Blogger news

Pages

Kamis, 28 Oktober 2010

sparks fly


The way you move is like a full on rainstorm
And I'm a house of cards
You're the kind of reckless
That should send me runnin'
But I kinda know that I won't get far
And you stood there in front of me
Just close enough to touch
Close enough to hope you couldn't see
What I was thinking of

Drop everything now
Meet me in the pouring rain
Kiss me on the sidewalk
Take away the pain
'cause I see sparks fly whenever you smile
Get me with those green eyes, baby, as the lights go down
Give me something that'll haunt me when you're not around
'cause I see sparks fly whenever you smile

My mind forgets to remind me
You're a bad idea
You touch me once and it's really something,
You find I'm even better than you imagined I would be.
I'm on my guard for the rest of the world
But with you I know it's no good
And I could wait patiently but I really wish you would...

Drop everything now
Meet me in the pouring rain
Kiss me on the sidewalk
Take away the pain
'cause I see sparks fly whenever you smile
Get me with those green eyes, baby, as the lights go down
Give me something that'll haunt me when you're not around
'cause I see sparks fly whenever you smile

I run my fingers through your hair and watch the lights go wild.
Just keep on keeping your eyes on me, it's just wrong enough to make it feel right.
Lead me up the staircase
Won't you whisper soft and slow?
I'm captivated by you, baby, like a firework show.

Drop everything now,
Meet me in the pouring rain,
Kiss me on the sidewalk,
Take away the pain
'cause I see sparks fly whenever you smile.
Get me with those green eyes, baby, as the lights go down
Give me something that'll haunt me when you're not around
'cause I see sparks fly whenever you smile

The sparks fly...
Oh, baby, smile...
The sparks fly...

Ngalap Berkah Tahu Kupat


Di sebelah selatan pondok pesantrenku, ada sebuah rumah makan tradisional yang baru saja dibangun. Umur tempat itu baru saja setahun. Setahun sebelumnya, tempat itu hanyalah berupa areal persawahan. Kini, lahan yang dulunya hijau itu berubah menjadi rumah berseng modern penuh dengan warna warni. Setiap jam makan siang dan sore datang, banyak pengunjung berdatangan ke tempat itu untuk sekedar mengisi perut dan menikmati hidangan yang katanya asli Magelang itu. (mengenai klaim asal muasal makanan tersebut, pak kyai pernah mengkritisi. Katanya asli Magelang, masa ketupatnya diproduksi dan didistribusikan oleh orang Sumbang ke tempat itu –Sumbang adalah daerah pedesaan di Purwokerto Timur. Tak jauh dari pondok pesantrenku).
Sebagai rumah makan baru yang rencananya membidik pasar mahasiswa dan eksekutif muda, rumah makan “Pabuaran” ini tentunya harus memikirkan strategi yang sesuai agar cukup menarik konsumen baru. Salah satu strategi yang nampak oleh orang awam adalah dipasangnya fasilitas Wi-Fi. Wi-Fi yang tersedia di tempat ini diharapkan dapat membuat pengunjung betah berlama-lama berada di dalamnya serta ‘tanpa terasa’ menikmati porsi yang lebih dibandingkan jika tidak tersedia fasilitas tersebut. Suasana sekitarnya yang masih dipertahankan yaitu sawah milik warga setempat, menambah yakin bagi siapapun kalau tempat ini mempertahankan konsep back to nature.
Uniknya, tak hanya pengunjung “Pabuaran” yang merasakan berkah fasilitas koneksi internet nirkabel ini. Kami, santri-santri juga menikmati hal serupa. Hanya saja, sinyal tersebut bisa diakses oleh penduduk lantai 3. Sedangkan di lantai 2 apalagi lantai 1, tak ada jaringan sama sekali. Sehingga, kalau mau berseluncur di dunia maya secara cuma-cuma, naiklah di lantai 3 dan tersedia akses internet sampai puas dengan koneksi yang lumayan cepat. Cukup puas, setidaknya hingga jam 10 malam.

