Kamis, 21 Februari 2013
Elegi Tempat Kediaman
Kembali ke tempat kediaman barangkali menjadi salah satu hal yang kuidamkan.
Setidaknya aku merasakannya, atau mungkin juga dengan apa yang orang lain rasakan.
Kembali ke rumah bermakna pula aku bisa mendengarkan apa yang aku sebut dengan nyanyian.
Alam-lah yang melakukannya, mendendangkan syair, tanpa rima, tanpa kata, tanpa bait, tanpa dentingan namun menolak segala kesenyapan.
Tentang beriak air sungai yang memecah keheningan.
Tentang hewan malam yang menyalak di tengah hutan.
Memadupadankan suara jangkrik dan kunang-kunang beterbangan.
Inilah yang selalu kusukai ketika aku kembali ke tanah kelahiran.
Tempat di mana aku bisa menikmati apa yang tak bisa kurasakan kala di tanah perantauan.
Berarti pula berkuasa di kamar sendiri tanpa riuh kebisingan.
Bebas memutar musik tanpa ada yang protes mengapa lagu yang diputar selalu kebarat-baratan.
Bebas menjelajah kota, mengenang jaman SMA dan sesekali bertandang ke rumah teman.
Dan inilah yang kusuka dari suasana tempat kediaman.
Kumendengar Murottalan dari pesantren seberang bengawan.
Yaitu aura sepertiga malam yang jarang kudengar jika sedang ada di perantauan.
Namun, aku tak pernah mengatakan bahwa Al Amin patut dipersalahkan.
Kukatakan, “Murottalannya Al Amin bukanlah kaset, namun dilakukan oleh qori’-qori’ andalan”.
Yang suara mereka merdu tiada yang bisa mengalahkan.
Tapi, jarang kudengar ada suara surga menembus melalui bilik-bilik kamar yang dihuni puluhan.
Yang ada, ya musikan, ndopokan, nonton TV, Facebookan, gitaran dan pastinya cengengesan.
Sehingga, kadang aku nyaman dengan kamarku ini, yang sederhana ditaburi Murottalan di kala hujan.
Bahkan sampai-sampai aku malas kembali ke perantauan.
Dan mendadak semuanya tenggelam dalam sebuah keraguan.
Berawal dari sebuah meja yang di atasnya tersedia makanan.
Biasanya kami memakannya bersama-sama , diiringi gelak tawa, candaan, bertanya makanan ini datang dari siapa dan ujung-ujungnya main comblang-comblangan.
Lalu kali ini, semuanya mendadak runtuh dalam kesenyapan: aku harus memakannya seorang diri tanpa teman.
Aku tak mengatakan itu sudah menjadi kenangan.
Pastilah aku suatu saat kembali dengan beberapa jajan kesukaan kalian.
Tentu saja bilamana Tuhan mengijinkan.
Hanya saja, aku ingin mengungkapkan sebuah kejujuran.
Mungkin hanya aku, yang ketika jauh dari Al Amin tiba-tiba merindukan ramainya kebersamaan dengan kawan-kawan.
Sholat bersama, makan bersama, dolan bersama, ndopokan bersama, jogging bersama, gundah gulana masih bersama, dan semuanya hiruk pikuk di dalam ingatan.
Mungkin hanya aku saja, yang berpikir bahwa Al Amin selalu ada di dalam ingatan.
#Terima kasih sudah menemani meski kamu tak ada di sini.
3 - IM3
Tentang salah satu contoh kesetiaan yang sedang kubangun sampai sekarang adalah bagaimana loyalitasku pada pemakaian nomor ponsel. Hal sepele memang. Akan tetapi, meskipun hal tersebut bukanlah perkara krusial dan melanggarnya pun tidak akan ditindak pidana, kumerasa tetap perlu melakukannya. Dimulai dari melaksanakan hal-hal yang sepele dan membiasakannya, sehingga aku tak perlu kerepotan untuk menjaga kesetiaanku untuk perkara yang lebih besar nanti. Pernikahan contohnya. Tapi sudahlah, aku sedang tidak akan membahas soal pernikahan, terlalu jauh dan terlalu spekulatif jika memaksakan untuk menjabarkannya di forum ini. Kembali pada pokok bahasan awal bahwa aku hanya sedang mencoba setia memakai satu nomor ponsel saja.
Aku adalah penggemar setia 3 sejak bertahun-tahun lalu. Tepatnya aku lupa kapan. Pastinya sudah lebih 3 tahun aku menjadikan operator asli Inggris ini sebagai sahabat telekomunikasiku. Banyak kelebihan yang ditawarkan sehingga membuatku tetap setia. Ibarat alasan setia mengapa suami betah di rumah, salah tiganya karena istrinya cantik, ahli memasak dan penyayang. Maka beberapa salah (alasan, bukan hanya salah satu) kenapa aku begitu sticky dengan operator 3 karena paket sms dan internet yang diobral sembarang kuota. Ingatkah bahwa sampai saat ini 3 menawarkan promosi kirim sms ke sesama operator tanpa batas alias unlimited? Sebenarnya bukan unlimited sih, sekitar berapa puluh ribu sms gitu, namun siapa orang yang bisa menghabiskan kuota sms segitu banyaknya dalam sehari hanya setelah mengirim satu sms seharga lima ratus perak? (Mau keloloden hp apa?). Belum lagi paket internet yang masya Allah murahnya. Saat ini bahkan aku sudah mendaftarkan nomorku untuk berlanggangan AlwaysOn selama setahun. Itu artinya aku mendapatkan kuota internet sekian MB selama setahun ke depan. Belum lagi harga paket tambahan sebanyak 100 MB hanya dihargai Rp 5.000,00. Mana ada operator yang rela banting harga sedemikian kerasnya?
Satu lagi, karena ponselku bisa dibuat modem, itu artinya aku semakin bebas mengakses jejaring sosial sekaligus ngurusin blog-ku tanpa harus kelimpungan menjadi tempat online gratis yang mulai banyak tersebar di sepanjang kotaku. Tetap stay cool di dalam kamar, sambil ngemil seraya menikmati segelas susu kacang ijo, rasanya tak berlebihan kalau aku menganggap surga dunia dipindahkan sebentar ke kamarku. Peduli setan dengan modem yang belum kuisi, ponselku ternyata multiguna meskipun fiturnya tak semegah harapanku.
Sampai suatu ketika kesetiaanku diuji ketika aku bertandang ke rumahnya Hasan di pedalaman Batang. Aku mengatakan pedalaman karena nyatanya rumahnya teramat jauh dari jangkauan. Melewati areal persawahan beberapa kali dan setiap sawah luasnya barangkali hanya bisa ditandingi dengan tiga kali ukuran lapangan sepak bola. Pun demikian, kita masih harus melewati pemukiman penduduk, melewati muara, menyeberang jembatan dan gang-gang kecil dengan puluhan anak kecil yang mewek minta dibeliin jajan sama emaknya. Duh, melihat pemandangan yang sedemikian getirnya, hanya satu hal yang amat kukhawatirkan, jangan-jangan tidak ada sinyal 3 di sini.
Tuhan pun mengabulkan kekhawatiranku. Aku dikerjain habis-habisan oleh Kecamatan Depok, Kabupaten Batang. Tidak ada sinyal 3 barang satu bar pun. Kalau pun ada, aku harus keluar rumah, nongkrong di belakang rumah, beratapkan langit dan dikelilingi oleh hutan gelap yang acapkali membuat pikiranku ketir-ketir kalau ada makhluk bukan dari bangsa manusia datang menghampiriku ingin ikut aku online dengan hape jadulku. Haduh, memang kuakui tinggal 3 hari di rumah Hasan adalah pengalaman yang menyenangkan. Kita bisa bermain ke laut, ke ladang melati, ke pusat perbelanjaan batik, ke mana-mana namun sayangnya semuanya dibarengi dengan minimalnya sinyal jaringan operatorku.
Dan apalagi yang menarik setelah mengunjungi rumah Hasan? Seperti sejarah bilang, cucu nabi Muhammad yang terkenal seantero jagad yakni Hasan dan Husein. Nah, satu cerita lagi tentang perjalananku ke rumah Husein di Kecamatan Jingkang, Purbalingga. Niat awalnya karena aku dan teman-temanku ingin menengok ibunya Husein yang sedang ditimpa musibah. Sekaligus berpetualang melewati hutan pinus yang selalu bertabur kabut di kala pagi dan sore menjelang. Sebuah pemandangan indah khas pegunungan, dengan berbagai macam tanaman buah ada di sekeliling rumahnya, tak kurang buah jambu, alpukat, papaya, tanaman cengkih, kopi, teh, glagah, dan beberapa tanaman palawija lainnya, menyebabkan aku sebenarnya tak keberatan tinggal di situ berlama-lama (kecuali jika aku tak punya muka dengan enaknya numpang makan gratis di sana). Hanya satu saja kendala, tidak ada sinyal 3 sedikit pun di sana. Sehingga tak heran, ketika aku sudah turun gunung, banyak sms-pun berdatangan dan isinya hampir seragam, memprotes mengapa aku tak pernah membalas sms mereka.
Berangkat dari pengalaman inilah, terpikirkan aku ingin menambah koleksi nomor operatorku. Pilihanku jatuh pada IM3. Tak banyak pertimbangan yang ditawarkan memang. Kebanyakan temanku memakai IM3, ketersediaan sinyal sedikit lumayan dibanding 3, dan paket internet kali ini lumayan kedengarannya (entah bagaimana dengan tariff yang akan ditetapkan ke depannya). Sehingga karena alasan inilah aku membeli perdana IM3 sewaktu aku pulang ke Purworejo kemarin Senin.
Untunglah aku mendapatkan nomor yang tak begitu buruk rupa. Apa pendapat kalian dengan nomor ini? 085602029602. Lalu tebaklah berapa harganya? Empat ribu rupiah, tak lebih dari itu.
Selasa, 29 Januari 2013
Berhenti Berharap
Mumpung kamu sedang tidur. Mumpung kamu tidak online malam ini dan mumpung kamu tidak tahu aku menuliskan ini tentang kamu.
Barangkali karena kemauan dan harapanku saja yang terlalu lancang melampaui batas supaya kamu selalu ada sesuai harapanku. Barangkali pula aku yang terlalu berharap supaya kamu selalu ada di setiap hariku. Layaknya kamu terbit di permulaan hari seperti mentari. Kemudian kamu menemani sepanjang hariku sebagaimana atmosfer yag tak pernah tega meninggalkan bumi. Kamu juga tetap berada di sisiku di sore hari seperti camar laut dengan latar belakang matahari tenggelam, nampak akrab dan semua orang menyukainya. Dan barangkali saja aku terlalu berharap kamu ada di sini untuk membunuh rasa sepiku seperti eratnya hubungan antara angin malam yang membawa para nelayan melaut di tempat ini.
Barangkali pula aku yang terlalu tinggi berharap. Sehingga Tuhan menghukumku atas espektasiku ini: kamu tidak ada di sini. Kamu pasti masih ingat, ketika aku menyumpahi hawa dingin yang membekukan pembuluh darahku di puncak Dieng sana. Waktu itu aku juga menaruh harapku setinggi pengunungan, sehingga keadaan membantingku sampai jurangnya dan aku pun kesakitan menjumpai keadaan bahwa kamu tidak ada di sisiku
Dan dunia kini mungkin menertawaiku untuk kedua kalinya. Bodohnya aku juga masih mengharapkanmu ketika aku bersama sahabat-sahabat di tempat ini. Layaknya aku sedang berlayar naik kapal pesiar dan harapanku itu kembali menenggelamkanku ke palung samudera terdalam. Padahal aku tak bisa berenang sama sekali. Kamu tahu? Sakit sekali.
Iya terlalu mengharapkanmu mungkin memang membuatmu tak berada di sini. Bukankah aku sudah dua kali membuktikannya sendiri?
Dan malam ini kuberanikan berspekulasi, sekarang aku harus mencoba untuk tidak terlalu mengharapkanmu. Aku harus berhenti berharap. Siapa tahu dengan itu, suatu saat, tanpa kuduga dan entah di mana itu, kamu bisa ada di sisiku sesuai seperti keinginanku.
