang casanova. Dan inti dari kisah ini justru terletak pada budaya. Aku rasa aman menyebut kalau novel ketigaku ini adalah novel budaya. Ya, karena aku memang memasukkan unsur budaya Yogyakarta yang sebenarnya hanya kuketahui sedikit. Itu pun aku dapatkan dari browsing di internet selama beberapa hari. (Bandingkan dengan Andrea Hirata yang memerlukan riset selama bertahun-tahun sehingga bisa menuliskan tetraloginya yang fenomenal itu). Sekali lagi, tak hanya mengangkat ide budaya yang aku suguhkan, aku kembali melakukan percampuran dengan lambang-lambang yang mendunia. Apalagi kalau bukan lambang grup sepak bola dunia. Biarpun aku bukan penggemar fanatik sepak bola, setidaknya aku tahu kalau Manchester United itu lambangnya berwarna merah dan Intermilan itu berasal dari Italia.
Dengan berbagai macam ide yang aku masukkan ke dalam novel ketigaku ini, aku berharap pembaca tak sekedar menjudge-ku sebagai penulis yang asal nulis. Aku ingin pembaca bisa mengambil ide yang aku sampaikan. Syukur-syukur ide itu bisa berguna untuk mereka nanti.
Mengenai judul, aku tak mau sesumbar di sini. Aku belum menemukan judul yang pas. Namun satu kata kunci akan aku bocorkan di tulisan blogku ini. Buketan. Ini adalah satu kata yang pasti muncul karena ini adalah keyword dari novelku. Semoga saja nanti bisa menemukan judul yang bisa membuat para juri melirik novelku. Amin.