The Good Brother In Him


Sebelum merasakan dunia pesantren, sesungguhnya aku sudah tahu kalau kehidupan di dalam lembaga tersebut menyimpan berbagai macam cerita yang suatu saat nanti pantas dibanggakan dan layak diceritakan kepada anak cucu kita kelak. Mulai dari cerita yang menggembirakan atau menyedihkan sekalipun. Saat menegangkan berhadapan dengan pak kyai langsung maupun tertawa lepas bersama teman-teman karena guyonan khas pesantren yang tak semua orang awam bisa memahaminya. Merasakan nikmatnya makan nasi dengan ber‘lauk’an sambal terasi dan sayur seadanya hingga makan nasi kuning bersama seraya memperingati perayaan kelulusan teman. Semua ada di balik tembok pesantren yang dingin dan sedikit kaku.
Aku punya teman. Namanya Ibnu Muttaqin. Dia berasal dari Dawuhan Kulon, Kedungbanteng, Purwokerto. Dia adalah teman seangkatanku masuk ke Unsoed dan pesantren ini. Dalam kesehariannya, dia sama saja dengan teman-temanku yang lain. Mudah bergaul dan akrab dengan yang lain. Hanya saja, satu hal unik yang sedikit membedakannya dengan rekan-rekan yang lain adalah sifatnya terlampau halus. Logat ucapannya yang khas ngapak dengan aksen yang tak meledak-ledak sebagaimana orang-orang Banyumas kebanyakan, menjadikan dia mudah dikenal karena karakteristik janggalnya itu.
Dia amat baik namun sedikit leda-lede. Sehingga seringkali aku menjahilinya. Dan dia hanya berpura-pura sebal/ marah kepadaku sesaat setelah aku menggodanya. Sifatnya yang secara sederhana bisa diterjemahkan “tak bisa marah” itu membuatnya jadi objek candaan. Tak hanya aku, namun juga teman-teman pondok yang lain. Aku dan dia juga memiliki persamaan dalam hal hobi. Kita sama-sama suka menulis. Aku seringkali menantangnya membuat tulisan yang mayoritas berbentuk cerpen. Cerpennya bagus, meskipun beberapa di antaranya aku memprotes gaya bahasanya yang terlampau tinggi. Ia terkadang menyertakan perumpamaan yang seringkali janggal alias tak masuk akal, peribahasa yang tak wajar dan rangkaian kata membingungkan sehingga mengharuskan pembacanya mengulang-ulang satu kalimat dalam hitungan menit untuk bisa memahami apa yang ia maksudkan. Namun demikian, cerpennya yang berjudul “Robohnya Surauku” masih kuingat jalan ceritanya dan kuakui itu yang terbaik di antara yang pernah ia buat.
Sebuah prestasi yang sebenarnya tak pantas kita sandang ialah kita berdua mewakili universitas dalam lomba Musahabatil Tilawatil Qur’an. Dalam lomba itu, ada 3 cabang perlombaan, Qiroatul Qur’an (membaca Qur’an dengan nada tertentu), Hafidzul Qur’an (hafalan Qur’an) dan Tafsir Qur’an. Nama kita tercantum dalam cabang lomba terakhir, tafsir Qur’an. Hanya kita berdua. Sungguh, hanya kita berdua. Kita maju di depan juri yang berkompetensi tinggi dalam mengkaji Qur’an dalam waktu yang bergantian. Parahnya, salah satu syarat yang tidak kita ketahui dari awal perlombaan adalah kita wajib menghafalkan beberapa juz sebelum resmi kita ‘boleh’ menafsirkan Qur’an. Jdeer...kita tak punya modal hafalan apapun selain Juz ‘Amma. Yah, dengan modal seadanya itulah kita nekad maju. Hasilnya, para juri pun mengkritisi hafalan kita yang kalau distandarisasi dengan peserta-peserta lain, masih berada di bawah standar yang ditentukan. Anehnya, dengan penampilan seadanya itu, aku diganjar dengan gelar Juara Pertama sedangkan Ibnu berada di posisi runner-up. Ya begitulah, pesertanya hanya ada dua. Mau bagaimana lagi? Hahahaha...
Agustus kemarin, Ibnu baru saja menyandang gelar kesarjanaannya. Dia memang sengaja mengakselerasi proses pengerjaan skripsinya dengan alasan tak mau berlama-lama menjadi beban keluarga. Setelah lulus, dia pun berencana untuk meneruskan pendidikannya di pesantren. Atas saran dari pak kyai, dia disuruh belajar di pondok pesantren di Banten, tempat dulu pak kyai menimba ilmu saat masih remaja. Malam ini, saat sebelum aku menulis catatan ini, aku menyempatkan waktu beberapa jam untuk ngobrol sejenak bersamanya. Sebelum ia pergi setidaknya, aku punya waktu untuk meminta maaf kepadanya. Sering bergaul, sering bercanda dan sering mengerjai, pastinya sering berbuat kesalahan.
Semoga kamu menuai kesuksesan di setiap keputusan hidup yang kamu ambil, sobat.