Pangandaran, 27 Januari 2013.
00.40
Tak Peduli
Aku ingin terlihat tegar di depan orang yang kucintai.
Tak peduli betapa kerasnya angin menghempaskanku hingga terpental bermil-mil jauhnya.
Maupun derasnya hujan disertai badai yang dengan kejam memaksaku mengalah kepada alam sejenak, supaya aku tetap bertahan. Aku hanya ingin tetap terlihat tegar.
Aku akan menunjukkan kepadanya, bahwa masih ada setitik keindahan dalam hidup meski semua itu terangkum oleh labirin antara hidup dan mati.
Kata penulis Rusia, aku tak akan menunjukkan kepadamu bahwa bulan itu bersinar. Sebab memang begitu adanya. Tapi aku akan memberitahumu bahwa masih ada pantulan cahaya yang menakjubkan pada pecahan gelas. Cahaya itu tetaplah indah dan kuyakin kamu akan terkesima karenanya, percayalah padaku.
Dan tinggallah sejenak denganku satu atau dua jam saja.
Aku akan mengajakmu membuat papan luncur udara dari daun ilalang. Atau bermain kapas terbang dari bunganya.
Selagi aku bisa, aku akan membuatmu gembira dengan apa yang ada di sekelilingku.
Dan suatu ketika aku akan mengajakmu di tepian danau selepas malam datang sehabis hujan.
Kita akan mencoba mengetes pendengaran kita tentang nama suara-suara hewan malam yang bersahut riang. Kamu pasti kesulitan mengenali suara mereka, namun aku janji untuk mengajarimu tentang itu.
Dan saat kamu pergi nanti, aku juga janji untuk berusaha tegar di depanmu.
Tak peduli seberapa lama kamu pergi.
Tak peduli apakah kamu akan jatuh cinta kepada seseorang yang kau temui nanti.
Tak peduli akankah kamu kembali atau itu hanya mimpi.
Tak peduli apakah kamu bersuka cita atau bersedih hati karena ini.
Aku tetap berusaha tegar untuk orang yang kucintai.
Selasa, 22 Januari 2013
That Scandinavian Girl
Terkadang, yang ga disengaja dan yang ga disangka-sangka itu lebih menyenangkan.
Bayangkan saja, semuanya berawal dari kebosananku mendengarkan lagu bergenre country. Sebutlah lagu-lagu yang menceritakan tentang pengkhianatan, ditinggalkan oleh orang yang kita dicintai, dibohongi, dilahirkan di dunia ini dengan membawa karakter lemah dan mudah dilukai serta sederet sisi-sisi kelam yang dinyanyikan dengan irama banjo serta gitar akustik. Memang tak semuanya lagu country seperti itu. Mungkin hanya karena faktor kebetulan saja lagu-lagu country di playlistku mengangkat tema-tema tragis seperti di atas tadi. Jika aku berani, mudah saja aku mengkambinghitamkan Taylor Swift yang terlalu sering menyanyikan lagu berirama galau. Sehingga ketika aku mendengarkannya, maka kegalauanku malah makin menjadi-jadi. Akhirnya, segala hal yang memalukan pun terjadi. Entah karena aku paham arti liriknya, terlalu hanyut di dalam jalan cerita lagu tersebut, atau kebetulan lagu itu sesuai dengan keadaan/ kondisi hatiku waktu mendengarkannya, akhirnya pun mewek. Meski tak sampai berlinang air mata, namun rasanya cukup untuk membuatku malas mengaji bahkan malas mandi sekalipun. Inilah akibat salah memilih genre musik. Bukannya malah bersemangat, tapi malah terlarut dalam ilusi-ilusi kesedihan yang sebenarnya tak perlu terjadi. Alhasil, aku berniat menswitch genre agar aku tak berlama-lama dalam kondisi kelabu seperti ini.
