Mbah Warni, setiap santri Al Amin pastilah tahu siapa sosok yang begitu terkenal di setiap pengajian abah ini. Beliau adalah jamaah teristiqomah masjid Baitul Muttaqin, selain Mbah Sajuri. Seandainya saja ada perlombaan yaitu datang awal ke masjid tiap Subuh, beliau pasti memiliki piagam paling banyak, dan lagi pialanya pasti memenuhi rumahnya. Beliau pasti datang nomor satu. Entah itu jamaah Subuh atau Maghrib.
Mengenai kehidupan sehari-hari dan pergaulan dengan para santri, bahkan Mbah Warni mengenalku, juga mengenal bulikku. Setiap kali beliau bertemu denganku, beliau pasti tersipu malu. Entahlah, apa yang membuatnya sampai begitu malu seperti itu. Barangkali itu adalah karakter dasarnya dari kecil.
Yang membuat aku bersedih hari ini adalah, ketika aku sedang mengaji di kamarku malam ini, sekiranya jam sembilan malam, aku mendengar kabar kalau Mbah Warni jatuh di jalan sebelah utara pondok. Mendengar kabar ini, aku langsung turun ke bawah ruang GSG untuk memastikan kondisinya. Di sana sudah ada Mbah Warni yang sedang merintih kesakitan. Di sekelilingnya, ada beberapa temanku, Yusuf, Faiq, dan Mas Eko. Yusuf memijit-mijit lengan kiri wanita paruh baya yang dulu bekerja sebagai penjual jajan keliling itu. Beberapa kali Mbah Warni mengeluh kesakitan dan itu membuatku miris mendengarnya. Anehnya, beliau seolah lupa kalau baru saja jatuh, tak tahu apa yang baru saja terjadi. Sehingga kami memberitahukan kepadanya kalau simbah baru saja jatuh (kabar dari Chayun, temanku, bahkan mengatakan kalau Mbah Warni jatuh di jalan utara pondok yang terkenal gelap, sampai kepalanya nyungsep ke parit samping jalan, miris sekali ya). Beberapa saat kemudian, salah seorang keluarganya, yang kukira adalah anaknya, datang menjemput beliau pulang. Karena untuk berdiri saja sakit, maka Mbah Warni dibopong oleh Faiq sampai depan pondok. Di sana, sudah ada mobil yang akan membawanya sampai ke rumah.
Semoga saja Mbah Warni baik-baik saja ya, aku sayang Mbah Warni...
Sabtu, 28 Juli 2012
Minggu, 22 Juli 2012
Terus Belajar

Ada seorang santri baru bernama Feri Pranoto. Aku mengenalnya sekitar tiga bulan yang lalu ketika aku pertama kali pulang ke pondok setelah menghabiskan liburan panjang di rumah. Selama mondok dan sepanjang pantauanku, dia termasuk santri yang amat rajin. Setiap kali dia mau setoran hafalan, dia selalu nderes bacaan Qur’annya. Di mana pun aku melihatnya, dia selalu terlihat mengasah hafalannya dengan Qur’an hafalan miliknya.
Secara kepribadian, dia memang anak yang tak banyak omong. Hanya sesekali dia mau keliling kamar, itu pun saat akan mengaji sore, alias dia hanya mencari teman untuk masuk kelas bersama. Mengenai kesehariannya, dia bergaul bersama Ghozali, santri paling anggun di pondok pesantrenku. Jika hari Minggu atau hari libur, kulihat mereka berdua bersepeda mengelilingi Purwokerto. Terkadang bermain badminton bersama, mesra sekali. Hehehe.
Di suatu Maghrib yang mencengangkan, aku dan dia pernah terlibat suatu percakapan kecil. Aku terkejut bahwa Feri ternyata adalah siswa Madrasah Diniyyah yang dulu pernah aku ajar mengaji ketika aku menjadi santri baru di pesantren ini. Waktu itu, seingatku aku memang pernah memiliki santri Madin bernama Feri. Kemampuan mengajinya memang di atas rata-rata, sehingga aku mudah menghafal anaknya dibanding anak Madin yang lainnya. Namun aku tak pernah menyangka kalau Feri kecil yang dulu menjadi santriku kini malah nyantri bareng bersamaku di pesantren ini. Bahkan kuakui, mengajinya lebih bagus dibanding mengajiku.
Ini semua mengajarkanku bahwa tak ada alasan untuk menyombongkan diri. Meskipun kita telah mengenyam pendidikan lebih lama, bukan berarti kita unggul dibanding siapapun yang lebih muda umurnya. Manusia adalah individu yang terus belajar. Tak ada alasan bagi kita untuk berhenti belajar. Karena, sekali kita berhenti belajar, maka sampai di situlah kita berhenti menjadi individu yang lebih baik.
Sabtu, 21 Juli 2012
Kuantitas VS Kualitas

Ramadhan memang ladangnya pahala. Amal kebaikan yang dilakukan di bulan istimewa ini akan dilipatgandakan dengan hitungan yang mencengangkan. Amal sunah akan dibalas dengan pahala seperti amalan wajib, sedangkan amalan wajib akan diganjar dengan balasan hingga 70 kali lipat. Begitu juga dengan pahala sholat. Sholat sunah akan diganjar sebagaimana pahala sholat wajib, dan sholat wajib akan dilipatgandakan sampai 70 kali. Jika sholat tersebut dilakukan secara berjamaah, tentu saja akan dikalikan 27 bilangan lagi, sesuai dengan bunyi hadits tentang keutamaan sholat berjamaah. Hasilnya, hitunglah saja sendiri. Sebab aku tak begitu bagus di pelajaran Matematika.
Selain ibadah sholat, pahala mengaji pun tak mau kalah hitungan. Dalam sebuah hadits yang aku lupa perawinya, disebutkan bahwa orang yang berangkat menuju majelis ilmu dengan maksud ingin menambah ilmu dan menghilangkan kebodohannya, maka setiap langkahnya akan diberi balasan sebagaimana pahala ‘abid (orang yang ahli beribadah) selama setahun penuh.
Berangkat dari hadits inilah, Departemen Pengajian di pesantrenku membuat jadwal pengajian selama bulan Ramadhan. Tak tanggung-tanggung, ada lima jadwal pengajian selama sehari. Bahkan jumlahnya malah menyamai jumlah sholat sehari semalam. Jadwal pertama ba’da Subuh. Jadwal kedua jam sembilan pagi, jadwal ketiga jam setengah dua siang, jadwal keempat jam empat sore, jadwal kelima jam sembilan hingga jam sepuluh malam. Banyak sekali bukan?
Kitab yang dikaji pun berbeda-beda di setiap kajiannya. Seringnya intensitas mengaji dan beragamnya kitab yang dipelajari, secara tak sadar akan menjadikan otak santri terpecah belah dalam memahami suatu pokok bahasan. Dalam konteks ini, mustahil santri bisa menguasai lima kitab dalam waktu yang bersamaan. Menguasai kitab dalam artian bisa membaca kitab kuningnya, bisa menerjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan kemudian ke dalam bahasa Indonesia. Dan tentu saja bagian yang paling terpenting adalah memprakekkan isinya serta menjadikan isi pengajian tersebut sebagai keyakinan di dalam hati. Kalau pun mereka memahami, biasanya mereka hanya menguasai materi secara sepenggal, tak secara keseluruhan dan mendalam. Inilah resiko mempelajari sesuatu yang hanya mengutamakan kuantitas, bukan secara kualitas.
Mengapa Departemen Pengajian tak meniru konsep mengajar abah kyai saja? Sehari, beliau hanya mengajar dua kali, ba’da Subuh dan ba’da Magrib di hari biasa. Kalau saat Ramadhan seperti ini, beliau malah hanya punya waktu bertatap muka dengan para santrinya di pagi hari untuk mengkaji kitab. Itu pun menggunakan kitab yang sama, yaitu tafsir Al Ibriz. Kitab yang sama dengan rentang waktu mengaji yang tak terlalu jarang dan tak terlalu sering inilah yang menjadikan setiap santri selalu merindukan masa-masa mengaji bersama beliau. Coba bandingkan dengan jadwal mengaji yang terlalu sering di atas bikinan Departemen Pengajian. Mungkin saja akan menimbulkan kejenuhan sendiri di kalangan santri. Tidak sekarang, namun suatu saat pasti terjadi. Dan hal yang paling parah adalah tak ada pelajaran/ hasil pembelajaran yang mereka peroleh dari sistem yang menuhankan kuantitas dibanding kualitas. Sangat disayangkan memang.
Jumat, 20 Juli 2012
Wisuda Menjadi Santri

Maghrib ini aku sempat berbincang-bincang sejenak dengan Gus Aam ketika akan sholat berjamaah. Dia adalah anak kedua dari abah kyaiku. Nama lengkapnya adalah Muzakka Anbabih. Sudah bertahun-tahun dia mengenyam dunia pesantren. Mulai dari pesantren Gontor hingga kini berada di Banten, sebuah pesantren tempat bapaknya dulu menimba ilmu bersama Abuya Dimyathi.
Bahan perbincangan kita sore tadi sebenarnya tak elegan sama sekali untuk ditulis di sini. Namun bagaimana lagi, hanya menulis sebuah catatan kecil yang intinya menyentil diriku sendiri. Tahukah kamu, aku yang mondok selama 6 tahun di sini, baru saja diwisuda menjadi santri. Alasannya, ya terkena penyakit kulit seperti ini. Hah? Yang benar saja? Ya aku mengatakan yang sebenarnya. Tanyalah pada setiap santri mulai dari ujung barat pulau Jawa hingga ujung timur di Banyuwangi. Seseorang yang mondok di sebuah pesantren belum dikatakan sebagai santri kalau dia belum pernah terkena penyakit kulit. Semua orang yang menyandang predikat santri pasti akan mengamini pernyataan ini. Begitu juga dengan Gus Aam. Aku bercerita tentang bagaimana parah dan menderitanya aku menghadapi penyakit kulit yang bagiku sudah tergolong berat yang pernah kualami ini. Katanya, apa yang sedang kuderita ini belumlah ada apa-apanya. Dulu bahkan dia pernah menderita lebih parah dariku. Tangannya sampai tak bisa untuk menulis. Kakinya hingga belang-belang seperti bulu kucing. Badannya, jangan ditanya lagi. Semua bercak khas pesantren ini katanya adalah lantaran demi memperoleh berkah pesantren. Percaya atau tidak, seperti inilah kepercayaan turun temurun dan menyebar di seluruh dunia pesantren.
Satu lagi angin segar bagiku, sekali terkena penyakit kulit bedebah seperti ini, maka di kemudian hari bisa dipastikan tidak akan terkena lagi. Kalau pun terkena, maka tak akan separah ketika awal kali terkena. Namun, kabar buruknya, barangkali memerlukan waktu bertahun-tahun untuk menghilangkan bekas luka tersebut. Hmmmph...
Tapi, bagaimana pun juga, aku masih bingung. Apakah aku harus gembira atau bersedih ketika aku harus ‘diwisuda’ menjadi santri di tahun keenamku di sini. Sekali lagi, hmmmph...
Awal Ramadhan

Perbedaan awal Ramadhan selalu menjadi polemik di negeri ini. Ada sebagian golongan yang mengklaim bahwa mereka telah melihat hilal, sehingga dengan dasar tersebut mereka memulai puasa di keesokan harinya. Namun, tak semua golongan atau orang menyetujui pernyataan tersebut. Pemerintah selalu mengadakan sidang isbat dengan dihadiri oleh ulama-ulama yang mahir kitab salaf dan ahli dalam ilmu astronomi. Sidang tersebut dimulai selepas Maghrib dan penentuan hasil rukyatul hilal selepas Isya’ dengan membandingkan hasil dari berbagai macam daerah. Nah, mendapati berbagai macam perbedaan itu, tak ayal membuat masyarakat menjadi bingung setengah mati. Akan ikut di golongan mana mereka?
Bagi aku, bukankah di dalam Al Qur’an telah disebutkan bahwa kita diwajibkan untuk mengikuti ulil amri yang di dalam konteks ini adalah pemerintah? Seperti yang termaktub di surat An- Nisa’ ayat 59;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Terjemahan: Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulnya dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan rasulnya, jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih baik akibatnya.
Selama pemerintah tersebut tidak menyalahi aturan agama, setiap keputusannya berdasarkan ilmu-ilmu yang bisa dipertanggungjawabkan keshahihan sumbernya, dan disiarkan melalui media yang bisa diakses dengan mudah oleh semua elemen masyarakat, kita boleh ‘mempercayai’ apa yang telah pemerintah putuskan. Karena tak mungkin pemerintah gegabah dalam menentukan perkara agama yang menyangkut harkat hidup orang banyak.
Kamis, 05 Juli 2012
Pacaran VS Prestasi
Kalau Andrea Hirata melakukan studi survey selama dia hidup untuk bisa melahirkan karya fenomenalnya yaitu tetralogi Laskar Pelangi, maka aku melakukan survey cukup selama aku berada di pesantren ini untuk mengetahui hubungan antara intensitas pacaran dengan prestasi belajar. Kedengarannya tak penting? Ya, setiap orang boleh memiliki asumsi masing-masing dalam menanggapi hasil penelitianku ini. Namun, secara pribadi, aku menyatakan kalau hal ini cukup menarik untuk diungkap.
Hubungan antara intensitas pacaran dengan prestasi belajar bukanlah hal baru yang dijadikan tema penelitian. Namun aku membatasi penelitian ini dalam ruang lingkup pesantren saja. Objek penelitiannya tak lain dan tak bukan teman-teman pesantrenku sendiri. Perkara waktu pelaksanaan penelitiannya, fleksibel, kapanpun bisa, tak direncanakan alias insidental dan sekilas, tak nampak seperti sedang melakukan penelitian. Namun sejatinya, ibarat James Bond, langkah-langkahnya tak sembarang orang bisa mengetahuinya.
Lewat tengah malam, biasanya terdengar seseorang sedang menelpon pacarnya yang jauh di sana. Terkadang cekikikan, seringkali bertengkar, bisik-bisik, tertawa lepas dan ekspresi khas percakapan lainnya. Aku hafal orangnya, dan hafal pula pada jam-jam berapa saja dia melakukan ritual malamnya itu. Pertama, aku curiga, dia memanfaatkan waktu tengah malam karena hanya pada saat itulah tarif nelpon sedang murah-murahnya. Kedua, tengah malam adalah waktu yang tepat untuk berkhalwat (berdua), sepi, tak seorang pun mengganggu, teman maupun pengurus pesantren sekalipun. Ketiga, karena faktor sepi itulah maka tradisi itu terasa khusuk dilakukan. Bagaimana dengan prestasi belajar orang yang berkelakuan macam kalong itu? Setiap kali aku tanyakan IP kepadanya, ia lebih memilih menghindar menjawab, kemudian mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Prestasi ngajinya pun empot-empotan. Meminjam istilah abah kyai, dia hanya ngaji setiap bulan Suro sekali. Tak pernah ikut setoran dan setiap kali jadwal ngaji tiba, ia memilih kembali ke pondok dan khusuk sms-an dengan seseorang. Bukan sekali dua kali, mungkin aku aman mengatakan dia bertindak demikian selama 5 tahun, lamanya dia tinggal di pesantren ini.