Selasa, 26 Oktober 2010

We R Who We R


Jangan heran dulu. Tulisan ini hanyalah menceritakan soal judul lagu. Lagu ini dirilis oleh penyanyi electropop Amerika, Ke$ha. Lagu ini termasuk dalam EP-nya yang berjudul Cannibal yang rencananya akan beredar di pasaran bulan November depan. (EP = Extended Play, alias kumpulan lagu-lagu yang belum menemui syarat untuk menjadi album full. Lagu-lagu dalam format ini biasanya hanya berjumlah 3 sampai 6 lagu. Fungsi dasarnya untuk promosi).
Aku ingin menulis sekaligus menceritakan lagu ini sebab latar belakang pembuatan lagu tersebut yang rasanya wajib kita ketahui dan teladani. Lagu ini ditulis dan direkam sekitar bulan Oktober 2010, sesaat setelah peristiwa bunuh dirinya seorang remaja gay bernama Tyler Clementi. Clementi adalah seorang remaja gay berusia 18 tahun. Ia bunuh diri sebab video hubungan seksnya dengan seorang teman laki-lakinya diunggah ke situs YouTube oleh rekan kuliahnya sendiri yang tak suka kepadanya dan kemudian ditonton oleh jutaan orang di dunia maya. Termasuk rekan sekolah, rekan kuliah dan tetangganya. Sejak saat itulah, ia diejek, dimarginalkan oleh teman-teman sekelilingnya sebab ketidaknormalannya itu. Karena tak tahan malu itulah akhirnya ia memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Nah, mendengar kabar inilah, Ke$ha tergerak hatinya untuk membuat anthem bagi orang-orang putus asa dan merasa bahwa hidupnya sudah tak berguna lagi.
Lagu ini secara singkat menceritakan bahwa setiap manusia memiliki keahlian dan keunikan masing-masing. Tak ada manusia yang sama. Bahkan mereka yang kembar sekalipun. Keunggulan itulah yang seharusnya terus dikembangkan dan dijadikan kebanggaan sekaligus menjadi alasan mengapa kita harus tetap saling melengkapi satu sama lain.
Walaupun adanya golongan warisan Nabi Luth itu memang benar adanya, rasanya kita sudah bukan anak kecil lagi yang ketika kita mengetahui ada hal yang aneh atau bertentangan dengan kewajaran, kita langsung men-judge dan mengasingkan pelakunya. Kita sudah dewasa. Dewasa dalam arti sebenarnya. Dewasa dalam hal berpikir dan menghargai perbedaan yang muncul di sekeliling kita. Meskipun perbedaan itu bertentangan dengan berbagai macam norma yang kita anut.

God’s Network


Demam Facebook rasanya belum mau menghilang dari bumi Nusantara ini. Mungkin hampir semua negara di belahan dunia ini juga dijangkiti penyakit biru ini. Dengan adanya wabah inilah, Indonesia berhasil menembus pencapaian sehingga muncul di antara jajaran daftar tangga teratas pengguna Facebook. Indonesia menempati posisi ke 3 pengguna Facebook terbanyak di dunia. (Tetapi aku tak terlalu bangga dengan ’prestasi’ ini). Uniknya, kabar yang aku dapat kalau Amrik baru saja merilis film yang terinspirasi dari pendirian Facebook. Film itu berjudul The Social Network. Anehnya, Mark Zuckerberg tak mau menonton film tersebut dengan alasan materi film itu terlalu banyak dimanipulasi sehingga mengaburkan kebenaran sejarah pendiriannya. Nah, bagaimana dengan Indonesia? Biasanya negeri seribu pulau ini tak mau ketinggalan (baca: latah) info up to date dari luar negeri alias ngejiplak karya negeri orang. Indonesia juga membuat film soal jejaring sosial terlaris saat ini. Judulnya Setan Facebook. Baru mendengar judulnya saja, aku langsung tertawa. Bagaimana tidak? Judulnya terlalu lugas dan official posternya setan gondrong dengan mata menyala. Di samping gambar setan tersebut, ada tulisan ’add as friend’ plus embel-embel ’tambahkan dia kalau kamu berani’ (kurang lebih seperti ini, aku lupa bagaimana tulisannya).
Terkadang orang terlalu memuja Zuckerberg kalau dia adalah seniman teknologi yang menciptakan sebuah terobosan berbasis teknologi informasi mutakhir. Dengan ciptaannya itu, orang tak perlu bingung lagi bagaimana berkomunikasi dengan orang lain yang jauh di sana. Tentunya cara berkomunikasi yang unik dan lain daripada yang lain selain melalui telepon atau saling berkirim pesan singkat. Akhirnya mereka menemukan jejaring sosial tersebut sebagai jawabannya. Aku pun terus terang menikmati kemudahannya bahkan mengaksesnya setiap hari. Tapi, pernahkah terlintas di benak kalian semua kalau suatu saat nanti akan menjumpai masa bosan facebookan? Atau bahkan saat ini sudah mulai nampak gejalanya?
Semua ciptaan manusia memang ada kalanya membosankan. Secanggih apapun, seup date apapun, sebagus apapun. Cepat atau lambat. Ada saat gencar-gencarnya menikmati mengakses teknologi, entah itu PDA, ponsel, netbook, tablet, atau jaringan Wi-Fi, tapi satu dua tahun lagi akan jenuh dengan benda-benda pengusir rasa bosan itu. Niatnya ingin mencari yang lebih baru, lebih canggih dan lebih menjanjikan kesenangan tiada batas. Begitulah tagline iklan-iklan teknologi yang ujung-ujungnya tetap saja ’mengingkari’ janjinya dalam hitungan tahun bahkan bulan. Secanggih Facebook, masih canggih jaringan Tuhan. Aha, tentu saja demikian. Tuhan ya Tuhan, sedangkan Zucerberg hanyalah manusia. Anak TK pun tahu. Barangkali kamu berpendapat demikian. Namun, hanya sekedar tahukah? Bagaimana dengan pengaplikasiannya? Sekali, dua kali atau nol kah? Jawab saja ya. Padahal, jaringan Tuhan justru lebih canggih. Demikianlah pak kyai menjelaskan sekaligus menerjemahkan kelebihan Tuhan dibanding Zuckerberg.