Secara universal, sederhana saja keinginanku. Ingin tampil sebagai orang yang kuat, tak gampang cengeng karena lagu-lagu mellow, berkarakter keras, tegas dan kurasa semua itu bisa berawal dari mengganti lagu yang saban hari akan menemaniku ke mana pun aku berada. Ingatanku langsung melayang kepada seorang penyanyi Skandinavia bernama Marion Raven. Penyanyi 29 tahun asal Norwegia ini sebelumnya pernah ngetop saat dia bersama sahabat karibnya yang bernama Marit Larsen membentuk duo M2M pada tahun 2000-an. Meski hanya menelurkan dua buah album pop yang berjudul Shades Of Purple serta The Big Room, terbukti pamor keduanya cukup berpengaruh di blantika musik internasional terutama di Amerika Utara dan Asia Tenggara.
Memasuki tahun 2003, keduanya memutuskan untuk membubarkan diri dan bersolo karir. Larsen memilih setia di jalur pop dan berhasil merilis beberapa album pop. Aku kurang paham berapa album solonya yang keluar, yang jelas lebih banyak dibanding album Raven. Namun, aku lebih memilih Marion Raven, sebab dia berani keluar dari zona nyaman. Dia nekat menceburkan diri ke dalam genre rock. Dengan suaranya yang powerful dan wajahnya yang sedikit tirus misterius, sudah cukup untuk mendukung keberhasilan solo karirnya. Benar juga, album pertamanya Here I Am laku keras di pasaran. Didukung dengan album sophomorenya, Set Me Free, berhasil menduduki tangga lagu Asia Tenggara. Akan tetapi, rumor tentang kehadiran album ketiganya yang sudah berhembus jauh-jauh hari namun belum menunjukkan gelagat akan keluar, membuatku penasaran untuk iseng-iseng bertanya dengan cewek berambut cokelat ini melalui Twitter.
Sejujurnya, aku belum memfollow dia semalam. Dengan nawaitu iseng, aku memention dia, menanyakan bagaimana kabar album Nevermore-nya yang kerap diperbincangkan akan dirilis tahun 2011 tapi sampai sekarang masih belum kedengaran gaungnya. Tak kusangka, mentionku dibalasnya. Dia menyatakan kalau albumnya akan dirilis pada musim semi 2013 dengan judul yang baru alias bukan bertitel Nevermore lagi. Sedangkan untuk jadwal perilisan untuk seluruh negara di dunia belum dapat dia pastikan. Duh, penyanyi cewek pertama sekaligus cinta pertamaku pada musik rock membalas mentionku. Bolehlah kamu nyebut ini kedengaran katrok atau apalah itu, tapi bagiku ini adalah sesuatu yang lebih menyenangkan dibanding memenangkan togel dengan nominal berapapun.
Gara-gara insiden pembalasan mentionku inilah, mulai hari ini aku sedikit demi sedikit akan mengubah jalur musikku. Tak lagi keseringan ndengerin lagu country atau lagu pop yang berpotensi mendatangkan air mata dan kesedihan. Yang ada di otakku hanyalah dentuman drum dan gitar elektik serta teknik menyanyi yang melengking. Setidaknya, ini akan sedikit memperbaiki moodku yang kadang timbul tenggelam. Aku ingin membuang image country dari diriku.
Saatnya beralih pada musik rock. Sebagai catatan saja, ini bukanlah awal aku menyukai genre ini. Dulu aku adalah penggemar gothic lengkap dengan musik gedumbrangan. Namun sekarang, aku tak perlu berdandan gothic sampai mewarnai kedua mataku dengan eye liner hingga seperti Avril Lavigne. Cukuplah musik dan suasana hatiku saja yang diperbaiki, agar tak sering mendapatkan sebutan galaow.
Apa kesan yang kudapat dari kejadian ini?
Bukankah nabi Muhammad SAW pernah menorehkan tinta sejarah kepada kita sebagai umatnya untuk berhijrah dari kota Mekkah dan Madinah demi misi penyebaran Islam? Hijrah itu sendiri kumaknai secara luas. Bukan hanya sekedar pindah tempat, pindah suasana atau pindah posisi yang lebih menguntungkan dan meninggalkan posisi yang merugikan. Tidak sedangkal itu. Hijrah bisa bermakna penggantian karakter dari sifat buruk ke sifat yang lebih baik. Hijrah dari karakter diri yang merugikan ke karakter pribadi yang menguntungkan dan mendatangkan manfaat bagi sesama. Khusus untuk konteks ini, aku berniat hijrah dari suasana hati yang tak mengenakkan dan berpotensi mendatangkan ghibah menuju suasana hati yang lebih cerah dan mendatangkan aura kebahagiaan bagi siapapun di sekitarku.
Kata siapa musik rock tak bisa mendatangkan kebahagiaan? Kamu yang belum pernah mendengarkannya, niscaya kamu tak akan pernah mempercayainya.
Sabtu, 17 November 2012
Aneh!
Rasanya aneh saja ketika orang sepertiku ada yang menyukainya. Behahahaha... tapi aku serius. Makanya aku nulis ini di blogku, mbok setiap kali aku mengabadikan suatu momen dalam sebuah tulisan, pasti di belakangnya ada suatu memori atau insiden yang benar-benar terjadi. Meskipun itu ga semuanya, meski itu ga bisa dipukul rata, ibarat sinetron lah. Ada yang emang based on true story, ada pula yang abal-abal alias akal-akalan si pengarang cerita biar semua orang terpukau. Nah, perkara ceritaku ini memukau atau ga, dipikir amat sih ga juga. Soalnya aku selalu mengidentikkan nulis beginian sebagai nyampah, sampah dari pikiranku yang bisa ngeracuni pikiran kalau ga cepat-cepat dibuang. Kalau kamu nemuin istilah yang setidaknya lebih bagus dikit daripada nyampah, bisa deh kamu menyumbangkan kata itu ke aku hehehe.
Aku mau cerita yang normal-normal saja. Soalnya udah terlalu banyak cerita yang ga normal menghampiri hidupku. Disukai laki-laki inilah itulah, sampai di inbox orang yang ga kukenal supaya aku manggil dia om. Jijay markijay, demit pun ogah ndulit.
Disukai cewek, ngahahaha ga etis banget diceritain di sini. Tapi, suka-suka aku lah. Ini juga blog-blogku sendiri. Beberapa hari yang lalu aku dapat sms (yang boleh aku bilang pesan singkat) nyasar. Setelah kujabanin beberapa kali kirim sms, dia ngaku namanya Dwi Novita, anak Al Amin juga, asli Rawalo. Ngakunya juga dia sms aku biar dia bisa kenal lebih dekat ma aku. Idih, apa lagi maksud tu cewek?
Tapi, bukan Agus namanya kalau ga penuh perhitungan. Tahukah kamu nomor apa yang dia gunakan ketika kirim sms ke aku? Dia memakai nomor 3, begitu pula aku. Itu artinya, ngirim sms ke sesama 3 itu gratis sampai batas pengiriman pesan tak terhingga. Berarti pula, kemungkinan “orang itu ngerjain aku” makin besar pula. Toh, tukang usil di dunia ini punya karakter yang mudah ditebak: suka pake gratisan yang ga mlorotin pulsa mereka. Yah, selama dia ga neko-neko apalagi minta kawin aja, hayuiuh sms-an, aku malah jadi semangat pengin ngerjain balik tu orang *devilsmile*
Satu lagi, disukai cewek, apalagi dia satu ma’had sama aku (ma’had = satu pesantren, satu tempat, satu lingkungan) sejujurnya ga membuatku nyaman. Tahulah sendirilah kamu bagaimana karakterku. Aku paling ga suka sama yang namanya aturan ini itu, aturan tak tertulis yang mengekang, harus ini harus itu, ga boleh ini apalagi itu, pokoknya semua yang ga ngijinin aku bebas, aku pasti mengutuk habis peraturan itu. Nah, disukai sama cewek pun otomatis ada sebuah aturan nontertulis yang menjadikan aku harus jaim. Kenapa harus jaim? Duh, aku juga bingung gimana ngejelasinnya. Aku harus tampil baik dan enak dipandang di depan umum. Ga boleh tampil serampangan lagi, ga boleh kucel apalagi ga mandi sampe berhari-hari, liat kostum yang dipake dan berusaha mix and match biar serasi, jalannya kudu ati-ati, jaga mulut jangan sampai asal ngejeplak kaya Omas, harus korban perasaan, korban pikiran dan tentunya korban pulsa juga. Dipikir-pikir yang rempong kok malah aku ya?