Lain orang lain pula ceritanya. Masih teman satu kamarku. Dia mempunyai hubungan dekat dengan santri putri, pesantren sebelah. Baginya, tak ada hari tanpa mengirim pesan singkat. Ibarat ada kompetisi menulis sms paling banyak, dia pasti keluar sebagai pemenangnya. Yang paling menyebalkan adalah dia seringkali mengetik sms di tengah malam. Tak masalah kalau dia memakai ponsel layar sentuh, dioperasikan bagaimanapun juga tak akan mengeluarkan suara berisik. Namun masalahnya dia memakai ponsel Nokia keluaran entah tahun berapa. Ctak ctok bising sekali menganggu aku tidur. Dengan sepelenya dia tersenyum-senyum sendiri membaca sms yang baru saja dia terima. Prestasinya, hmm... setali tiga uang dengan cerita temanku yang di atas. Namun setidaknya, orang yang cinta mati dengan sms ini memiliki kelebihan: dia terobsesi dengan adzan dan sholawat. Suaranya pun boleh juga. Namun untuk pengetahuan umum, kurasa dia masih perlu belajar lebih banyak lagi.
Berbanding seratus delapan puluh derajat dengan salah seorang temanku yang berasal dari luar Jawa, Jambi. Dia nampaknya tak ingin bergelut dengan dunia semacam itu, pacaran jarak jauh dengan penghuni pesantren sebelah. Pekerjaannya saban hari biasanya menyindir teman-temanku yang sedang dimabuk cinta. Tentu saja menyindirnya masih dalam lingkup bercanda. Prestasinya, janganlah kamu meragukannya. Dialah orang yang ilmu agamanya paling mumpuni dibanding kita. Ini lantaran dia pernah ditempa di sebuah pesantren di Jakarta selama bertahun-tahun. Model pendidikan di pesantrennya keras. Salah sedikit atau melanggar peraturan, tubuh menjadi korban. Tapi lihatlah hasilnya, dia hampir bisa menguasai ilmu-ilmu agama dasar yang diajarkan di pesantrenku ini. Tak hanya itu, baginya, membaca kitab kuning semudah membaca harian Kompas. Bertanya apapun masalah agama tekstual baginya, pasti akan memperoleh jawaban yang memuaskan. Suaranya semerdu buluh perindu, sehingga abah kyai memfavoritkan suaranya itu sehingga dia diberi mandat langsung untuk adzan, iqomat dan puji-pujian sebelum sholat. Catatan kecil dariku, setiap aku bertanya kepadanya soal perkara agama, aku belum pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Barangkali karena pertanyaanku tidak lagi berada di tataran tekstualis, namun lebih kepada aplikatif. Contohnya, kita tak boleh menyebut kalau Allah SWT BERSEMAYAM di Arsy. Sebab, jika kita memakai kata ‘bersemayam’, maka berarti Allah disamakan dengan makhluk-Nya. Padahal salah satu sifat Allah adalah mukholafatul lil hawadisi, berbeda dengan makhluknya. Lagipula, dalam kitab suci telah jelas-jelas menyebutkan kalau Allah istawa (bersemayam) di atas Arsy. Kalau kita tak boleh memiliki keyakinan demikian (tak boleh berkata kalau Allah itu bersemayam), berarti kita mengingkari AL Qur’an kita sendiri. Bagaimana ini? Dia pun kebingungan menjawab pertanyaanku ini.
Satu lagi, ada temanku yang sampai saat ini masih menjabat pengurus di Departemen Penalaran dan Keilmuan. Sebut saja dia Mawar. Hobinya gonta-ganti pacar seiring dengan bergantinya pengurus di departemen itu. Kemarin anak Brebes, sekarang anak Purworejo, esoknya lagi anak Cilacap. Hah... sampai kita tak hafal dengan siapa anak itu sekarang berpacaran. Mengenai prestasi, dia termasuk anak yang memiliki jiwa seni yang tinggi. Baik seni lukis, seni sastra maupun hobinya mengumpulkan apapun yang ada hubungannya dengan manga/ komik. Sayangnya, dia tak terlalu semangat dalam kuliah.
Nah, dari sekian banyak contoh di atas, jangan mengira aku sedang membicarakan keburukan orang lain luh.... Aku tidak menyebutkan nama, aku hanya menceritakan tabiat manusia yang semoga kita bisa mengambil hikmahnya. Bukankah di setiap kehidupan manusia, entah itu kita sendiri maupun orang lain, selalu ada pelajaran bagi orang yang berpikir?
Hubungan antara intensitas pacaran dengan prestasi belajar bukanlah hal baru yang dijadikan tema penelitian. Namun aku membatasi penelitian ini dalam ruang lingkup pesantren saja. Objek penelitiannya tak lain dan tak bukan teman-teman pesantrenku sendiri. Perkara waktu pelaksanaan penelitiannya, fleksibel, kapanpun bisa, tak direncanakan alias insidental dan sekilas, tak nampak seperti sedang melakukan penelitian. Namun sejatinya, ibarat James Bond, langkah-langkahnya tak sembarang orang bisa mengetahuinya.
Lewat tengah malam, biasanya terdengar seseorang sedang menelpon pacarnya yang jauh di sana. Terkadang cekikikan, seringkali bertengkar, bisik-bisik, tertawa lepas dan ekspresi khas percakapan lainnya. Aku hafal orangnya, dan hafal pula pada jam-jam berapa saja dia melakukan ritual malamnya itu. Pertama, aku curiga, dia memanfaatkan waktu tengah malam karena hanya pada saat itulah tarif nelpon sedang murah-murahnya. Kedua, tengah malam adalah waktu yang tepat untuk berkhalwat (berdua), sepi, tak seorang pun mengganggu, teman maupun pengurus pesantren sekalipun. Ketiga, karena faktor sepi itulah maka tradisi itu terasa khusuk dilakukan. Bagaimana dengan prestasi belajar orang yang berkelakuan macam kalong itu? Setiap kali aku tanyakan IP kepadanya, ia lebih memilih menghindar menjawab, kemudian mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Prestasi ngajinya pun empot-empotan. Meminjam istilah abah kyai, dia hanya ngaji setiap bulan Suro sekali. Tak pernah ikut setoran dan setiap kali jadwal ngaji tiba, ia memilih kembali ke pondok dan khusuk sms-an dengan seseorang. Bukan sekali dua kali, mungkin aku aman mengatakan dia bertindak demikian selama 5 tahun, lamanya dia tinggal di pesantren ini.
Lain orang lain pula ceritanya. Masih teman satu kamarku. Dia mempunyai hubungan dekat dengan santri putri, pesantren sebelah. Baginya, tak ada hari tanpa mengirim pesan singkat. Ibarat ada kompetisi menulis sms paling banyak, dia pasti keluar sebagai pemenangnya. Yang paling menyebalkan adalah dia seringkali mengetik sms di tengah malam. Tak masalah kalau dia memakai ponsel layar sentuh, dioperasikan bagaimanapun juga tak akan mengeluarkan suara berisik. Namun masalahnya dia memakai ponsel Nokia keluaran entah tahun berapa. Ctak ctok bising sekali menganggu aku tidur. Dengan sepelenya dia tersenyum-senyum sendiri membaca sms yang baru saja dia terima. Prestasinya, hmm... setali tiga uang dengan cerita temanku yang di atas. Namun setidaknya, orang yang cinta mati dengan sms ini memiliki kelebihan: dia terobsesi dengan adzan dan sholawat. Suaranya pun boleh juga. Namun untuk pengetahuan umum, kurasa dia masih perlu belajar lebih banyak lagi.
Berbanding seratus delapan puluh derajat dengan salah seorang temanku yang berasal dari luar Jawa, Jambi. Dia nampaknya tak ingin bergelut dengan dunia semacam itu, pacaran jarak jauh dengan penghuni pesantren sebelah. Pekerjaannya saban hari biasanya menyindir teman-temanku yang sedang dimabuk cinta. Tentu saja menyindirnya masih dalam lingkup bercanda. Prestasinya, janganlah kamu meragukannya. Dialah orang yang ilmu agamanya paling mumpuni dibanding kita. Ini lantaran dia pernah ditempa di sebuah pesantren di Jakarta selama bertahun-tahun. Model pendidikan di pesantrennya keras. Salah sedikit atau melanggar peraturan, tubuh menjadi korban. Tapi lihatlah hasilnya, dia hampir bisa menguasai ilmu-ilmu agama dasar yang diajarkan di pesantrenku ini. Tak hanya itu, baginya, membaca kitab kuning semudah membaca harian Kompas. Bertanya apapun masalah agama tekstual baginya, pasti akan memperoleh jawaban yang memuaskan. Suaranya semerdu buluh perindu, sehingga abah kyai memfavoritkan suaranya itu sehingga dia diberi mandat langsung untuk adzan, iqomat dan puji-pujian sebelum sholat. Catatan kecil dariku, setiap aku bertanya kepadanya soal perkara agama, aku belum pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Barangkali karena pertanyaanku tidak lagi berada di tataran tekstualis, namun lebih kepada aplikatif. Contohnya, kita tak boleh menyebut kalau Allah SWT BERSEMAYAM di Arsy. Sebab, jika kita memakai kata ‘bersemayam’, maka berarti Allah disamakan dengan makhluk-Nya. Padahal salah satu sifat Allah adalah mukholafatul lil hawadisi, berbeda dengan makhluknya. Lagipula, dalam kitab suci telah jelas-jelas menyebutkan kalau Allah istawa (bersemayam) di atas Arsy. Kalau kita tak boleh memiliki keyakinan demikian (tak boleh berkata kalau Allah itu bersemayam), berarti kita mengingkari AL Qur’an kita sendiri. Bagaimana ini? Dia pun kebingungan menjawab pertanyaanku ini.
Satu lagi, ada temanku yang sampai saat ini masih menjabat pengurus di Departemen Penalaran dan Keilmuan. Sebut saja dia Mawar. Hobinya gonta-ganti pacar seiring dengan bergantinya pengurus di departemen itu. Kemarin anak Brebes, sekarang anak Purworejo, esoknya lagi anak Cilacap. Hah... sampai kita tak hafal dengan siapa anak itu sekarang berpacaran. Mengenai prestasi, dia termasuk anak yang memiliki jiwa seni yang tinggi. Baik seni lukis, seni sastra maupun hobinya mengumpulkan apapun yang ada hubungannya dengan manga/ komik. Sayangnya, dia tak terlalu semangat dalam kuliah.
Nah, dari sekian banyak contoh di atas, jangan mengira aku sedang membicarakan keburukan orang lain luh.... Aku tidak menyebutkan nama, aku hanya menceritakan tabiat manusia yang semoga kita bisa mengambil hikmahnya. Bukankah di setiap kehidupan manusia, entah itu kita sendiri maupun orang lain, selalu ada pelajaran bagi orang yang berpikir?
Kamus Terlengkap Bahasa Bencong!
Akika = Aku
Begindang = Begitu
Belalang = Beli
Belenjong = Belanja
Beranak Dalam Kubur = Berak
Cacamarica = Cari
Cucok = Cocok
Cumi = Cium
Capcus = Pergi
Diana = Dia
Endaaaaaaaaaang = Enak
Eike = Aku
Ember = Emang
Gilingan = Gila
Hamidah = Hamil
Hima Layang = Hilang
Jali-Jali = Jalan-Jalan
Jayus = joke-garing
Jijay Markijay = Jijik
Kanua = Kamu
Kawilarang = kimpoi
Kesindaaaang = Kesini
Kemindang = Kemana
Kencana = Kencing
Kepelong = Kepala
Kesandro = Kesana
Krejong = Kerja
Lambreta = Lambat
Lapangan Bola = Lapar
Lekong = Laki-laki
Maharani = Mahal
Makarena = Makan
Maluku = Malu
Mandole = Mandi
Mataram = Mati
Mawar = Mau
Merekah = Marah
Metong = Mati
Minangan = Minum
Motorola = Motor
Mukadima = Muka
Mursida = Murah
Nanda = Nanti
Naspro = Nasi
Organ = Orang
Organ Tunggal = Orang Tua
Pere = Perempuan
Pertiwi = Perut
Piur = Pergi
Rambutan = Rambut
Sastra = Satu
Sekong = Sakit
****** = Siapa
Sirkuit = Sedikit
Soraya Perucha = Sakit Perut
Tinta = Tidak
Titi DJ = Hati-hati di jalan
EGPCC= emang gw pikirin cuih cuih...
SDMB=sori dori mori bow
Akikah lapangan bola = aku lapar bo'
LUPUS = Lupain Pacar Utamakan Selingkuh
panasonic = panas
pecongan = pacaran
Ngomomg2 tentang bahasa bencong. Kata BENCONG itu dibentuk dari kata BANCI yang disisipi bunyi dan ditambah akhiran ONG. Huruf vokal pada suku kata pertama diganti dengan huruf E. Huruf vokal pada suku kata kedua diganti dengan ONG.
Misalnya:
Makan - mekong
Sakit - sekong
Laki - lekong
Lesbi - lesbong
Mana - menong
pokoknya serba NONG
Ada juga waria/bences yang kemudian ngeganti tambahan ONG dengan ES sehingga bentuk katanya menjadi:
Banci - bences Laki - lekes
Sekian,selamat dipraktekin di taman lawang malem minggu nanti yaaa cyiiiiin!
Begindang = Begitu
Belalang = Beli
Belenjong = Belanja
Beranak Dalam Kubur = Berak
Cacamarica = Cari
Cucok = Cocok
Cumi = Cium
Capcus = Pergi
Diana = Dia
Endaaaaaaaaaang = Enak
Eike = Aku
Ember = Emang
Gilingan = Gila
Hamidah = Hamil
Hima Layang = Hilang
Jali-Jali = Jalan-Jalan
Jayus = joke-garing
Jijay Markijay = Jijik
Kanua = Kamu
Kawilarang = kimpoi
Kesindaaaang = Kesini
Kemindang = Kemana
Kencana = Kencing
Kepelong = Kepala
Kesandro = Kesana
Krejong = Kerja
Lambreta = Lambat
Lapangan Bola = Lapar
Lekong = Laki-laki
Maharani = Mahal
Makarena = Makan
Maluku = Malu
Mandole = Mandi
Mataram = Mati
Mawar = Mau
Merekah = Marah
Metong = Mati
Minangan = Minum
Motorola = Motor
Mukadima = Muka
Mursida = Murah
Nanda = Nanti
Naspro = Nasi
Organ = Orang
Organ Tunggal = Orang Tua
Pere = Perempuan
Pertiwi = Perut
Piur = Pergi
Rambutan = Rambut
Sastra = Satu
Sekong = Sakit
****** = Siapa
Sirkuit = Sedikit
Soraya Perucha = Sakit Perut
Tinta = Tidak
Titi DJ = Hati-hati di jalan
EGPCC= emang gw pikirin cuih cuih...
SDMB=sori dori mori bow
Akikah lapangan bola = aku lapar bo'
LUPUS = Lupain Pacar Utamakan Selingkuh
panasonic = panas
pecongan = pacaran
Ngomomg2 tentang bahasa bencong. Kata BENCONG itu dibentuk dari kata BANCI yang disisipi bunyi dan ditambah akhiran ONG. Huruf vokal pada suku kata pertama diganti dengan huruf E. Huruf vokal pada suku kata kedua diganti dengan ONG.
Misalnya:
Makan - mekong
Sakit - sekong
Laki - lekong
Lesbi - lesbong
Mana - menong
pokoknya serba NONG
Ada juga waria/bences yang kemudian ngeganti tambahan ONG dengan ES sehingga bentuk katanya menjadi:
Banci - bences Laki - lekes
Sekian,selamat dipraktekin di taman lawang malem minggu nanti yaaa cyiiiiin!