Pernahkah kamu melakukan sholat Dhuha? Namun pernahkah juga merasakan kalau kamu sering melaksanakannya akan tetapi rezeki kok tak kunjung datang kepadamu? Aha. Beginilah jaringan Tuhan. Tuhan itu tak akan mengingkari janjinya. Innallaha yukhliful mii’aad. Terlebih lagi, Tuhan juga tak akan membiarkan hamba-Nya kecewa apabila mereka telah berharap, berusaha dan berpasrah kepada-Nya. Tuhan memang tak memberikan rejeki-Nya secara langsung kepadamu. Namun, tahukah kamu kalau Ia menganugerahkannya kepada ayahmu, ibumu, adikmu, kakakmu, atau nenek kakekmu? Sehingga, di saat yang tak terduga, mereka memberimu rejeki di saat kamu benar-benar membutuhkannya. Dan rejeki itu bukan hanya berupa materi alias uang alias fulus. Kasih sayang orang tua dan keluarga yang begitu mahal harganya (yang tak semua orang bisa merasakannya) termasuk rejeki yang telalu mahal jika dikonversikan menjadi materi belaka.
Di sisi lain, kamu selamat dari suatu musibah. Padahal kamu sadar kalau kamu selalu lupa membaca doa selamat setelah beribadah maupun saat akan bepergian keluar rumah. Tahukah rahasia di balik ini semua? Ayah ibumu tak pernah lupa menyebut namamu dengan doa selamat di akhir ibadah mereka.
Inilah jaringan Tuhan yang akan selalu canggih dan up to date. Tak kan pernah ada manusia yang bisa menandingi atau hanya sekedar menyamai jaringan sosial Tuhan ini. Dan yang lebih penting, bagi siapapun yang percaya akan adanya keajaiban di balik nama Tuhan, mereka tak akan pernah atau merasa bosan dengan jaringan yang satu ini. Pertanyaannya, mengapa orang-orang masih suka melupakan jaringan Tuhan dan lebih asyik mengakses jaringan Zucerberg?

Senin, 18 Oktober 2010

The Blinds

Apakah yang bisa kita dapat dari orang buta?

Menatap keduanya sesungguhnya aku tak tega.seorang ayah bersama seorang putrinya yang sama sama buta.keduanya naik bus yang aku tumpangi.bermodalkan tongkat sebagai 'penunjuk arah',keduanya berjalan tertatih untuk memperoleh tempat duduk di sebelah belakang yang mulai penuh.
Ketika bus sampai di daerah Karanganyar,keduanya tiba tiba muncul di samping tempat aku duduk.mereka berdiri seolah tak merasakan getaran dan goncangan bus yang cukup kuat.sang ayah berkata pelan,mereka ingin diturunkan di depan toko ini oleh pak sopir.sesaat setelah bus berhenti,keduanya turun dari bus dengan dibantu kernet bus.sambil menjejakkan kaki menuruni tangga,keduanya mengucapkan terima kasih (hampir bersamaan) kepada pak sopir yang juga sedang memperhatikan mereka turun.
Aku sempat terhenyak.tak mungkin aku salah dengar apa yang mereka barusan katakan,sebab aku duduk di barisan nomor dua dari depan.

Lalu,bagaimanakah dengan kita?
Sudahkah kita mengucapkan terima kasih kepada orang orang yang telah membantu hidup kita hingga saat ini?

My Beloved Grandma

Untuk nenekku yang mencintaiku dengan caranya sendiri...

Tentang pagi itu.ia hanya menangis mengetahui kepulanganku ke Purwokerto pada hari itu.ia meratapi dengan kesedihan pilunya seolah aku akan pergi untuk selama-lamanya.aku masih ingat betul,tangan kananku ia ciumi dengan ciuman keibuannya.bahkan air matanya pun membasahi punggung tanganku.

Aku bingung harus berkata apa lagi saat itu.
Nenek sempat berkata,ia ingin memiliki panjang umur hingga dapat menyaksikan aku memiliki anak yang bisa ia timang.
Tentang nenekku yang mencintaiku dengan caranya sendiri...

Aku berjanji,aku akan membuatmu bangga suatu hari nanti.