Meski produk Yahudi,dengan pencetus generasi mudanya,Mark Zuckerberg,namun banyak orang yang mengaksesnya setiap hari.bahkan waktu pengaksesannya pun makin tak kenal tempat.ruang kuliah,ruang kelas,kantor,masjid bahkan di rapat sekalipun.memang tak bijak jika kita menyikapinya secara sepihak.beberapa pondok pesantren di jawa timur bahkan mewajibkan santrinya memiliki akun di facebook demi menjaga selalu terjalinnya tali silaturahmi.sedangkan di belahan negara eropa,facebook dijadikan media penipuan terhadap orang lain,penyebar ancaman pembunuhan,bahkan mendukung golongan2 yang kurasa terdengar aneh,klub gay dan lesbian.c'est la vie.
Memang,semua tergantung orangnya.kalau kita bisa memanfaatkannya dengan baik,itu bisa berfungsi secara selayaknya.contohnya,jika kita tak punya nomor kontak teman,kita bisa menggunakan facebook untuk bertanya tentang tugas kuliah,jadwal rapat,tanya pelajaran dsb.sebaliknya,facebook bisa jadi media jitu untuk menghabiskan uang saku dengan cepat sekejap,disebabkan getolnya menyambangi warnet,menghabiskan pulsa dan waktu.memang 2 sisi yang berbeda.sangat kontras.
Dan baru2 ini,lembaga survey di AS mengadakan penelitian terhadap gaya hidup virtual remaja.hasilnya,membuktikan bahwa 20-25% minat remaja berkurang untuk menulis jurnal atau blog dibanding sebelum adanya facebook.mereka cenderung mengakses facebook ketika online di warnet atau hotspot area.
Lalu,bagaimana dengan nasib remaja di Indonesia setelah nge-in-nya facebook?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar