Mengapa kaki manusia panjangnya rata-rata hanya satu meter saja? Tidak seperti kaki Jerapah yang bisa lebih dari dua meter ?
Juga mengapa loncatan manusia normal rata-rata hanya bisa dua meter saja ? tidak seperti rusa yang bisa meloncat lebih dari lima meter.
Jawabannya, supaya manusia selalu membuat langkah kecil dalam kehidupannya, bukan meloncat-loncat seperti rusa atau jerapah.
Perhatikan, rahasia keberhasilan manusia sesungguhnya adalah bagaimana ia mampu untuk terus maju melangkah kecil dalam hidupnya, tapi setiap langkah kecil yang dibuat harus ditujukan untuk mencapai sebuah "loncatan besar" di dalam kepalanya, meskipun ia dalam keadaan sesukar apapun.
Akan tetapi kebanyakan manusia melakukan sebaliknya, mereka mencoba meloncat-loncat besar seperti seekor rusa, akan tetapi di dalam kepalanya hanya ada loncatan kecil saja. Artinya manusia ingin "sekali jadi " dalam meloncat meraih keberhasilan, kemudian berhenti melangkah ketika tidak tercapai, dan berhenti ketika semua menjadi berat.
Kesimpulannya, rahasia sukses adalah teruslah melangkah meskipun kecil, tapi tetap gigih, dan pelihara "loncatan besar" di dalam fikiran. Dan terus yakini dengan hati bahwa kita bisa meraihnya. Tidak ada resep khusus. Tidak perlu manusia cerdas, cukup satu kata GIGIH !
When the gets going tough, the tough gets going.
(ketika semua menjadi tough, maka yang tough terus berjalan)
Bismillahi Tawakkaltu Allallah, Laa haula walaa quwwata illa billah !
" SESUNGGUHNYA KAMU MELALUI TINGKAT DEMI TINGKAT DALAM KEHIDUPAN " (Al-insyiqaq:19)
Kamis, 29 Maret 2012
Minggu, 25 Maret 2012
Un Dia Sin Ti
Gerimis itu kuibaratkan sebagai dandelion.
Yang ditebarkan oleh para malaikat kecil di bawah surga sana.
Dengan bulu halusnya, seolah ingin menyapa manusia betapa halusnya rahmat dan karunia Sang Kuasa.
Dan demi waktu dandelion itu terbang mengarak senja, kutemukan celah Ia memberiku satu masa yang paling bermakna sejalan tiga putaran bulan.
Rupanya rahmat-Nya tak hanya soal makan, sehat, rejeki, iman atau intan belaka, namun seseorang yang mampu menyeret gerimis semendung apapun menjadi senja berlembayung jingga merah dwiwarna.
Batinku, ingin kuulang meratap dibawah hamburan dandelion rahmat-Nya itu, dengan kehadiran dan senyumannya tentu saja.
Bukankah orang bilang, menangislah di bawah hujan agar orang tak tahu seberapa banyak air mata yang mengalir dari kedua matamu?
Deminya, tak layak dengan menaburinya air mata. Harapan saja kurasa cukup.
Toh, Dia lebih pandai pun lihai menyusun kejutan untuk umat-Nya.
Selama aku menunggu dan menerka, tiada menghampiriku satu dari kejutan-Nya.
Biarkan saja Dia merangkai skenario-Nya.
Namun, pabila buah ideku diterima, kejutan di bawah taburan mesra dandelion surga pastilah lebih memerahkan senja dan menggelapkan awan hujan.
Bukan perkara yang pertama, sekali saja manusia pun sepakat itu tak seberapa.
Setidaknya, seperti kukatakan di atas: berharap saja sudah cukup, pun berharap tak berdosa.
Dan diam diam sedikit menerka pada dandelion ke berapa Ia meracaukan senja dan guntur dari arah utara.
Sebelum suatu hari tanpanya, setidaknya tak berdosa jika tetap berasa.
Yang ditebarkan oleh para malaikat kecil di bawah surga sana.
Dengan bulu halusnya, seolah ingin menyapa manusia betapa halusnya rahmat dan karunia Sang Kuasa.
Dan demi waktu dandelion itu terbang mengarak senja, kutemukan celah Ia memberiku satu masa yang paling bermakna sejalan tiga putaran bulan.
Rupanya rahmat-Nya tak hanya soal makan, sehat, rejeki, iman atau intan belaka, namun seseorang yang mampu menyeret gerimis semendung apapun menjadi senja berlembayung jingga merah dwiwarna.
Batinku, ingin kuulang meratap dibawah hamburan dandelion rahmat-Nya itu, dengan kehadiran dan senyumannya tentu saja.
Bukankah orang bilang, menangislah di bawah hujan agar orang tak tahu seberapa banyak air mata yang mengalir dari kedua matamu?
Deminya, tak layak dengan menaburinya air mata. Harapan saja kurasa cukup.
Toh, Dia lebih pandai pun lihai menyusun kejutan untuk umat-Nya.
Selama aku menunggu dan menerka, tiada menghampiriku satu dari kejutan-Nya.
Biarkan saja Dia merangkai skenario-Nya.
Namun, pabila buah ideku diterima, kejutan di bawah taburan mesra dandelion surga pastilah lebih memerahkan senja dan menggelapkan awan hujan.
Bukan perkara yang pertama, sekali saja manusia pun sepakat itu tak seberapa.
Setidaknya, seperti kukatakan di atas: berharap saja sudah cukup, pun berharap tak berdosa.
Dan diam diam sedikit menerka pada dandelion ke berapa Ia meracaukan senja dan guntur dari arah utara.
Sebelum suatu hari tanpanya, setidaknya tak berdosa jika tetap berasa.
Rabu, 21 Maret 2012
Rancak Bana

Wah ada tempat baru yang asyik buat nongkrong internetan gratis! Adalah sebuah masjid baru milik Universitas Muhammadiyah yang terletak di sebelah timur kampus terbesar di Purworejo ini. Masjid ini terletak di lantai 3 dari bangunan yang diresmikan tahun 2011 ini. Awalnya aku sedikit kecewa lantaran hotspotan di tempat ini berkode. Terlebih, mengingat ini adalah masjid kampus, maka kode hotspot tersebut biasanya dimiliki secara pribadi oleh mahasiswa. Menyebalkan sekali kedengarannya memang. Namun semuanya itu tak seburuk dugaanku. Berterima kasihlah aku seharusnya kepada tukang siomay. Hah?
Awalnya, aku membeli siomay kemarin sore di depan rumah pak Dawud. Saat itulah aku bertemu dengan anak pondok yang aku hafal orangnya namun tak tahu namanya. Aku nekad saja menegur dia dengan bekal aku tahu dia adalah anak UMP. Setelah basa basi sejenak, aku bertanya soal kode hotspot di masjid UMP. Alhamdulillah dia tahu kodenya. Kode tersebut memang agak sulit dihafal karena perpaduan acak antara nomor dan huruf. Oleh sebab itulah aku memintanya untuk menuliskan kode keramat itu di sebuah kertas. Yes, kode itu kini sudah aku kantongi dan aku bisa mencoba keaslian kode itu langsung!
Setelah Maghrib, sore ini juga, aku makan di warteg mbah langgananku. Sekira setengah jam menjelang Isya', aku berangkat ke masjid termewah itu. (Bagaimana tidak mewah? bangunan tempat ibadah umat Islam sudah dilengkapi dengan konektivitas hotspot! Sebuah pencapaian yang tak boleh dianggap remeh). Sesampainya di atas, kucoba beberapa kali belum juga logged in. Ini pasti ada yang tidak beres. Kutanya kepada seseorang yang sedang online memakai laptop. Ternyata username nya adalah mahasiswa, sedangkan password keramat tadi benar adanya.
Wah acara online jadi lancar begini. Apalagi aku sudah kenal dengan takmir masjidnya. Dia berasal dari Kuningan dan mempersilahkanku online di sini. Anggap saja rumah sendiri.
Bayangkan saja, masjid seluas ini, dilengkapi fasilitas hotspot dan hanya akulah yang menguasainya. Orang Padang bilang, "Rancak Bana"
Selasa, 20 Maret 2012
Ganglion Langit Dari Rinai Gerimis Sore Tadi

Ketika kemarin aku berdoa kepada Tuhan agar aku tidak akan pernah mengenalnya dari balik mega merona maupun di akhir senja,
Ketika kemarin aku berdoa kepada Tuhan agar menetapkanku pada ketidakingintahuan supaya aku bisa berkelana lebih jauh dengan imajinasi liarku, memburu deru tanpa ragu oleh apapun itu,
Ketika kemarin aku berdoa kepada Tuhan agar aku tak diberi pengetahuan sedikit pun tentang dia, entah dia seharum jasminum, secerah hibiscus, semanis saccharum, sepahit tinosporae, atau sehangat elengi, maupun setegar catappa,
Ketika kemarin aku berdoa kepada Tuhan agar Dia memberikan jarak antara aku dan dia, supaya semuanya bermain pada kekuatan pikiran dan kreasi demi fantasi hati yang tiada bertepi,
Ketika kemarin aku berdoa kepada Tuhan agar harapan-harapanku itu semua terkabul, biar aku sanggup mengetahui sejauh mana karya kebutaanku bisa muncul, tanpa kaca mata, tanpa tongkat, tanpa lasik, tanpa donor retina, tanpa lensa, tanpa apapun jua,
Ketika kemarin aku berdoa kepada Tuhan agar semuanya tetap berkabut dan dingin, tidak memunculkan mentari apalagi cericit burung parkit yang menyambut cahaya kehangatan di setiap sudut langit, -biarkanlah semuanya membeku dan takkan mencair-
Ketika kemarin aku berdoa kepada Tuhan agar selalu memalingkan wajahku kepada Venus dan wajahnya kepada Saturnus, dua arah yang berlawanan, tak ada sejarah untuk bersua maupun bertegur sapa, apalagi alasan mengingkari orbit,
Rupanya penolakan Tuhan adalah cara-Nya memberitahuku bahwa aku ada di jalan yang salah,
Dan Dia menaburiku dengan ganglion langit yang berhamburan di bawah rinai gerimis di sore hari tadi,
Jumlahnya bahkan menumpuk & memeluk harapanku yang jauh di lubuk,
Apalagi, ganglion itu bisa kusimpan di sela buku dan kulihat tiap saat kapanpun sempat,
Kini aku tahu mengapa Ia menolak doaku waktu itu.
Orang Kota Pun Bisa Jadi Memalukan II

Ada satu cerita tentang pengalamanku di Purbalingga yang terlewatkan, sehingga perlu kuceritakan di sini.
Salah satu alasan mengapa aku bersedia berkunjung ke rumah si Husen nun jauh di atas pegunungan adalah dia berkata ada pohon teh di sekitar rumahnya. Karena penasaran seperti apa tanaman yang saban pagi kunikmati hasil olahannya itu, aku bersedia memburu ke sana. Singkat cerita, aku sedikit kecewa lantaran kenyataan tak sesuai dengan harapan. Pikirku, belakang rumahnya adalah perkebunan teh maha luas seperti di sinetron-sinetron yang syuting di Puncak itu. Ternyata rumahnya dikelilingi oleh rimba dan tanaman teh yang ia janjikan hanyalah satu buah pohon teh di samping rumahnya. Pohonnya tinggi dan bisa dipastikan itu beda varietas dengan tanaman teh budidaya yang sering kita lihat di televisi itu. Daun-daunnya lebih besar dan mengkilat serta kaku bila dipegang. Karena sedikit kecewa, aku pun minta konfimasi dengan Husen, mengapa "hanya" ada satu buah pohon teh, bukan perkebunannya? Dia menjawab, "Bukankah kemarin kubilang ada pohon teh (bukan perkebunnnya)?"
Owalah...
Tidak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada perkebunan teh, pohon teh pun jadi. Karena sudah kerasukan rasa penasaran akut, akhirnya aku petik satu buah daun teh yang paling hijau dan segar. Kukunyah langsung seperti kambing mengunyah rerumputan. Kembali, aku diliputi rasa kekecewaan, nyatanya rasa daun itu tak berasa teh sama sekali. Hambar seperti tak makan apapun. Aku pun protes lagi kepada Husen, bagaimana daun teh tak berasa teh?
Dia malah menertawakanku sebelum memberikan jawaban. Setelah mereda tawanya akibat kekonyolanku, dia menjawab, kalau daun teh itu harus melewati serangkaian proses olahan sebelum dikonsumsi, bukan dimakan langsung begitu.
Wah ternyata masih banyak yang harus kupelajari.
Senin, 19 Maret 2012
Orang Kota Pun Bisa Jadi Memalukan I

Sore ini bulik membeli gula kemasan. Iseng-iseng sambil duduk santai, aku melihat lihat bagaimana metode penjualan gula yang semula hanya dibungkus plastik sederhana dan diikat karet gelang, kini sudah bertransformasi menjadi gula bening dibungkus dengan plastik premium yang mengkilat luar biasa warna warninya. Pada bungkus gula itu, kulihat terdapat gambar seorang ibu memegang cawan berisi gula, lengkap dengan background perkebunan tebu yang lebat, siap panen sepertinya. Hanya karena melihat inilah, saya jadi ingat dulu ketika masih kecil. Waktu itu saya sedang berlibur ke desa. Kebetulan pas ada panenan tebu. Aku, adik dan paman bermain ke sawah untuk sekedar melihat-lihat penduduk desa yang sedang memanen tebu mereka.
Mereka kebanyakan tak mengenalku karena aku memang lama tinggal di kota dan jarang terlihat di desa, kecuali jika musim liburan seperti saat itu. Jadi mereka bertanya tanya, siapa aku. Waktu itu aku malu untuk menjawab, jadi pamanlah yang menjawab. Nah, setelah mereka tahu aku adalah kakak dari adikku, mereka memberi kami berdua sebatang tebu sebagai hadiah penyambutan kedatanganku ke desa. "Nang kutho ora bakal ono koyo ngene Gus", begitulah komentar mereka.
Merasa asing dengan tebu dan bagaimana cara menikmatinya, aku pun hanya memandangi benda yang masih baru dipotong dari lahannya itu. Aku bertanya, bagaimana cara makan tebu? Bilamana batangnya sekeras ini, bisa lepas gigi susuku kalau nekat melakukan aksi debus melawan tebu.
Rupanya adikku lebih pintar dari aku. Ia mengajariku bagaimana menikmati rasa manis di setiap sesapan dan gigitan di ujung potongan batang tebu. Aku pun menirunya, meski dalam hatiku aku bergumam, "Ini adalah aksi aneh pertama dalam hidupku soal tebu. Kalau ibuku tahu aku melakukan ini, ia pasti marah tak kepalang tanggung melihat aksiku ini"
Wakil Tuhan

Tuhan 'kan nggak mungkin
langsung sedekah ke orang-orang, ya kalianlah sedekah duit kalau punya duit, sedekah ilmu kalo punya ilmu, sedekah
senyum (kebangetan kalo ga punya senyum).
Masa sih kalau sudah gitu
Tuhan gak bales cintamu? Tapi gak mungkin lah Dia belai-belai langsung rambutmu atau sentuh
bibirmu.
Maka Tuhan ciptakan
“wakil”nya, yaitu pacarmu.
Maka berdoalah, “Ya Tuhan,
semoga pacarku ini betul-betul orang yang Kau pilihkan
untukku”.
(Don Tedjo Corleoncuk aka
Sujiwo Tedjo)