Hahaha cepet bilang kalau aku aneh! Tapi itu FITNAH! Aku tuh ga aneh! Aku itu aneh banget.
Kamis, 15 November 2012
... dan Itu Pasti....
Barangkali, aku memang perlu mundur beberapa langkah, maap.
Ketika kamu menyapaku terlebih dahulu waktu itu (dunia rasanya memang udah kebolak-balik hahahahah), ah rasanya biasa saja. Aku juga ga perlu bilang wow waktu itu. Setelahnya, kita lalu berteman, bercerita seperti orang yang tak pernah lelah membagi pengalaman hidup kita yang udah terlewat. Kita kemudian sahabatan, makan bareng, ketawa bareng, sedih bareng, galau bareng sampai ngamuk ngamuk pun bareng. Kalau ada anak alay tanya: sohiban? Cyuuus miapah? Bakalan kujawab neh: “mipaleluw”.
Demi kepala kebo yang kompal kampul di tengah laut di malam 1 Suro, aku bener-bener dah ngerasa klop nemuin temen kaya kamu. Biarpun watak kita beda jauh, macam aku Giant, kamu Shisuka, aku gampang ngamuk –alhamdulillah ga sampe makan beling segala- sedangkan kamu kalemnya masya Allah, aku suka warna merah –biarin orang bilang aku caper, tapi kamu ga perlu caper pun kamu malah udah jadi puper. Pokoknya kita emang beda, bedaaaa jauh. Aku di Norwegia, kamu di Ethiopia sana ahqhqhqhqhq
Terlepas dari itu semua, kita udah janjian yah, kita tetep temenan. Kaga perlu silang jari kelingking lah, dunia dah cukup cerdas buat memahaminya. Aku terus mencoba buat jadi teman yg baik buat kamu, begitu pun kamu. Aku nyampah semua masalahku ke kamu, dan celakanya sampahmu lebih parah kapasitasnya ke aku (ngahahahaha, kaga masalah kok). Kita janji buat tetap sohiban biarpun kita akan berpisah suatu saat nanti, dan itu pasti. Kita janjian buat tetap berteman meskipun kita ga bisa nyampah kaya dulu lagi suatu saat nanti, dan itu pasti. Kita janji buat tetap berkawan biarpun kita ga bisa nimpuk kepala masing-masing, ngukur jalan bareng, makan cilok bareng, ngerasani orang bareng, nongkrong bareng, nggelandang bareng, dan ga bisa duduk bareng di pinggir kota dan itu akan terjadi suatu saat nanti dan itu pasti. Dan kita udah janji ttp sohiban meskipun aku berada di sebelah selatan pulau Jawa, sedangkan kamu terpisah di belahan pulau Jawa sisih endi mbuh ora ngerti, itu akan terjadi dan itu pasti. Kita tetap sohiban kan?
kupikir,di antara kita ada yang ga sengaja ngelanggar perjanjian itu, entah aku atau kamu. Akan tetapi, kalo misalnya aku menemukan sebuah situasi di mana ketika sedang nyampah, ketawa ketiwi kaya nyi kunti, dan itu bareng ma kamu, tapi tiba-tiba cerita itu hilang sekejap setelah aku bangun tidur, sepertinya yang ngelanggar aku yah? Hehehe peace!
Ampun lah, aku ora maning-maning wesss. Kita lebih bagus sohiban aja. Kalau kita ngerasa kok makin jauh, kita bisa berusaha mendekat. Namun ada kalanya kita terasa terlalu dekat, itulah saat lebih baiknya kita (saling) mundur sejenak. Kurasa kali ini aku yg memang perlu mundur beberapa langkah. Ho’oh gitu aja, dengan begitu aku yakin di antara kita kaga bakalan ada yang tersakiti sampe hati.
02.09
1 Muharram 1434 H


